RADARBONANG.ID - Rasa takut ketinggalan informasi atau Fear of Missing Out (FOMO) sering menghantui pengguna media sosial.
Banyak orang merasa cemas ketika tidak membuka gawai dalam waktu tertentu, seolah ada informasi penting yang akan hilang begitu saja.
Padahal, tidak semua hal di media sosial itu benar-benar berarti.
Baca Juga: Paylater dan FOMO: Gaya Hidup Anti Ketinggalan atau Jalan Pintas Menuju Lubang Finansial?
Kuncinya ada pada pola pikir. Informasi yang benar-benar penting tetap akan sampai, meski Anda tidak selalu terhubung dengan media sosial.
Dengan menyadari hal ini, rasa cemas bisa berkurang, dan Anda pun lebih tenang saat memilih jeda dari layar.
Cara mengatasi FOMO dan mengelolanya agar tidak mengganggu kesehatan mental, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan.
Pertama, sadari bahwa wajar bila merasa tertinggal. Fokuslah pada apa yang sedang dijalani dan dimiliki saat ini, bukan pada apa yang lewat di linimasa.
Kedua, latih diri untuk menahan dorongan membuka media sosial. Saat jari otomatis ingin menyentuh layar, berhenti sejenak, tarik napas, lalu tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar-benar penting sekarang?”
Pertanyaan kecil ini mampu melawan kebiasaan impulsif membuka media sosial tanpa tujuan.
Selain itu, buat aturan pribadi. Misalnya, hanya membuka media sosial pada jam-jam tertentu.
Kebiasaan ini membantu otak terbiasa tidak selalu terikat dengan notifikasi.
Bahkan penelitian menunjukkan, mengurangi penggunaan media sosial bisa menurunkan tingkat kesepian dan depresi.
Mengisi waktu dengan aktivitas nyata juga sangat penting.
Olahraga, membaca buku, atau sekadar mengobrol langsung dengan teman dan keluarga dapat menjaga kesehatan jiwa sekaligus mencegah kelelahan digital akibat terlalu lama menatap layar.
Banyak orang, terutama generasi Z, sering terjebak dalam dilema: butuh istirahat dari media sosial untuk menjaga mental, tapi takut tertinggal informasi.
Kuncinya bukan menghindari sepenuhnya, melainkan menemukan keseimbangan.
Dengan mengelola FOMO secara bijak, media sosial bisa tetap dinikmati tanpa harus jadi sumber stres. (*)
Editor : Amin Fauzie