RADARBONANG.ID – Si kecil tiba-tiba menangis, menjerit, lalu melempar mainan? Tenang dulu, Bunda. Itu bukan tanda anak nakal — bisa jadi sedang mengalami tantrum, fase alami dalam perkembangan emosi anak.
Menariknya, tantrum punya banyak bentuk! Tak semuanya sama, bahkan bisa berbeda tergantung usia, kepribadian, dan situasi anak. Mengenali jenisnya membantu orang tua tahu kapan harus memeluk, menenangkan, atau memberi batas tegas.
Apa Itu Tantrum
Sebelum bahas jenis-jenisnya, yuk kenali dulu.
Tantrum adalah ledakan emosi yang muncul saat anak merasa frustrasi, marah, atau tidak mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata.
Biasanya terjadi pada usia 1–5 tahun, ketika kemampuan bahasa dan pengendalian diri belum berkembang sempurna.
Tapi jangan salah, tantrum bukan sekadar “ngambek”. Ini bagian penting dari proses anak belajar mengenali dan mengelola emosinya.
Macam-Macam Tantrum Anak yang Harus Diketahui
1. Tantrum Frustrasi (Frustration Tantrum)
Jenis paling umum terjadi pada balita. Biasanya muncul ketika anak ingin melakukan sesuatu tapi belum mampu — seperti memakai sepatu sendiri atau menyusun balok.
Ciri-ciri: menangis keras, melempar barang, atau berteriak karena tidak berhasil mencapai keinginannya.
Cara menghadapinya: bantu anak perlahan sambil beri pujian atas usahanya. Jangan langsung menggantikan perannya, tapi dampingi dengan sabar.
2. Tantrum Lelah (Tiredness Tantrum)
Ketika anak terlalu lelah, lapar, atau kurang tidur, emosi mereka bisa meledak tanpa sebab jelas.
Ciri-ciri: rewel, mudah tersinggung, dan menolak apa pun yang ditawarkan.
Solusi: jangan debat panjang. Cukup beri waktu istirahat atau tidur. Anak tidak butuh ceramah, tapi butuh energi baru.
3. Tantrum Manipulatif (Attention-Seeking Tantrum)
Jenis ini muncul karena anak tahu cara mendapatkan perhatian atau keinginan — misalnya, menangis kencang di supermarket agar dibelikan mainan.
Cara menghadapinya: tetap tenang dan konsisten. Jangan langsung menyerah pada permintaan anak. Setelah tenang, baru ajak bicara dan beri pengertian.
4. Tantrum Emosional (Emotional Overload Tantrum)
Terjadi ketika anak “kelebihan muatan emosi” — bisa karena stres, ketakutan, atau situasi baru. Anak jadi tidak mampu menenangkan diri, bahkan sampai menjerit, menendang, atau memukul.
Tips: peluk anak dengan lembut agar merasa aman. Setelah reda, bantu dia menyebutkan emosinya, misalnya, “Kamu marah, ya, karena mainannya diambil?”
5. Tantrum Medis (Sensory atau Pain-Triggered Tantrum)
Kadang, tantrum bukan soal perilaku, tapi reaksi terhadap kondisi fisik. Misalnya, anak merasa tidak nyaman karena sakit perut, gatal, atau terlalu banyak rangsangan suara dan cahaya.
Tantrum ini sering terjadi pada anak dengan gangguan sensorik atau autisme.
Solusi: cari penyebab fisiknya, bukan langsung menegur anak. Konsultasikan dengan dokter bila tantrum terlalu sering atau sulit dikendalikan.
Tanda-Tanda Tantrum Perlu Diwaspadai
-
Tantrum lebih dari 15 menit
-
Terjadi lebih dari 5 kali dalam sehari
-
Disertai kekerasan ekstrem atau menyakiti diri sendiri
-
Tidak sesuai usia perkembangan
Jika hal ini terjadi, segera konsultasikan dengan psikolog anak untuk mendapat penanganan yang tepat.
Baca Juga: Hati-Hati! 7 Tanda Tak Terduga Tubuh Anda Kekurangan Vitamin D – Jangan Sampai Salah Langkah
Tips Mencegah Tantrum Terulang
-
Pastikan anak cukup tidur dan makan tepat waktu.
-
Buat rutinitas yang konsisten agar anak merasa aman.
-
Ajarkan anak menamai emosinya: “marah”, “sedih”, atau “kecewa”.
-
Jadi contoh dalam mengelola emosi — anak meniru sikap orang tua.
-
Beri apresiasi setiap kali anak berhasil menenangkan diri tanpa tantrum.
Tantrum memang bikin pusing, tapi bukan musuh. Dengan memahami macam-macam tantrum, orang tua bisa lebih bijak dalam merespons dan membantu anak membangun kemampuan mengelola emosi sejak dini.
Ingat, bukan seberapa cepat tantrum anak berhenti — tapi seberapa sabar orang tua membantunya belajar tenang.
Editor : Muhammad Azlan Syah