RADARBONANG - Nasib petani kecil di Indonesia sering kali terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang tampak tak berujung.
Harga jual rendah, biaya produksi tinggi, dan akses pasar yang terbatas menjadi persoalan klasik yang diwariskan turun-temurun.
Namun, berbagai pemikir agraria dunia menegaskan bahwa kemiskinan petani bukanlah takdir, melainkan kegagalan sistem yang meminggirkan mereka dari tanah, kebijakan, dan kekuasaan.
Melalui lima buku penting berikut, pembaca diajak menelusuri akar persoalan agraria sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa bertani adalah tindakan politik dan ekologis untuk mempertahankan kehidupan.
Baca Juga: Raden Saleh dalam Lensa Werner Kraus: Persilangan Budaya Jawa dan Eropa di Awal Seni Lukis Modern
1. Revolusi Sebatang Jerami – Masanobu Fukuoka
Buku legendaris ini menjadi simbol perlawanan terhadap pertanian industri. Fukuoka memperkenalkan konsep “do-nothing farming” — bertani tanpa mencangkul, memupuk kimia, atau menggunakan pestisida.
Dengan pendekatan yang sederhana dan spiritual, ia membuktikan bahwa keselarasan dengan alam justru menghasilkan panen melimpah. Buku ini mengingatkan bahwa pertanian modern tak selalu identik dengan mesin dan racun kimia.
2. Petani dan Seni Bertani: Maklumat Chayanovian – Jan Douwe van der Ploeg
Jan Douwe van der Ploeg menghidupkan kembali gagasan Alexander Chayanov tentang ekonomi rumah tangga petani.
Ia menunjukkan bahwa petani bukan aktor ekonomi gagal, melainkan pekerja mandiri yang memiliki rasionalitas sendiri dalam mengelola waktu, tenaga, dan sumber daya. Buku ini mengkritik keras kebijakan neoliberal yang menghapus kemandirian petani kecil.
3. Modernisasi Pertanian dan Pembangunan Perdesaan di Tiongkok – Kong Xiangzhi, dkk.
Buku ini menyoroti perjalanan Tiongkok dalam mentransformasi sektor pertanian menuju modernitas. Namun, di balik kemajuan itu tersimpan paradoks: industrialisasi dan urbanisasi yang mengikis kehidupan pedesaan.
Para penulis menelusuri bagaimana pembangunan sering kali menyingkirkan petani dari tanah dan memperlebar jurang sosial. Refleksinya menjadi cermin berharga bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
4. Malamoi: Budaya Pangan, Tanah, dan Identitas – Laksmi A. Savitri & Zuhdi Siswanto
Melalui kisah masyarakat adat Malamoi di Papua Barat, buku ini menegaskan bahwa tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan identitas dan ruang budaya.
Para penulis mengupas bagaimana ekspansi kapital dan proyek pembangunan mengancam sistem pangan lokal yang telah teruji selama ratusan tahun.
5. Berebut Bali: Pergulatan Hak atas Ruang di Pulau Surga – Agung Wardana
Wardana membedah konflik agraria di Bali akibat pariwisata masif dan liberalisasi ruang. Ia menunjukkan bagaimana modernisasi yang tak berpihak justru menciptakan ketimpangan sosial dan hilangnya lahan pertanian produktif.
Buku ini membuka mata bahwa pembangunan bisa menjadi bentuk baru dari penggusuran halus.
Menumbuhkan Kesadaran, Bukan Sekadar Tanaman
Kelima buku ini sejalan dalam satu pesan: kemiskinan petani bukanlah takdir, melainkan kegagalan sistem yang tidak adil.
Membaca dan memahami karya-karya ini adalah langkah awal untuk menanam kesadaran baru — bahwa masa depan pangan bergantung pada keberanian kita memperjuangkan keadilan agraria.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah