Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Digital Boundaries: Cara Sehat Batasi Dunia Maya demi Mental dan Produktivitas

Siska Yudianti • Minggu, 21 September 2025 | 12:20 WIB
Digital boundaries adalah konsep membatasi diri untuk mengatur interaksi dengan dunia maya. Foto adalah ilustrasi.
Digital boundaries adalah konsep membatasi diri untuk mengatur interaksi dengan dunia maya. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID – Pernah merasa hidup tidak bisa jauh dari gadget? Bangun tidur, tangan langsung meraih smartphone.

Siang sibuk balas pesan dan mantau notifikasi. Malam menjelang tidur, masih sempat-sempatnya scroll timeline tanpa henti.

Kalau kebiasaan ini terdengar familiar, hati-hati! Itu pertanda kamu butuh digital boundaries alias batasan penggunaan dunia digital.

Fenomena ini semakin relevan di era serba online. Dari kerja, belajar, hingga hiburan, semuanya terhubung lewat layar.

Namun, tanpa disadari, aktivitas digital yang berlebihan bisa menggerus kesehatan mental. Mulai dari stres, gangguan tidur, hingga depresi.

Apa Itu Digital Boundaries?

Secara sederhana, digital boundaries adalah aturan pribadi untuk mengatur interaksi dengan dunia maya.

Konsep ini mirip seperti pola makan sehat atau olahraga rutin. Bedanya, yang dijaga adalah interaksi kita dengan teknologi.

Mengapa Batasan Online Jadi Penting?

Internet memang menawarkan kemudahan. Tapi terlalu lama online bisa membawa dampak negatif, misalnya:

Sebuah riset dari American Psychological Association (2024) menemukan, lebih dari 70% generasi muda mengaku merasa cemas jika sehari saja tidak membuka media sosial.

Fenomena ini menjadi alarm pentingnya membatasi diri di dunia digital.

Setiap orang bisa punya cara berbeda dalam membatasi diri dari dunia digital. Berikut beberapa contoh sederhana yang bisa kamu coba:

Menariknya, generasi Z yang dikenal paling aktif online justru mulai sadar pentingnya digital boundaries.

Berdasarkan laporan Global Digital Report 2025, sekitar 62% anak muda usia 18–25 tahun sudah mencoba digital detox, meski hanya beberapa jam hingga satu hari.

Di Indonesia, tren serupa juga terlihat. Banyak content creator mulai mengkampanyekan digital well-being.

Bahkan, sejumlah kampus dan perusahaan startup menerapkan aturan baru, seperti larangan meeting lewat WhatsApp setelah jam 7 malam, atau menyediakan ruang offline tanpa gadget.

Dampak Positif Membatasi Diri dari Dunia Digital

Manfaat digital boundaries bisa langsung dirasakan, di antaranya:

Digital boundaries bukan sekadar tren gaya hidup, tapi kebutuhan di era serba online.

Dengan membatasi interaksi digital, kita bisa menjaga kesehatan mental, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperbaiki kualitas hidup.

Ingat, dunia maya itu penting, tapi jangan sampai menguasai hidup.

Sesekali, beranilah menaruh ponsel, menutup laptop, dan benar-benar hadir di dunia nyata.

Karena pada akhirnya, kesehatan mental adalah investasi paling berharga. (*)

Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#scroll timeline #digital boundaries #kebiasaan #gadget #generasi z #Apa Itu #kesehatan mental