Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Belajar Seimbang dari Filsafat Jawa: Resensi Buku Ajaran Bahagia dari Jawa karya Paksi Raras Alit

Muhammad Azlan Syah • Rabu, 12 November 2025 | 22:10 WIB

Cover buku Ajaran Bahagia dari Jawa karya Paksi Raras Alit
Cover buku Ajaran Bahagia dari Jawa karya Paksi Raras Alit

RADARBONANG.ID – Dalam hiruk-pikuk zaman modern yang serba cepat dan kompetitif, banyak orang mengejar kebahagiaan dengan cara mengumpulkan sebanyak mungkin — entah harta, jabatan, atau pengaruh.

Namun, lewat bukunya Ajaran Bahagia dari Jawa, Paksi Raras Alit mengajak pembaca untuk menengok kembali kebijaksanaan lama yang justru menuntun kita pada keseimbangan, bukan pada kerakusan.

Baca Juga: Lewak Tapo: Tradisi Pembelahan Kelapa untuk Mencari Kebenaran Kematian di Adonara

Buku ini berangkat dari falsafah sederhana namun mendalam: hidup adalah tentang keseimbangan antara memberi dan menerima.

Bagi masyarakat Jawa, konsep bahagia tak bisa dilepaskan dari kemampuan menjaga harmoni antara dua kutub kehidupan — antara keinginan dan kerelaan, antara memiliki dan melepas.

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah perumpamaan tentang kekuasaan sebagai wadah atau “kendhil.”

Dalam pandangan Jawa, setiap orang memiliki wadah kuasa yang terbatas. Wadah itu tak bisa terus-menerus diisi tanpa menyisakan ruang kosong.

Bila seseorang ingin memperoleh kuasa baru, maka sebagian dari kuasa lama harus dilepaskan terlebih dahulu.

Paksi menjelaskan, prinsip ini berlaku bukan hanya untuk kekuasaan politik, tapi juga dalam relasi sosial, karier, bahkan kehidupan spiritual.

“Kalau mau dapat sesuatu, kita harus siap kehilangan sesuatu dulu,” tulisnya dalam salah satu bab. Melepaskan bukan berarti kalah, tetapi memberi ruang agar hidup kembali seimbang.

Melalui metafora “kendhil” ini, penulis ingin menegaskan bahwa kebahagiaan bukan hasil dari menumpuk, melainkan dari kemampuan mengosongkan diri — agar selalu ada tempat bagi hal-hal baru untuk masuk.

Jika wadah itu penuh terus, hidup justru menjadi sempit, berantakan, dan kehilangan arah.

Selain itu, buku ini juga menyoroti nilai-nilai luhur yang diajarkan leluhur Jawa: olah rasa, keikhlasan, kemampuan mengalah, serta kesiapan menderita demi menjaga keselarasan hidup.

Dalam konteks modern, ajaran ini terasa menyejukkan di tengah budaya instan dan ambisi tanpa batas.

Gaya bertutur Paksi Raras Alit ringan tapi reflektif. Ia menulis dengan nada seperti sedang berdialog — lembut namun penuh makna.

Setiap bab mengandung renungan kecil yang bisa dinikmati secara perlahan, layaknya menyesap teh hangat di pagi hari sambil merenungi hidup.

Setelah lelah mencari bahagia di mana-mana, buku ini mengajak kita kembali pada ajaran leluhur Jawa.

Ia lahir dari perenungan panjang atas penderitaan manusia modern: kita yang maju dalam teknologi, karier, dan informasi, namun sering merasa hampa di dalam. Kita berlari mengejar kebahagiaan, tapi jarang menemukan ketenangan sejati.

Selama berabad-abad, ajaran Jawa telah terbukti sanggup menjaga kehidupan yang rukun dan damai.

Baca Juga: Kemiskinan Petani Bukan Takdir, Tapi Kegagalan Sistem: 5 Buku yang Menggugah Kesadaran Agraria

Masyarakatnya hidup dalam semangat gotong royong, saling menjaga, dan menolong yang kesusahan.

Jauh dari kesan kuno, filosofi ini justru sangat adaptif terhadap kehidupan masa kini, karena mengajarkan seni keselarasan dalam setiap tindakan — dari hal kecil seperti berbicara sopan, hingga keputusan besar yang menyangkut banyak orang.

Paksi Raras Alit berhasil mengemas pesan leluhur menjadi refleksi yang relevan untuk generasi modern.

Ia tidak menggurui, melainkan mengajak pembaca menengok ke dalam diri. Ajaran Bahagia dari Jawa menjadi semacam peta batin bagi siapa pun yang ingin belajar bahwa bahagia bukan soal memiliki segalanya, melainkan tentang menemukan titik seimbang antara cukup dan ikhlas.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Paksi Raras Alit #Ajaran Bahagia dari Jawa #Resensi buku #Keseimbangan hidup #Filsafat hidup Jawa