Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Fenomena Nggak Berani Curhat ke Keluarga yang Lagi Jadi Perhatian Warganet, Ternyata Ini Penyebabnya

Meita Deviana Bina Ratnasari • Sabtu, 29 November 2025 | 14:05 WIB
Toxic Parenting banyak dibicarakan di media sosial. Foto adalah ilustrasi.
Toxic Parenting banyak dibicarakan di media sosial. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID - Di tengah ramainya konten media sosial soal kesehatan mental, muncul satu fenomena yang banyak dibicarakan: anak-anak yang memilih diam dan memendam perasaannya sendiri.

Mereka tidak berani bercerita kepada keluarga, bukan karena tidak ingin, tetapi karena merasa rumah bukan tempat yang aman untuk berkeluh kesah.

Kenyataan ini makin sering muncul dalam percakapan warganet, menandakan bahwa isu komunikasi keluarga sedang menjadi tren yang banyak dicari pembaca.

Banyak anak di luar sana merasa lebih nyaman memproses kesedihan dan kegelisahannya sendirian.

Alasannya cukup sederhana namun menyakitkan: mereka tidak ingin menambah luka baru.

Perasaan tidak aman secara emosional membuat anak akhirnya menarik diri dan memilih diam.

Jika ditelusuri, ada beberapa pola yang sering muncul dan menjadi akar mengapa anak tidak berani terbuka pada keluarganya.

Komunikasi Keluarga yang Kurang Sehat

Salah satunya adalah komunikasi keluarga yang kurang sehat.

Ketika anak mencoba menyampaikan apa yang ia rasakan, respons yang datang bukan dukungan atau perhatian, melainkan kritik, disalahkan, atau bahkan diabaikan.

Kondisi seperti ini membuat anak merasa tidak ada gunanya berbicara karena toh ujungnya luka baru yang ia dapat.

Padahal orang tua mungkin tidak sadar bahwa cara merespons mereka sedang membentuk pola komunikasi yang merugikan tumbuh kembang emosional anak.

Tidak Memvalidasi Perasaan Anak

Ada juga kondisi ketika orang tua tidak memvalidasi perasaan anak.

Saat anak sedih, takut, atau kecewa, respons yang muncul justru berupa kalimat yang mengecilkan emosi mereka.

Anak dianggap berlebihan, tidak kuat, atau terlalu sensitif.

Akibatnya? Anak menganggap emosinya tidak layak didengar dan lebih memilih diam dibandingkan membuka diri.

Konflik keluarga yang terus berulang tanpa penyelesaian juga jadi penyebab lain.

Banyak anak ingin memberi pendapat, tetapi mereka tahu hasil akhirnya akan sama: saling menyalahkan tanpa solusi.

Lama-lama anak terbentuk untuk menjauh dari konflik dan memilih menghindar agar tidak kembali tersakiti.

Dinamika Kekuasaan Orang Tua

Pola lain yang tak kalah sering dibahas adalah dinamika kekuasaan orang tua.

Tidak sedikit orang tua yang merasa pendapat mereka harus selalu menang.

Anak tidak diberi ruang untuk memilih, menentukan kesukaan, atau berdialog tentang apa pun.

Mereka hanya diminta menurut, karena “orang tua lebih tahu.”

Akhirnya anak merasa tidak punya suara dan belajar bahwa suaranya memang tak penting.

Bagi sebagian anak, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru terasa asing dan penuh trauma.

Ruang yang seharusnya aman malah berubah menjadi sumber luka yang terus membekas.

Tidak heran jika mereka memilih mencari kenyamanan di luar, atau pada orang lain yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi.

Fenomena ini kini ramai dibicarakan karena semakin banyak remaja dan anak muda yang berani menyuarakan pengalaman mereka di media sosial.

Isu tentang healing inner child, validasi emosi, dan toxic parenting juga sedang naik, sehingga pembahasan seperti ini makin relevan dan banyak dicari pembaca.

Pada akhirnya, artikel ini menjadi pengingat halus bahwa anak juga manusia. Mereka punya emosi, punya suara, dan ingin didengar.

Membangun komunikasi yang hangat dan sehat bukan hanya kebutuhan, tapi fondasi penting agar rumah kembali menjadi tempat pulang yang aman—bukan ruang yang menambah luka baru.

Jika Anda sedang belajar menjadi orang tua, atau sedang mencoba memperbaiki pola komunikasi di rumah, memahami hal ini bisa menjadi langkah awal menuju hubungan keluarga yang lebih sehat dan lebih bahagia. (*)

Editor : Amin Fauzie
#tren #toxic parenting #anak #kesehatan mental #komunikasi keluarga