Ungkapan-ungkapan semacam ini semakin sering muncul di TikTok, Instagram, X, hingga ruang-ruang obrolan sehari-hari.
Istilah pick me sebenarnya bukan hal baru dalam studi budaya internet.
Baca Juga: Wisuda XXIII Unirow Tuban : Lulusan Berprestasi dan Lompatan Besar Kolaborasi Global
Oxford Languages telah mencatat “pick-me girl” sebagai salah satu slang populer yang menggambarkan perilaku seseorang yang berusaha terlihat lebih baik dari kelompoknya sendiri demi menarik perhatian atau validasi—biasanya dari lawan jenis.
Psychology Today juga pernah membahas konsep serupa dalam istilah performative self-neglect, yakni kebutuhan untuk diterima dengan cara merendahkan diri atau kelompok asalnya.
Peneliti budaya digital seperti Dr. Crystal Abidin turut menyoroti perilaku ini dalam kajiannya mengenai self-branding di media sosial.
Menurutnya, tekanan untuk tampak sempurna dan mudah diterima membuat sebagian orang membangun persona yang lebih “aman” atau “lebih baik” dibanding orang-orang dari kelompoknya sendiri.
Persona itu kemudian dipoles sedemikian rupa untuk memenuhi ekspektasi algoritma dan publik.
Mengapa Orang Bisa Menjadi Pick Me?
Motivasinya tidak sesederhana mencari perhatian. Dalam banyak kasus, perilaku ini merupakan strategi sosial untuk membangun citra diri.
Sebagian menjadikannya sebagai bentuk self-branding, sebagian lain melakukannya sebagai refleks akibat tekanan sosial, dan tidak jarang ada yang melakukannya tanpa sadar hanya demi merasa diakui.
Fenomena pick me juga berkaitan dengan budaya digital yang menuntut seseorang tampil likeable, relatable, dan tidak merepotkan.
Banyak pengguna media sosial tumbuh dengan ekspektasi ini sehingga membentuk gaya komunikasi yang berusaha menunjukkan bahwa mereka “lebih baik” atau “lebih mudah dipilih” dibanding anggota kelompoknya sendiri.
Lapisan Soft Toxic yang Sering Tak Terlihat
Di permukaan, konten pick me mungkin terlihat lucu atau menggemaskan. Namun jika dikonsumsi terus-menerus, efeknya bisa lebih dalam. Perilaku ini bisa menjadi bentuk “soft toxic” atau racun halus dalam interaksi digital.
Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:
-
Munculnya dorongan untuk merendahkan kelompok sendiri demi merasa berharga.
-
Terbentuknya standar sosial yang semakin bias dan tidak realistis.
-
Dinamika pertemanan maupun hubungan menjadi kurang sehat karena dipenuhi perbandingan tidak adil.
Pada titik tertentu, seseorang bisa kehilangan batas antara dirinya yang asli dan persona yang dibangun demi memenuhi ekspektasi algoritma.
Baca Juga: Sampah Tersimpan 5 Meter di Bawah Tanah, Begini Sistem Super Efisien Andalan BelandaBaca Juga: Sampah Tersimpan 5 Meter di Bawah Tanah, Begini Sistem Super Efisien Andalan Belanda
Lalu, Haruskah Kita Menghakimi?
Tidak. Tidak semua perilaku yang tampak “berbeda sendiri” adalah pick me. Terkadang seseorang memang memiliki preferensi yang berbeda dari kebanyakan.
Yang penting adalah mampu mengenali pola-pola pick me agar kita lebih peka dalam berinteraksi di media sosial.
Tidak semua validasi perlu dikejar, apalagi jika harus dibayar dengan mengorbankan harga diri atau merendahkan kelompok sendiri.
Fenomena pick me mengingatkan kita bahwa di balik citra dan persona dunia digital, selalu ada kebutuhan manusiawi untuk didengar, dilihat, dan diterima. Yang membedakan hanyalah cara seseorang memilih untuk mendapatkannya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah