RADARBONANG.ID – Dulu, hidup “sempurna” di media sosial berarti feed serba rapi, outfit selalu on point, dan senyum tanpa cela di setiap postingan.
Tapi kini, tren itu pelan-pelan bergeser. Generasi Z, terutama para selebgram muda, mulai mengganti “kesempurnaan” dengan keaslian.
Alih-alih memoles semua hal agar tampak flawless, mereka justru memilih untuk tampil apa adanya — bahkan kalau itu berarti memperlihatkan hari-hari buruk, wajah tanpa filter, atau momen saat mental lagi drop.
Itulah kenapa istilah baru bermunculan di kalangan Gen Z: “authenticity is the new cool.”
Dari ‘Perfect Life’ ke ‘Real Life’: Revolusi Gaya Selebgram Gen Z
Jika kamu scroll Instagram atau TikTok akhir-akhir ini, kamu mungkin sadar: banyak selebgram Gen Z yang tidak lagi terobsesi dengan tone feed senada atau caption manis.
Contohnya, Keisya Levronka dan Ratu Rafa, dua figur publik muda yang sering membagikan cerita jujur soal overthinking, burnout, atau bahkan insecure di balik layar. Mereka tidak takut terlihat “tidak sempurna”.
“Justru karena real dan relatable, konten mereka jadi terasa lebih manusiawi,” ujar seorang pakar media digital dari Universitas Indonesia.
Netizen Lebih Suka yang Real daripada Pura-Pura Bahagia
Fenomena ini bukan tanpa alasan, Sebuah riset dari Pew Research Center menemukan bahwa 72% Gen Z lebih percaya influencer yang tampil apa adanya, ketimbang mereka yang terlihat “terlalu sempurna untuk jadi nyata”.
Mereka mencari sosok yang bisa jadi “teman virtual”, bukan “role model tak tersentuh”.
Di TikTok, tren seperti #BeReal, #UnfilteredMe, dan #HotMessTrend menjadi simbol perlawanan terhadap budaya palsu di media sosial.
Foto tanpa makeup, video sambil nangis, atau vlog tanpa edit justru viral dan banjir komentar positif.
Self-Love Jadi Gaya Hidup Baru
Gerakan ini juga beririsan dengan tren self-love dan mental health awareness yang makin kuat di kalangan anak muda.
Gen Z mulai menyadari bahwa tidak ada gunanya terus membandingkan diri dengan standar digital yang tidak realistis.
Mereka ingin menampilkan hidup yang seimbang: kerja keras iya, healing juga penting.
Karier keren oke, tapi mental sehat jauh lebih berharga.
Brand dan Dunia Digital Mulai Ikut Beradaptasi
Yang menarik, tren “authentic life” ini bukan cuma memengaruhi pengguna, tapi juga mengubah strategi brand dan agensi digital.
Kini, banyak merek memilih bekerja sama dengan influencer yang punya engagement tinggi karena kejujurannya — bukan karena jumlah followers semata.
Brand fashion lokal seperti Erigo dan Buttonscarves misalnya, mulai menggandeng konten kreator yang terbuka soal journey hidupnya, bukan hanya tampil sempurna di depan kamera.
Authenticity Adalah Valuta Baru Dunia Digital
Tren ini membuktikan bahwa di era Gen Z, keaslian adalah mata uang baru.
Feed estetik boleh tetap ada, tapi kini yang paling dicari adalah honesty — keberanian untuk jujur tentang kehidupan yang sesungguhnya, bukan sekadar pencitraan.
Dan mungkin, di situlah letak esensi media sosial yang sebenarnya — bukan tempat untuk berpura-pura, tapi ruang untuk berbagi cerita yang nyata.
Real is Rare, dan Itu yang Dicintai Gen Z
Di tengah gempuran filter dan algoritma, Gen Z memilih untuk jadi “real” ketimbang “perfect”.
Authenticity kini bukan sekadar tren, tapi bentuk perlawanan terhadap tekanan digital yang selama ini membuat banyak orang kehilangan jati diri.
Karena di dunia yang penuh kepalsuan, menjadi diri sendiri justru adalah hal paling keren yang bisa kamu lakukan. (*)
Editor : Muhammad Azlan Syah