Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

“Pelangi di Mars”: Upie Guava Siapkan Film Sci-Fi Anak Pertama Indonesia, Visual Hangat di Planet Merah

Muhammad Azlan Syah • Selasa, 4 November 2025 | 16:10 WIB

Poster resmi film Pelangi di Mars
Poster resmi film Pelangi di Mars

RADARBONANG.ID – Nama Upie Guava selama ini identik dengan karya visual yang berani dan artistik. Tapi kali ini, sang sutradara melangkah lebih jauh — ke luar angkasa tepatnya.

Melalui film terbarunya berjudul “Pelangi di Mars”, Upie menghadirkan sebuah kisah fiksi ilmiah anak yang siap membuka babak baru dalam perfilman Indonesia.

Belum tayang, tapi teaser posternya saja sudah berhasil mencuri perhatian publik.

Bayangkan: lanskap sunyi planet Mars, langit jingga keemasan, dan di tengahnya berdiri dua sosok — seorang anak kecil bernama Pelangi (diperankan oleh Mesti Gusti) dan robot tua dengan tampilan usang tapi hangat.

Sekilas, kombinasi ini menghadirkan nuansa antara kesepian luar angkasa dan keajaiban persahabatan yang melampaui batas dunia.

Poster itu bukan hanya cantik, tapi juga “berbicara”. Dalam kesunyian planet merah, ada kehangatan yang manusiawi.

Dan di situlah kekuatan film ini: bukan sekadar sci-fi tentang teknologi, tapi tentang emosi dan hubungan antar makhluk hidup, meskipun salah satunya adalah robot.

Film ini juga bakal menampilkan deretan aktor dan aktris ternama seperti Lutesha, Rio Dewanto, Livy Renata, dan Myesha Lin, yang akan memperkaya semesta Mars versi Indonesia.

Menurut rumor, masing-masing karakter akan punya hubungan emosional dengan Pelangi dan robotnya — semacam “mikrokosmos manusia” dalam dunia yang asing.

Baca Juga: Yunus Yosfiah: Jenderal Penentu Akhir Wajib Tonton Film Pengkhianatan G30S/PKI Menghilang dari Layar TV!

Tak hanya dari sisi cerita, “Pelangi di Mars” juga ambisius secara teknis.

Film ini memanfaatkan Extended Reality (XR) dan Unreal Engine, dua teknologi mutakhir yang biasa digunakan di produksi film-film besar seperti The Mandalorian dan Avatar: The Way of Water.

Dengan teknologi ini, Upie Guava bisa menciptakan dunia digital interaktif secara real time, tanpa harus syuting di luar negeri atau membangun set besar.

“Teknologi XR bikin kami bisa main di batas antara realitas dan imajinasi. Tapi yang paling penting, kami tetap menjaga cerita tetap terasa manusiawi,” ujar Upie dalam wawancara singkat dengan tim promosi film.

Menurutnya, “Pelangi di Mars” bukan cuma tentang luar angkasa, tapi juga tentang keberanian seorang anak menghadapi kesepian, rasa ingin tahu, dan arti persahabatan di dunia yang asing.

Ceritanya dirancang agar bisa dinikmati semua umur, terutama anak-anak dan keluarga.

Langkah ini jelas berani. Industri film Indonesia jarang sekali mengangkat tema sains-fiksi anak dengan skala produksi sebesar ini.

Biasanya, film anak lokal berkutat di drama keluarga atau fantasi ringan. Tapi Upie Guava memilih untuk melampaui batas itu — menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

“Pelangi di Mars” juga bisa jadi momentum penting bagi sineas muda Indonesia untuk berani mengeksplorasi teknologi baru dalam pembuatan film.

Dengan penggunaan XR dan Unreal Engine, produksi lokal kini punya peluang untuk menghadirkan pengalaman visual setara dengan film internasional, tapi tetap dengan jiwa dan identitas Indonesia.

Meskipun jadwal tayangnya belum diumumkan, antusiasme penonton sudah mulai terasa di media sosial.

Baca Juga: Ketika Cairan Pemutih Jadi Kuas Seni: Bleach Painting, Cara Baru Anak Muda Melukis di Atas Kaos

Banyak yang memuji visual teasernya yang “hangat tapi futuristik”, dan ada pula yang bilang film ini berpotensi jadi “film anak paling cantik yang pernah dibuat di Indonesia.”

Apapun hasil akhirnya nanti, satu hal jelas — “Pelangi di Mars” bukan sekadar film tentang planet merah, tapi tentang harapan, keberanian, dan kasih dalam ruang hampa.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#film sci fi Indonesia #teknologi XR #Upie Guava #Pelangi di Mars #film anak Indonesia