RADARBONANG.ID – Scroll Instagram sekarang bukan hanya soal outfit of the day (OOTD), kopi kekinian, atau destinasi liburan estetik.
Ada satu tren yang diam-diam bikin heboh dan justru membawa aroma positif: Bookstagram.
Ya, sebuah fenomena ketika anak muda membanjiri feed Instagram dengan foto-foto buku yang dikemas estetik, lengkap dengan ulasan singkat, kutipan favorit, hingga rekomendasi bacaan.
Pertanyaannya, apakah tren Bookstagram ini hanya sekadar gaya hidup digital atau benar-benar mampu menghidupkan kembali semangat membaca di kalangan generasi muda?
Bookstagram bukan sekadar pajangan buku dengan latar kopi panas, tanaman hias, atau selimut hangat.
Lebih dari itu, banyak akun Bookstagram yang konsisten memberikan review jujur, membangun diskusi seputar isi buku, hingga membuka ruang interaksi antarpecinta literasi.
Fenomena ini membuat buku kembali hadir dalam percakapan sehari-hari anak muda, bukan hanya lewat kelas atau tugas kuliah, tapi lewat dunia digital yang memang sudah jadi habitat mereka.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tren literasi di Indonesia memang meningkat pelan tapi pasti.
Kehadiran platform seperti Bookstagram disebut-sebut sebagai salah satu faktor pendorong. Buku yang dulu dianggap berat kini dipromosikan lewat visual yang menarik, menjadikannya lebih ramah bagi generasi yang terbiasa dengan konten singkat.
Namun, ada juga catatan kritis: sebagian anak muda hanya terjebak di sisi estetika—beli buku populer untuk dipajang di feed, tapi tidak pernah benar-benar dibaca.
Buku Fisik vs E-Book: Dua Dunia yang Bertemu di Bookstagram
Menariknya, Bookstagram juga memadukan dua dunia: pecinta buku fisik dan pengguna e-book.
Ada yang tetap setia dengan aroma kertas, ada pula yang mengunggah tangkapan layar dari e-reader. Semuanya bertemu di ruang yang sama: Instagram.
Jadi, Bookstagram Efektif atau Sekadar Tren?
Jawabannya: keduanya. Di satu sisi, Bookstagram memang bisa menjadi jebakan visual karena banyak yang lebih fokus pada feed estetik.
Tapi di sisi lain, ia membuka pintu besar bagi buku untuk kembali relevan di tengah derasnya arus konten digital.
Anak muda yang tadinya enggan membaca, setidaknya mulai penasaran.
Dari sekadar lihat sampul, bisa berkembang jadi baca review, lalu akhirnya beli atau pinjam buku.
Bookstagram telah membuktikan bahwa literasi bisa bertransformasi sesuai zaman.
Jika dulu membaca identik dengan kesunyian perpustakaan, kini membaca bisa jadi aktivitas sosial, interaktif, dan bahkan Instagrammable. (*)
Editor : Amin Fauzie