Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Fenomena Flexing: Budaya Pamer yang Diam-Diam Mengubah Cara Kita Melihat Hidup

Widodo • Selasa, 16 Desember 2025 | 15:10 WIB

Sekilas terlihat glamor, tapi di balik satu foto bisa ada banyak cerita. Flexing di media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik, bukan keseluruhan hidup
Sekilas terlihat glamor, tapi di balik satu foto bisa ada banyak cerita. Flexing di media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik, bukan keseluruhan hidup

RADARBONANG.ID – Di era ketika kamera depan ponsel lebih sering terbuka daripada dompet, ada satu istilah yang makin akrab di linimasa media sosial hingga obrolan warung kopi: flexing.

Kata yang dulu hanya populer di komunitas rapper Amerika ini kini menjelma menjadi budaya pop masyarakat digital Indonesia.

Dari unggahan outfit of the day, pamer gawai terbaru, hingga liburan mewah, flexing seolah menjadi bahasa baru untuk menunjukkan eksistensi.

Namun, apa sebenarnya flexing itu? Mengapa perilaku pamer ini terasa semakin masif, terutama di kalangan anak muda? Dan bagaimana dampaknya terhadap cara kita memandang hidup, kesuksesan, dan kebahagiaan?

Baca Juga: Bocoran Galaxy S26 Ultra Menguat, Koneksi Satelit Disebut Jadi Fitur Andalan Baru

Apa Itu Flexing?

Secara sederhana, flexing adalah perilaku memamerkan sesuatu—baik barang mewah, status sosial, pencapaian, maupun gaya hidup—untuk menunjukkan keunggulan diri dibanding orang lain.

Media sosial menjadi medium paling subur bagi praktik ini karena setiap unggahan berpotensi mendapat perhatian luas.

Cambridge Dictionary mendefinisikan to flex sebagai tindakan memamerkan sesuatu agar terlihat mengesankan.

Sejumlah peneliti budaya digital juga mencatat bahwa flexing meningkat seiring perubahan fungsi media sosial: dari ruang berbagi menjadi panggung pertunjukan.

Kehidupan pribadi dipoles sedemikian rupa agar tampak “wow”, menarik, dan layak dikagumi.

Kenapa Flexing Jadi Tren?

Flexing sejatinya bukan hal baru. Dulu, pamer dilakukan lewat jam tangan mahal, pesta besar, atau cerita dari mulut ke mulut. Kini, semuanya berpindah ke layar.

Pertama, algoritma yang menguntungkan tampilan glamor. Konten yang menampilkan kemewahan, perjalanan eksklusif, atau pencapaian spektakuler cenderung mendapat engagement tinggi.

Likes dan komentar menjadi “mata uang” baru yang mendorong orang mengulang pola pamer.

Kedua, kebutuhan akan pengakuan. Psikolog menyebut validasi digital—likes, komentar, dan share—memberi sensasi menyenangkan yang mirip hadiah nyata. Flexing menjadi jalan pintas untuk meraih pengakuan tersebut.

Ketiga, tekanan sosial. Saat teman memamerkan mobil baru atau makan di restoran mahal, standar sosial pun ikut bergeser.

Tanpa disadari, banyak orang merasa harus ikut “naik level” agar tidak dianggap tertinggal.

Flexing di Tuban: Panggung Kecil, Dampak Nyata

Perkembangan kota Tuban ikut menciptakan arena flexing tersendiri. Kafe estetik, pusat perbelanjaan baru, hingga sudut-sudut kota yang “Instagramable” kerap dijadikan latar pamer gaya hidup.

Seorang barista di salah satu kafe hits Tuban mengaku sering melihat pengunjung yang lebih sibuk berfoto daripada menikmati minuman. “Pesannya yang paling murah, tapi foto-fotonya lama sekali. Yang penting feed-nya bagus,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa flexing tidak selalu soal kemampuan finansial, melainkan soal citra. Tampilan bisa lebih penting daripada kenyataan.

Dampak Flexing: Antara Hiburan dan Tekanan

Tidak semua flexing berdampak negatif. Ada yang menjadikannya motivasi atau konten kreatif. Namun, saat batasnya kabur, dampak sampingan mulai terasa.

Standar hidup jadi tidak realistis. Konten pamer hanya menampilkan potongan terbaik dari hidup seseorang, membuat orang lain merasa hidupnya kurang menarik.

Perbandingan sosial meningkat. Paparan glamor terus-menerus dapat memicu kecemasan dan ketidakpuasan diri, terutama pada remaja.

Risiko perilaku menyimpang. Tekanan untuk terlihat sukses kadang mendorong orang mengambil jalan pintas, dari berutang berlebihan hingga terjerumus penipuan demi menjaga citra.

Baca Juga: Redakan Maag Tanpa Obat, Ini Tips yang Disarankan Ahli

Flexing Tidak Salah, Asal Tahu Batas

Flexing baru menjadi masalah ketika hidup dijalani demi kamera, bukan kenyamanan; ketika barang dibeli demi konten, bukan kebutuhan; dan ketika pencapaian dipaksakan meski mengorbankan kesehatan mental.

Sosiolog menyebut kondisi ini sebagai “inflasi identitas”: penampilan luar terus ditingkatkan agar dianggap berharga.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah sorotan. Tidak semua bagian hidup harus dipamerkan. Sebab, kebahagiaan sejati sering kali justru lahir dari hal-hal yang tak pernah masuk ke dalam feed. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#fenomena media sosial #flexing #tekanan sosial anak muda #budaya flexing #pamer di media sosial