RADARBONANG.ID - “Rentang Kisah” karya Gita Savitri Devi menjadi salah satu memoar Indonesia yang paling banyak dibicarakan beberapa tahun terakhir.
Buku ini menggabungkan pengalaman pribadi, refleksi hidup, serta perjalanan emosional seorang anak Indonesia yang merantau ke Jerman.
Tidak hanya menceritakan pengalaman akademik, Gita membahas proses pendewasaan, hubungan keluarga, tekanan hidup, dan pencarian jati diri.
Inilah yang membuat buku ini terasa dekat bagi banyak pembaca muda.
Memoar ini layaknya percakapan jujur antara teman dekat: apa adanya, tanpa filter, dan tanpa upaya dibuat terlihat sempurna. Itulah daya tarik terbesarnya.
Kejujuran sebagai Fondasi Cerita
Gaya penceritaan Gita terasa ringan dan apa adanya. Ia tidak berusaha menciptakan citra diri tertentu.
Masa kecil yang penuh tuntutan akademik, tekanan keluarga, hingga rasa tidak aman yang ia rasakan ketika tinggal di negara asing, semuanya disampaikan secara terbuka.
Kejujuran ini membuat pembaca merasa diperbolehkan untuk tidak selalu kuat, tidak selalu tahu arah hidup, dan tidak harus menjadi versi sempurna dari diri sendiri.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah bagaimana Gita menulis rasa takut dan kegagalan dengan sangat manusiawi.
Ia mengakui bahwa proses belajar bahasa, menyesuaikan diri dengan budaya Eropa, serta menghadapi diskriminasi adalah pengalaman yang tidak mudah.
Namun ia juga menekankan bahwa semua proses itu membantu membentuk dirinya seperti sekarang.
Perjalanan Pendidikan di Luar Negeri: Antara Ekspektasi dan Realita
Bagi pembaca yang ingin memahami kehidupan mahasiswa Indonesia di luar negeri, buku ini menyajikan sudut pandang yang realistis.
Gita menggambarkan betapa sulitnya pendidikan di Jerman yang menuntut kemandirian penuh.
Tidak ada sistem yang “memanjakan” mahasiswa. Segala kebutuhan akademik harus diurus sendiri, mulai dari administrasi sampai kehidupan harian.
Ia juga membahas tekanan belajar di jurusan kimia yang tidak mudah.
Kegagalan ujian, stres, dan proses bangkit menjadi bagian penting dalam narasi buku ini.
Alih-alih memoles cerita agar tampak mulus, Gita justru menampilkan kenyataan bahwa hidup di luar negeri bukan hanya soal foto-foto estetika dan jalan-jalan, tetapi juga perjuangan menghadapi diri sendiri.
Relasi Keluarga dan Proses Pendewasaan
Salah satu bagian paling menyentuh dalam buku ini adalah hubungannya dengan sang ibu.
Gita menulis dengan jujur tentang konflik, ketidaksepahaman, kesedihan, dan rasa bersalah yang pernah mewarnai hubungan mereka.
Namun ia juga menunjukkan bagaimana waktu dan komunikasi memperdalam hubungan tersebut.
Proses pendewasaan yang ia alami justru banyak terjadi saat ia berada jauh dari keluarga. Kesendirian memaksanya belajar tentang emosi, prioritas hidup, hingga bagaimana menghadapi kehilangan.
Buku ini tidak hanya menjadi dokumentasi masa muda, tetapi juga refleksi tentang bagaimana seseorang menemukan kedewasaan melalui situasi yang tidak selalu mudah.
Identitas, Agama, dan Jati Diri
Gita juga menyinggung perjalanan spiritual dan identitasnya.
Ia berbicara tentang pergulatan memahami agama dalam konteks masyarakat yang lebih terbuka, bagaimana ia membingkai ulang konsep kepercayaan, serta bagaimana ia berusaha berdamai dengan masa lalu dan ekspektasi sosial.
Bab-bab ini memberikan kedalaman emosional yang lebih kuat, menjadikan buku ini tidak sekadar memoar perjalanan akademik, tetapi juga perjalanan batin.
Gaya Penulisan: Ringan, Pop, dan Dekat dengan Pembaca Muda
Bahasa yang digunakan Gita sangat kasual, membuat pembaca merasa seperti sedang mendengar cerita dari seorang teman.
Struktur buku yang terbagi menjadi fragmen-fragmen pengalaman membuatnya mudah diikuti.
Setiap bab memiliki tema sendiri sehingga pembaca bisa menikmati setiap bagian tanpa merasa terikat dengan alur kronologis kaku.
Kelebihan lainnya adalah kemampuannya mencampur humor ringan dengan momen-momen serius tanpa kehilangan esensi cerita. Ini membuat buku terasa hangat dan hidup.
Baca Juga: Takut Jarum Suntik? Bisa Jadi Kamu Masuk Klub Trypanophobia!
“Rentang Kisah” bukan hanya cerita perjalanan seorang mahasiswa Indonesia di luar negeri.
Buku ini adalah refleksi tentang hidup, tekanan, keluarga, kegagalan, dan bagaimana seseorang berusaha mengenali dirinya sendiri.
Kejujuran Gita membuat memoar ini relevan, terutama bagi anak muda yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri.
Buku ini mungkin tidak menawarkan teori-teori besar, tetapi justru itulah kekuatannya: ia menawarkan kejujuran yang jarang ditemukan dalam memoir populer.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah