Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Gowes Kembali Hits: Kenapa Anak Muda Ternyata Kangen Sepeda Lagi?

Widodo • Jumat, 21 November 2025 | 16:10 WIB

ilustrasi bersepedah
ilustrasi bersepedah

RADARBONANG.ID – Dalam beberapa waktu terakhir, pesepeda kembali memenuhi trotoar dan jalur pinggir jalan kota-kota di Indonesia.

Bukan hanya ibu-ibu yang gowes saat weekend, tetapi banyak anak muda—khususnya Gen Z—yang kini muncul dengan helm warna-warni dan sepeda lipat stylish.

Tren bersepeda atau gowes kembali menggeliat, bukan sekadar nostalgia pandemi, tetapi berubah menjadi gaya hidup baru yang menyatu dengan keseharian mereka.

Baca Juga: Patung Soekarno di Alun-Alun Indramayu Rusak, Pemkab Jelaskan Penyebabnya

Mengapa Tren Bersepeda Kembali Ramai?

Pada masa pandemi Covid-19, bersepeda menjadi salah satu cara aman untuk tetap beraktivitas di luar rumah tanpa berkerumun.

Meski pandemi sudah berlalu, kebiasaan itu ternyata tidak ikut padam. Menurut laporan Kompas, tren gowes tetap bertahan seiring aktivitas masyarakat yang kembali normal.

Gen Z memegang peran besar dalam menjaga semangat bersepeda tetap hidup. Komunitas-komunitas sepeda tumbuh dan berkembang, bukan hanya untuk olahraga, tetapi juga sebagai ruang sosial bagi anak muda.

Selain itu, bersepeda memiliki dampak positif terhadap lingkungan. Jika lebih banyak orang bersepeda daripada naik kendaraan bermotor, polusi udara dapat ditekan secara signifikan.

Apa yang Membuat Komunitas Sepeda Menjadi Magnet Anak Muda?

Komunitas sepeda kini menjadi semacam barometer gaya hidup bagi Gen Z. Aktivitas mereka tidak sekadar gowes bareng, tetapi juga mencakup event tematik, tur kecil, hingga diskusi tentang gaya hidup ramah lingkungan.

Kehadiran komunitas menjadikan bersepeda bukan hanya aktivitas olahraga, tetapi juga wadah sosialisasi.

Sebuah studi di Tuban menyebutkan bahwa 38 persen anggota komunitas sepeda memilih gowes untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kebugaran.

Banyak anak muda yang awalnya hanya mengikuti tren, namun lambat laun merasakan manfaat nyata: tubuh lebih sehat, stres berkurang, dan hubungan sosial semakin erat.

Apakah Semua Orang Masih Bersemangat Gowes?

Meski ramai di jalan dan media sosial, tren bersepeda tidak sepenuhnya mulus. Sebagian daerah mulai melihat penurunan minat.

Artikel Jawa Pos mencatat bahwa antusiasme gowes setelah pandemi mulai menurun, sehingga komunitas sepeda menjadi kunci untuk menjaga semangat ini tetap hidup.

Para pedagang sepeda juga merasakan dampaknya. Setelah masa booming di era pandemi, banyak toko sepeda mengalami penurunan penjualan bahkan terpaksa tutup.

Ini menunjukkan bahwa tren gowes memiliki perputaran yang fluktuatif di sisi ekonomi.

Dampak Positif Bersepeda untuk Gen Z

Tantangan yang Masih Harus Dihadapi

  1. Infrastruktur terbatas: Banyak kota belum memiliki jalur sepeda yang aman dan memadai.

  2. Kesadaran berlalu lintas: Pesepeda dan pengguna jalan lain perlu edukasi soal etika berkendara dan berbagi ruang jalan.

  3. Siklus tren naik-turun: Tren seperti gowes bisa mengalami fase boom–surut–boom.

  4. Bisnis sepeda fluktuatif: Toko sepeda kecil sulit bertahan karena permintaan yang tidak stabil.

Kembalinya tren bersepeda bukan hanya soal ikut-ikutan hobi masa pandemi. Bagi Gen Z, gowes sudah menjadi gaya hidup: menyehatkan tubuh, menjaga lingkungan, dan memperkuat ikatan sosial.

Agar tren ini tidak hanya menjadi gelombang sesaat, perlu dukungan dari pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat untuk membangun infrastruktur ramah pesepeda serta menjaga budaya bersepeda tetap berkembang.

Bersepeda kini bukan sekadar olahraga; bagi banyak anak muda, ini adalah cara hidup.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#tren bersepeda Gen Z #gaya hidup sehat Gen Z #gowes anak muda #manfaat bersepeda #komunitas sepeda Indonesia