Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Fenomena Picky Eater Meningkat: Tantangan Baru Orang Tua di Era Modern

Arinie Khaqqo • Jumat, 21 November 2025 | 20:10 WIB

ilustrasi
ilustrasi

RADARBONANG.ID – Jika dulu drama makan anak hanya soal tidak mau sayur, kini tantangannya semakin kompleks.

Banyak anak hanya mau makan tiga menu yang sama setiap hari, memiliki preferensi bentuk makanan tertentu, atau hanya mau makan jika disuapi sambil menonton video.

Fenomena picky eater ini menjadi keresahan baru di banyak keluarga muda Indonesia.

Baca Juga: Pedagang Thrifting Minta Kepastian ke DPR, Bantah Rusak Ekosistem UMKM

Riset global dari Journal of Nutrition and Behavior mencatat peningkatan signifikan perilaku picky eating pada balita dalam lima tahun terakhir.

Tren ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di daerah. Bahkan di media sosial, isu “anak susah makan” telah mencapai lebih dari 500 juta views di TikTok—menunjukkan betapa luasnya topik ini dibahas oleh orang tua Gen Z dan milenial.

Kenapa Fenomena Picky Eater Semakin Marak?

1. Pola makan modern yang serba instan
Menu cepat saji, camilan manis, dan makanan dengan rasa kuat membuat anak terbiasa dengan cita rasa yang sangat menarik.

Saat diperkenalkan dengan rasa sayur atau lauk sederhana, mereka sering menolak karena dianggap kurang menggugah selera.

2. Terlalu banyak distraksi saat makan
Kebiasaan makan sambil menonton video mengganggu fokus anak.

Mereka tidak benar-benar mengenali rasa dan tekstur makanan sehingga kemampuan menerima makanan baru menurun tajam.

3. Tekanan orang tua agar makanan harus habis
Semakin anak dipaksa makan, semakin besar kemungkinan mereka menolak.

Psikolog perkembangan menyebut ini sebagai reverse feeding resistance, yaitu bentuk perlawanan saat anak merasa kehilangan kendali.

4. Sensitivitas terhadap tekstur makanan
Beberapa anak memang lebih sensitif terhadap tekstur: terlalu lembek, terlalu keras, atau terlalu licin. Kondisi ini normal, tetapi sering dianggap sebagai kemanjaan.

Bahaya Jika Picky Eating Dibiarkan

Picky eater bukan sekadar fase jika berlangsung lama. Dalam jangka panjang dapat menyebabkan:

• berat badan tidak naik optimal,
• kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi atau zinc,
• anak mudah lelah dan kurang fokus,
• ketergantungan pada hanya satu atau dua jenis makanan.

Ahli gizi anak menekankan pentingnya perhatian khusus jika kebiasaan ini berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa perbaikan.

Cara Cerdas Mengatasi Picky Eater (Tanpa Drama)

1. Terapkan food exposure
Anak perlu dikenalkan pada satu jenis makanan 8–15 kali sebelum mereka bisa menerimanya. Jangan berhenti hanya karena menolak sekali.

2. Libatkan anak sebagai ‘co-chef kecil’
Ajak anak mencuci sayur, menata topping, atau memilih bentuk pasta. Anak lebih termotivasi mencoba makanan yang mereka bantu siapkan.

3. Hindari iming-iming hadiah
Ucapan seperti “habisin nanti Mama beliin es krim” membuat makan terasa seperti tugas, bukan aktivitas menyenangkan.

4. Tetap pada jadwal makan yang konsisten
Atur jeda 2–3 jam antar waktu makan agar anak datang ke meja makan dalam kondisi cukup lapar dan lebih terbuka terhadap makanan baru.

5. Makan bersama keluarga
Anak belajar lewat meniru. Melihat orang tua menikmati makanan sehat dapat meningkatkan keinginan mereka mencoba menu serupa.

Baca Juga: Patung Soekarno di Alun-Alun Indramayu Rusak, Pemkab Jelaskan Penyebabnya

Picky Eater Bukan Nakal, Tapi Butuh Pendekatan Baru

Psikolog anak menegaskan bahwa picky eating bukan perilaku nakal. Ini adalah bagian dari perkembangan kontrol diri, eksplorasi sensorik, serta adaptasi anak terhadap lingkungan makan modern yang penuh distraksi.

Generasi orang tua masa kini didorong lebih sabar dan kreatif dalam membangun kebiasaan makan yang sehat. Makan bukan sekadar “mengisi perut”, tetapi merupakan proses membentuk hubungan positif dengan makanan sejak usia dini. (*)

 
 
 
Editor : Muhammad Azlan Syah
#orang tua #picky eater #parenting #pola makan anak #kesehatan anak