RADARBONANG.ID – Tren di media sosial selalu datang dan pergi. Ada yang hanya lucu, ringan, dan cepat berlalu.
Namun beberapa tahun terakhir, muncul pola baru yang terasa lebih mengkhawatirkan: tren yang awalnya bersifat hiburan berubah menjadi arena pamer, kemudian tanpa disadari bergeser menjadi perilaku yang mencerminkan penyimpangan sosial.
Pergeseran ini terlihat jelas di TikTok, Instagram, hingga platform berbasis video pendek lainnya.
Di berbagai linimasa, konten pamer kini menjadi konsumsi harian. Mulai dari outfit, haul belanja, skincare mahal, gadget baru, hingga menunjukkan saldo rekening.
Apa yang dulu sebatas hiburan kini berubah menjadi ajang kompetisi tidak resmi: siapa yang paling menarik perhatian dan terlihat hidup paling “wah”.
Baca Juga: Transformasi Desta Jadi Dono Saat Foto Bareng Anak: Mirip Banget dan Bikin Nostalgia Warkop
Dari Tren Biasa ke Flexing: Algoritma Membentuk Kecanduan
Laporan We Are Social & Meltwater 2024 menegaskan Indonesia sebagai salah satu negara paling aktif di media sosial.
Artinya, apa pun yang tampil di timeline mudah menjadi standar perilaku baru. Para psikolog sosial Universitas Indonesia menilai algoritma memegang peran besar dalam memperkuat fenomena ini.
Konten glamor, dramatis, dan ekstrem lebih sering dipromosikan karena memicu respons emosional yang tinggi.
Flexing, yang memadukan estetika dengan sensasi, menjadi bahan bakar sempurna bagi algoritma.
Akibatnya, semakin banyak orang merasa perlu ikut menampilkan hal serupa agar tidak tertinggal secara sosial.
Tekanan Sosial: Flexing Tak Lagi Pilihan, Tapi Kebutuhan
Wawancara dengan sejumlah mahasiswa dan pekerja muda di Tuban menunjukkan tekanan yang sama.
Mayoritas tidak benar-benar ingin pamer, tetapi merasa perlu menunjukkan “versi terbaik” diri mereka agar tidak dianggap kalah oleh lingkungannya.
Seorang mahasiswa semester lima mengaku awalnya hanya mengikuti tren OOTD murah. Lama-lama, ia merasa harus meningkatkan gaya hidup agar tetap dianggap relevan.
Fenomena ini sejalan dengan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sepanjang 2023–2024 yang menyoroti meningkatnya tekanan sosial digital pada remaja.
Budaya membandingkan hidup lewat unggahan orang lain membuat banyak anak muda terjebak persepsi bahwa pencitraan visual lebih penting daripada kesejahteraan pribadi.
Ketika Flexing Melahirkan Penyimpangan Sosial
Pergeseran ini tidak berhenti pada pamer gaya hidup. Di sejumlah daerah termasuk Tuban, kepolisian mengungkap kasus penipuan online, pinjaman ilegal, hingga scamming yang melibatkan remaja.
Salah satu motif kuat yang teridentifikasi adalah kebutuhan untuk mempertahankan gaya hidup yang terlihat mewah di media sosial.
Direktorat Tindak Pidana Siber Polri (Bareskrim) dalam rilis resminya tahun 2023–2024 menyebut bahwa sebagian pelaku kejahatan digital usia muda terpengaruh oleh gaya hidup berlebihan yang mereka lihat secara konsisten.
Validasi digital berubah menjadi kebutuhan, sementara realita ekonomi tidak mampu mengimbangi ekspektasi.
Realita vs Ekspektasi: Distorsi Identitas Digital
Menurut seorang sosiolog dari Universitas Airlangga, fenomena ini dapat dikategorikan sebagai distorsi identitas digital—kondisi ketika citra yang ditampilkan secara online jauh berbeda dari kehidupan nyata. Ketidaksinkronan inilah yang memicu perilaku kompulsif, seperti:
-
memalsukan status ekonomi,
-
belanja impulsif menggunakan pay later,
-
berutang demi konten,
-
membuat video ekstrem demi engagement,
-
atau memproduksi persona palsu untuk mendapat atensi.
Penyimpangan sosial generasi saat ini tidak selalu berupa tindakan kriminal besar. Terkadang muncul dalam bentuk pelanggaran kecil yang berulang dan berpotensi merusak masa depan finansial maupun psikologis.
Media Sosial Menjadi Ruang Baru Perilaku Sosial
Jika dulu penyimpangan sosial dibahas di buku sosiologi, kini ia muncul sehari-hari di explore page.
Menariknya, flexing tidak selalu negatif. Bagi sebagian orang, konten orang lain bisa memotivasi untuk bekerja lebih keras dan memperbaiki kualitas hidup.
Namun masalah muncul ketika kebutuhan “terlihat berhasil” lebih diutamakan dibanding proses mencapainya.
Ketika pencitraan mengalahkan kenyataan, ketika sorot kamera menentukan gaya hidup, dan ketika validasi eksternal menjadi alasan setiap keputusan finansial, maka tren yang awalnya sederhana berubah menjadi tekanan sosial yang nyata.
Jadi, Flexing Itu Salah? Tidak Selalu, Tapi…
Flexing bukan tindakan yang otomatis salah. Namun ia menjadi masalah saat berubah menjadi standar sosial yang terus menekan diri sendiri.
Ketika pamer menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Ketika hidup diatur demi menjaga citra digital, bukan demi kenyamanan pribadi.
Pada akhirnya, pertanyaan yang penting diajukan bukan “boleh flexing atau tidak”, tetapi: apakah kita masih memegang kendali atas diri sendiri, atau diam-diam kita sedang dikendalikan oleh validasi orang lain?
Editor : Muhammad Azlan Syah