Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Boros Tanpa Disadari! 7 Kebiasaan Sehari-Hari yang Diam-Diam Menguras Dompet, dari Jajan Receh sampai Ongkir Murce

Arinie Khaqqo • Jumat, 12 Desember 2025 | 19:15 WIB

ilustrasi
ilustrasi

RADARBONANG.ID – Banyak orang merasa sudah hidup hemat: jarang nongkrong, tidak beli barang mahal, dan berusaha mengatur belanja bulanan.

Namun begitu akhir bulan datang, saldo kembali menipis tanpa alasan yang jelas. Dompet seperti bocor halus—tidak terasa, tapi tetap habis juga.

Fenomena ini belakangan disebut para ekonom perilaku sebagai silent spending habit, yakni kebiasaan kecil yang terlihat sepele tetapi terjadi terus-menerus hingga menyebabkan pengeluaran membengkak.

Menariknya, silent spending ini lebih sering terjadi di kota besar, terutama di kalangan pekerja muda.

Baca Juga: Tren Film Pendek Meledak di Media Sosial: Simple, Pendek, tapi Bikin Nangis Sejam!

Lingkungan yang serba praktis, akses belanja digital, dan godaan promo membuat kebiasaan kecil menjadi rutinitas yang sulit dihentikan.

Berikut sejumlah kebiasaan yang diam-diam membuat pengeluaran bulanan meningkat tanpa disadari.

1. Jajan Rp 10–15 Ribu, Tapi Berulang Tiap Hari

“Cuma minum manis 12 ribu, cuma roti 10 ribu.” Padahal, frekuensinya terjadi 2–3 kali dalam sehari. Jika dihitung, kebiasaan ini bisa menyentuh ratusan ribu hingga satu juta rupiah per bulan.

Secara psikologis, jajan kecil memberi dopamine cepat yang membuat otak merasa mendapat “reward” singkat. Ketika stres atau lelah, tubuh mencari sensasi ini lagi. Akibatnya, jajan receh terasa normal, padahal akumulasi totalnya signifikan.

2. Ongkir ‘Murce’ yang Kelihatannya Ringan, tapi Menumpuk

Ongkos kirim Rp 5–9 ribu dianggap murah. Namun dalam banyak kasus, ongkir justru lebih mahal dibanding harga barangnya. Misalnya barang 8 ribu, ongkir 7 ribu. Masalah muncul ketika pembelian kecil ini dilakukan berkali-kali.

Jika checkout tiga kali seminggu saja, itu berarti 12 kali ongkir dalam sebulan. Totalnya bisa menyamai harga satu kali makan restoran. Inilah jebakan umum belanja online.

3. Langganan Aplikasi yang Murah… Kalau Satu. Kalau Banyak? Tidak.

Aplikasi hiburan Rp 49 ribu, aplikasi musik Rp 25 ribu, aplikasi editing Rp 15 ribu. Jika berdiri sendiri, semua ini rasanya ringan. Namun ketika beberapa layanan berjalan bersamaan, total langganan bulanan bisa mencapai Rp 100–300 ribu.

Masalah makin besar ketika pengguna lupa mematikan trial gratis atau tidak sadar fitur auto-renew menyedot saldo tiap bulan.

4. Belanja di Minimarket karena ‘Sekalian Lewat’

Niat awal hanya membeli air mineral, tapi pulang membawa snack, kopi dingin, permen, hingga es krim. Ini disebut small indulgence trap, jebakan perilaku yang umum di minimarket.

Produk kecil yang ditaruh dekat kasir dirancang agar mudah diambil tanpa berpikir panjang. Alhasil, rata-rata pelanggan mengeluarkan uang lebih banyak daripada rencana awal.

5. Jajan Online karena Lapar Mata

Buka aplikasi makanan “cuma lihat-lihat”, tapi berakhir checkout. Visual makanan di aplikasi dirancang untuk memicu impuls belanja.

Biaya lain seperti platform fee, kemasan, dan ongkir membuat jumlah total belanja lebih besar dari harga makanan itu sendiri.

Dalam sebulan, kebiasaan “sekali-sekali” ini bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah tanpa sadar.

6. Beli Barang Kecil yang Sebenarnya Sudah Punya

Peniti, ikat rambut, gunting kecil, colokan, hingga cable data—semua murah dan mudah hilang. Karena harganya terjangkau, orang cenderung langsung membeli lagi.

Akibatnya, rumah penuh barang ganda, sementara uang perlahan terkuras.

Kebiasaan ini disebut duplicate spending, pengeluaran yang muncul akibat kurang rapi dalam mengelola barang di rumah.

7. Bayar Non-Tunai yang Membuat Pengeluaran Tidak Terasa

Pembayaran digital mempermudah hidup, tapi sekaligus membuat orang sulit menyadari jumlah pengeluaran aktual.

Menyentuh layar terasa lebih ringan daripada menyerahkan uang fisik. Ini membuat pengeluaran kecil terasa tidak signifikan.

Tidak heran, banyak orang baru terkejut saat menerima laporan bulanan dari e-wallet atau bank.

Baca Juga: Industri Tumbuh, Sawah Tetap Menghidupi: Pertanian Kuasai Penyerapan Tenaga Kerja Tuban

Mengapa ‘Boros Receh’ Sulit Dihentikan?

Otak manusia secara alami lebih fokus pada pengeluaran besar, bukan pengeluaran kecil. Padahal pengeluaran kecil lebih sering terjadi dan efeknya menumpuk.

Selain itu, iklan, promo cashback, gratis ongkir, hingga tampilan aplikasi dibuat agar orang lebih mudah tergoda.

Konsumsi kecil terasa aman dan tidak berat, padahal di baliknya ada akumulasi besar yang menggerus anggaran bulanan.

Cara Mengendalikan Pengeluaran Kecil yang Menguras Dompet

Kebiasaan kecil memang tampak sepele, tetapi jika dibiarkan, dampaknya jauh lebih besar daripada membeli barang mahal sesekali.

Kesadaran atas pola dan frekuensi menjadi kunci agar dompet tetap aman di era belanja digital seperti sekarang. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#jajan receh ongkir murah #boros tanpa sadar #Kebiasaan Boros #silent spending