Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Tak Lekang Usia, Semangat Sumpah Pemuda Harus Tetap Menyala di Dada Generasi Indonesia

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 3 November 2025 | 18:15 WIB
Soedjarwoto Tjondronegoro bersama keluarga besar dalam potret kebersamaan yang hangat dan penuh makna.
Soedjarwoto Tjondronegoro bersama keluarga besar dalam potret kebersamaan yang hangat dan penuh makna.

RADARBONANG.ID – Usia boleh menua, tapi semangat tidak seharusnya ikut renta. Kalimat itu mungkin paling pas menggambarkan sosok Soedjarwoto Tjondronegoro, Ketua PPLP PT PGRI yang menaungi Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban.

Di usianya yang sudah tak muda, pria yang akrab disapa Totok itu masih bicara tentang Sumpah Pemuda dengan api yang menyala di matanya.

Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati momentum bersejarah ini — sebuah hari ketika anak muda dari berbagai suku, ras, dan agama melebur jadi satu suara: Indonesia.

Namun, bagi Totok, Sumpah Pemuda bukan sekadar upacara tahunan. Ini adalah pengingat, bahwa persatuan bangsa lahir dari keberanian anak muda yang berpikir melampaui sekat.

‘’Momentum Sumpah Pemuda ini menjadi bukti nyata semangat persatuan lintas suku, ras, dan agama yang melahirkan jati diri bangsa Indonesia melalui ikrar bertumpah darah satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia,’’ ujar alumni Fakultas Hukum Universitas Negeri Jember (Unej) itu.

Pemuda Sekarang Harus Berani Bertanya dan Berpikir Kritis

Totok menegaskan, nilai-nilai perjuangan para pemuda 1928 itu tidak boleh berhenti di sejarah buku pelajaran. Ia harus dihidupkan dalam cara berpikir dan bertindak generasi hari ini.

‘’Pemuda sekarang harus berani menghadapi tantangan dengan lapang hati, berani mempertanyakan sesuatu kepada pihak yang kompeten untuk mendapatkan informasi yang jelas, serta mampu melakukan analisa kooperatif dengan para pemangku kebijakan,’’ imbuhnya.

Bagi Totok, keberanian bertanya adalah bentuk kecerdasan, bukan perlawanan. Karena dari rasa ingin tahu itulah lahir generasi yang melek realitas dan mampu berpikir jernih di tengah derasnya arus informasi.

Usia Tua, Pikiran Tetap Muda

Totok yang dikenal sebagai sosok akademisi tegas tapi hangat itu, menuturkan rasa syukurnya karena masih diberi energi untuk terus menyalakan api semangat pemuda di lingkungan kampus.

Ia mengutip falsafah Jawa yang kini jarang diingat orang: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani — di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

‘’Usia boleh tua, tapi cara berpikir harus tetap kritis, segar, dan harus tetap bisa menjalin relasi dengan banyak orang termasuk anak-anak muda,’’ ujarnya sambil tersenyum.

Di balik kata-katanya, tersirat pesan sederhana tapi kuat: menjadi muda bukan soal umur, tapi soal cara pandang terhadap masa depan.

Waspadai Kolonialisme Gaya Baru

Dalam percakapan yang hangat tapi tajam itu, Totok juga menyinggung ancaman yang kini jarang disadari banyak orang: kolonialisme modern.

Bukan lagi penjajahan bersenjata, melainkan bentuk dominasi halus yang menyusup melalui ekonomi, politik, hingga budaya.

‘’Kolonialisme modern bisa muncul dalam bentuk dominasi politik, eksploitasi ekonomi, dan penetrasi budaya. Karena itu, pemuda Indonesia harus tangguh dan cerdas menghadapi perubahan zaman dan menjadikan Pancasila sebagai filter,’’ tegasnya.

Pesannya jelas: jangan sampai anak muda hari ini merdeka secara fisik, tapi terjajah secara pola pikir.

Semangat yang Harus Hidup di Sikap, Bukan Sekadar di Spanduk

Totok menutup pembicaraan dengan kalimat yang terasa seperti nasihat seorang ayah untuk anak-anaknya.

Ia berharap semangat Sumpah Pemuda tidak hanya hidup setiap 28 Oktober, tapi benar-benar mengalir dalam keseharian setiap warga Indonesia.

‘’Semoga semangat sumpah pemuda tidak hanya diucapkan setiap tahun, tetapi benar-benar hidup dalam diri, sikap, dan tindakan sehari-hari setiap masyarakat untuk Indonesia yang lebih maju,’’ tandasnya.

Di tengah derasnya distraksi zaman dan riuhnya konten digital, pesan dari Totok terasa seperti tamparan halus.

Bahwa menjadi muda bukan soal usia, tapi soal api yang tetap menyala untuk memperjuangkan nilai, kebenaran, dan kebersamaan.

Karena bangsa ini tidak kekurangan pemuda — yang kurang adalah mereka yang berani berpikir seperti pemuda. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Unirow Tuban #pemuda Indonesia #Soedjarwoto Tjondronegoro #kolonialisme modern #Sumpah Pemuda