RADARBONANG.ID – Istilah “delulu is the solulu” belakangan menjadi slogan yang meramaikan linimasa media sosial. Di mata Gen Z, kalimat itu bukan sekadar lelucon, tetapi cara bertahan hidup.
Artinya sederhana: halu adalah solusi. Sedikit berkhayal dianggap sah-sah saja, bahkan berguna, selama dapat meningkatkan semangat menghadapi hidup yang serba tidak pasti.
Fenomena ini muncul dari TikTok, lalu menjalar ke meme, konten humor, dan percakapan sehari-hari.
Contoh ekspresinya bertebaran di komentar dan timeline: meyakinkan diri bahwa gebetan sebenarnya suka balik, percaya bahwa satu video bisa membuatnya terkenal, atau yakin bakal sukses meski tabungan masih hitungan ribuan.
Baca Juga: Tren Film Pendek Meledak di Media Sosial: Simple, Pendek, tapi Bikin Nangis Sejam!
Bagi banyak Gen Z, optimisme berlebihan justru menjadi penopang mental di tengah tekanan yang makin kompleks.
Dari Candaan Ringan Menjadi Pola Hidup
Perkembangan “delulu is the solulu” tidak terjadi secara tiba-tiba. Ungkapan ini lahir dari kultur humor Gen Z yang dekat dengan ironi dan self-awareness.
Beberapa ucapan yang sering dipakai menggambarkan pola pikir itu antara lain: “Dia cuma slow respon, bukan cuek,” atau, “Gaji kecil tidak apa, aku calon sultan.”
Sekilas lucu, tetapi sebenarnya menggambarkan kemampuan kreativitas Gen Z dalam menghadapi realita yang kerap membuat stres.
Tekanan finansial, ketidakjelasan masa depan, hingga masalah emosional membuat banyak anak muda membutuhkan cara unik untuk menjaga kesehatan mental.
Delulu, dalam konteks ini, menjadi bentuk optimisme yang dikemas dalam humor. Mereka tidak menolak kenyataan, tapi menambahkan imajinasi agar hidup terasa lebih ringan.
Delulu: Manifestasi dalam Versi yang Lebih Kasual
Beberapa psikolog melihat fenomena ini sebagai bentuk manifesting versi sederhana. Jika manifesting mengedepankan meditasi, afirmasi, dan konsistensi, delulu tampil lebih santai: percaya dulu, urusan hasil belakangan.
Meskipun terdengar sepele, pola pikir ini tetap bekerja pada otak. Ketika seseor
ang percaya pada peluang, fokus mental mereka bergeser dari rasa takut menuju tindakan positif. Selama tidak terlepas dari realitas, delulu dapat berfungsi sebagai dorongan awal untuk bergerak.
Tetapi Delulu Tetap Punya Batas
Di balik sisi lucunya, delulu menyimpan risiko. Jika digunakan berlebihan, delulu dapat berubah menjadi overconfidence tanpa usaha, kekecewaan karena berharap pada orang yang tidak memberi sinyal, hingga penolakan terhadap kenyataan.
Contoh klasik: “Dia belum balas chat karena ponselnya rusak,” padahal sudah memutus komunikasi sejak lama. Dalam situasi seperti ini, delulu menjadi jebakan emosional.
Dalam Urusan Percintaan, Delulu Bisa Menguatkan atau Menghancurkan
Dunia hubungan modern penuh ketidakjelasan: situationship, no label, dan intensitas komunikasi yang fluktuatif membuat banyak anak muda bingung.
Delulu sering membantu mereka lebih percaya diri dalam PDKT atau mengurangi rasa cemas. Namun bila diarahkan pada harapan yang keliru, delulu berubah menjadi bentuk menyakiti diri.
Gen Z menyadari hal ini, tetapi tetap menggunakan delulu sebagai bumbu humor untuk bertahan dari kerasnya dinamika cinta masa kini.
Baca Juga: Keajaiban Tanduk Caribou: Jaringan Hewan dengan Pertumbuhan Tercepat di Dunia
Delulu Cerdas: Berkhayal yang Dibantu Aksi
Para ahli mengidentifikasi pola “delulu terarah”, yaitu delulu yang disertai langkah konkret.
Prinsipnya sederhana: percaya diri dulu, tetapi tetap bergerak; bermimpi besar, tetapi punya strategi; optimis, tapi siap menghadapi kenyataan pahit.
Delulu terbaik adalah yang memperbesar peluang, bukan menciptakan ekspektasi kosong.
Mengapa Delulu Diperlukan?
Generasi yang tumbuh dalam ketidakpastian membutuhkan mekanisme bertahan hidup.
Delulu menyediakan harapan ketika logika terasa terlalu menekan, memberi keberanian saat diri sendiri meragukan, dan menghadirkan tawa di tengah situasi yang sulit.
Dalam banyak kasus, delulu justru membantu Gen Z mengelola emosi dan menumbuhkan resilensi.
Delulu Is The Solulu? Jawabannya Tidak Hitam Putih
Delulu bukan musuh, tetapi alat. Ia efektif selama tidak menenggelamkan seseorang dalam harapan palsu.
Maka, bermimpi tetap diperbolehkan, bahkan penting. Namun kerja keras tetap menjadi fondasi utama.
Sebab solusi yang sesungguhnya bukan hanya dipikirkan atau dibayangkan, melainkan diperjuangkan. Delulu boleh, tetapi solulu tetap butuh usaha.
Editor : Muhammad Azlan Syah