RADAR BONANG – Saat sedang nongkrong, kamu mungkin pernah bertemu seseorang yang gemar berkata, “Aku beda kok sama cewek atau cowok lain, aku tuh simple banget,” atau “Aku mah nggak kayak mereka, aku yang paling ngerti kamu.”
Jika itu terjadi, besar kemungkinan kamu sedang berhadapan dengan fenomena Pick Me — individu yang berusaha tampak paling layak dipilih dibanding kelompoknya sendiri.
Istilah Pick Me kini makin disorot setelah masuk dalam kajian internet slang Oxford Languages. Psychology Today juga membahas perilaku serupa sebagai bentuk performative self-neglect, yaitu upaya membangun citra tertentu demi mendapatkan validasi sosial maupun perhatian lawan jenis.
Peneliti budaya digital, Dr. Crystal Abidin (Deakin University), mencatat bahwa tekanan performativitas di media sosial membuat banyak orang membangun persona yang dianggap “lebih baik” dari komunitasnya sendiri.
Pertanyaannya, bagaimana menghadapi perilaku Pick Me di kehidupan nyata tanpa harus merasa terganggu atau drama?
Berikut panduan yang relevan dan lembut untuk menjaga kenyamanan diri.
1. Kenali Polanya Supaya Tidak Ikut Terseret Drama
Pick Me umumnya memiliki pola perilaku yang mudah dikenali:
• merendahkan kelompoknya sendiri,
• membandingkan diri tanpa diminta,
• serta berperilaku seolah paling tidak merepotkan atau paling “low maintenance”.
Dengan mengetahui polanya, kamu dapat memahami bahwa masalahnya bukan pada dirimu. Ada kebutuhan validasi dari pihak mereka yang belum tuntas.
2. Tetap Tenang dan Tidak Perlu Membalas Perbandingan
Karena inti dari perilaku Pick Me adalah pencitraan, membalas dengan argumen panjang hanya membuatmu lelah. Cukup respons singkat dan seperlunya, lalu lanjutkan aktivitasmu.
Psikolog interpersonal menyebut metode ini sebagai minimal engagement, strategi yang efektif untuk menghadapi perilaku manipulatif ringan tanpa memperburuk situasi.
3. Jangan Terjebak dalam Kompetisi yang Tidak Kamu Ikuti
Pick Me sering muncul dalam konteks yang dianggap sebagai arena “pemilihan”: pertemanan campur, lingkungan kerja, atau circle nongkrong.
Tetap ingat bahwa kamu tidak sedang ikut audisi. Tidak perlu menonjolkan diri atau membandingkan diri. Yang sedang berusaha dipilih adalah mereka, bukan kamu.
4. Tetapkan Batasan Sosial dengan Cara yang Lembut
Menurut American Psychological Association (APA), batasan yang sehat bertujuan melindungi kesehatan mental tanpa harus memutus hubungan sosial.
Jika interaksi dengan Pick Me terasa melelahkan, kamu bisa:
• mengurangi intensitas komunikasi,
• mengalihkan topik saat mereka mulai merendahkan orang lain,
• atau memberi ruang bagi kenyamananmu sendiri.
Menetapkan batasan bukan tindakan jahat, melainkan bentuk perawatan diri.
5. Tidak Semua Pick Me Perlu Dihindari: Kadang Mereka Butuh Ruang Aman
Dr. Kristin Neff dalam penelitiannya mengenai self-esteem menyebut bahwa banyak perilaku pencitraan muncul dari rasa harga diri yang rapuh.
Artinya, tidak semua Pick Me bermaksud mencari drama. Ada kalanya mereka hanya ingin didengar atau diterima.
Jika kamu memiliki kapasitas emosional, menunjukkan empati bisa membantu. Jika tidak, kembali pada batasan yang telah kamu buat.
6. Fokus pada Dirimu: Validasi Terbaik Berasal dari Internal
Fenomena Pick Me adalah produk dari budaya digital yang menuntut orang tampil paling menarik, paling beda, atau paling layak. Penelitian dari Digital Culture Centre (Deakin University) menunjukkan bahwa algoritma memperkuat rasa persaingan sosial.
Cara terbaik menghadapinya: bangun validasi dari dalam diri. Ketika kamu nyaman dengan dirimu sendiri, perilaku “please pick me” tidak akan menggoyahkan kestabilan emosimu.
Ini Bukan Tentang Mereka, Melainkan Tentang Ketenanganmu
Bertemu Pick Me dalam keseharian adalah hal biasa. Tetapi terseret dramanya adalah pilihan. Dengan mengenali polanya, menetapkan batasan, dan menjaga kesehatan mental, kamu dapat tetap hidup tenang di tengah budaya digital yang semakin performatif.
Pada akhirnya, yang paling berharga bukan perhatian orang lain, melainkan kehidupan yang autentik dan damai.
Editor : Muhammad Azlan Syah