RADARBONANG.ID - Setiap hari, lini masa kita penuh dengan video absurd, meme kocak, atau cuplikan receh yang bikin ngakak lima detik lalu lupa.
Tapi di balik tawa dan komentar “wkwkwk,” ada satu kenyataan menarik — humor ternyata jadi salah satu bentuk pelarian paling populer di dunia digital.
Receh Tapi Laku Keras
Coba perhatikan, dari sekian banyak konten yang viral, sebagian besar nggak rumit: video kucing jatuh, editan seleb yang absurd, atau lawakan garing yang justru bikin ngakak.
Konten receh seperti ini bukan kebetulan muncul, tapi karena algoritma media sosial tahu satu hal penting: orang lebih cepat berhenti di konten yang bikin mereka tertawa.
Menurut laporan Global Web Index, 73% pengguna media sosial mengaku menonton konten lucu sebagai bentuk pelepas stres.
Semakin berat dunia terasa, semakin kita mencari sesuatu yang ringan — bahkan yang nggak penting sekalipun.
Tawa Sebagai Mekanisme Bertahan
Humor adalah pelarian paling kuno, tapi tetap efektif. Saat stres, otak melepaskan kortisol (hormon stres) yang bisa ditekan oleh endorfin — hormon bahagia yang keluar ketika kita tertawa.
Itulah kenapa, meski hidup terasa berat, satu video receh bisa bikin hari sedikit lebih ringan.
Namun, pelarian ini juga punya sisi gelap. Ketika tawa jadi satu-satunya cara menghadapi realita, kita tanpa sadar menumpuk stres yang belum sempat diolah.
Kita tertawa bukan karena lucu, tapi karena tidak tahu cara lain untuk tetap waras.
Dunia Digital, Dunia yang Serius Tapi Penuh Tawa Palsu
Di media sosial, orang berlomba tampil lucu, bikin meme, atau melempar komentar sarkastik. Padahal, banyak dari mereka menyembunyikan tekanan pribadi di balik tawa.
Fenomena ini disebut toxic positivity digital: ketika humor digunakan untuk menutupi kelelahan, kesepian, atau bahkan rasa tidak cukup.
Lucunya, algoritma pun memperkuat kebiasaan ini. Semakin sering kita tertawa di konten receh, semakin banyak humor serupa yang disajikan — menciptakan lingkaran pelarian tanpa ujung.
Humor yang Menyembuhkan vs Humor yang Menumpuk Luka
Tidak semua tawa sama. Ada tawa yang menyembuhkan — jujur, spontan, dan membuat kita merasa lebih ringan.
Tapi ada juga tawa yang muncul dari sinisme, kelelahan, atau sekadar ikut-ikutan tren.
Kalau kamu pernah ngerasa “cape ketawa tapi hati kosong,” bisa jadi kamu sedang mengalami emotional burnout disguised as humor.
Konsumsi humor yang terlalu sering tanpa keseimbangan emosional justru memperdalam rasa cemas. Otak jadi terbiasa menghindar dari emosi negatif, bukan menghadapinya.
Belajar Tertawa Dengan Sadar
Tertawa tetap perlu — dunia terlalu serius tanpa humor. Tapi cara kita menikmatinya perlu disadari. Coba tanyakan ke diri sendiri:
- Apakah aku tertawa karena benar-benar bahagia, atau cuma biar nggak ngerasa kosong?
- Apakah aku menonton konten lucu karena ingin rehat, atau karena nggak mau mikir hal serius?
Membatasi konsumsi konten receh bukan berarti menghilangkan tawa, tapi memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasa lebih jujur.
Di Balik “Wkwkwk”, Ada Seruan Hati yang Capek
Humor digital bukan hal buruk. Ia adalah bentuk koping modern yang menyelamatkan banyak orang dari kelelahan hidup. Tapi seperti obat, dosisnya perlu dijaga.
Jadi, lain kali kamu nonton video absurd yang bikin ngakak sampai nangis, nikmatilah — tapi jangan lupa berhenti sejenak dan tanya ke diri sendiri: Tadi aku ketawa karena lucu, atau karena lagi butuh alasan buat merasa lebih baik?(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah