RADARBONANG.ID - Saat angin kemarau mulai kencang, langit kampung mulai berisik—tapi bukan karena pesawat atau drone. Melainkan suara khas nguuuEEEng yang keluar dari layangan sowangan, layangan tradisional bersuara yang kini kembali naik daun.
Di banyak wilayah Jawa Timur, terutama Tuban, Lamongan, Bojonegoro, hingga Madura, musim layangan sowangan selalu jadi momen yang ditunggu.
Tak cuma anak-anak, bapak-bapak pun ikut turun gunung membawa layangan raksasa bersuara dengan rangka dari bambu dan badan dari plastik atau kertas semen.
Apa Itu Layangan Sowangan?
Layangan sowangan adalah jenis layangan tradisional bersuara.
Disebut sowangan karena saat melayang di udara, layangan ini mengeluarkan suara khas seperti siulan panjang akibat adanya pita plastik yang di bentangkan dengan bambu dipasang secara khusus di atas kepala layang layang.
Bunyinya bisa panjang dan tajam, apalagi kalau terkena angin kencang.
Di beberapa daerah, layangan ini juga disebut “layangan klawangan atau “layangan bersiul”.
Suara yang keluar dari layangan sowangan bukan hasil teknologi tinggi, tapi justru dari teknik sederhana yang diwariskan turun-temurun:
- Menggunakan pita mika sebagai penggetar dan dibentangkan menggunakan bambu yang seimbang
- Dipasang di bagian kepala
- Saat terkena angin, pita ini bergetar dan mengeluarkan suara mendesis atau mendengung
- Menariknya, setiap layangan bisa mengeluarkan suara yang berbeda, tergantung bentuk, ukuran, dan bahan pembuatnya.
Layangan Sowangan: Budaya Kampung yang Bukan Sekadar Mainan
Musim sowangan bukan cuma musim bermain. Ini adalah:
- Musim kreativitas anak kampung
- Musim kebersamaan antar tetangga
- Musim adu gengsi antar pembuat layangan
- Musim nostalgia bagi yang dulu suka menerbangkan layangan sowangan
Layangan sowangan mengajarkan banyak hal, dari seni membuat bentuk aerodinamis, strategi terbang, hingga teknik membuat suara unik tanpa alat mahal.
Bahkan, sekarang ini jadi tren, beberapa video di TikTok memperlihatkan anak-anak Tuban dan Lamongan menaikkan layangan sowangan yang suaranya seperti pesawat jet mini.
Fenomena ini menarik perhatian banyak warganet dari kota besar, yang tak pernah mendengar atau melihat layangan bersuara seperti ini.
Lokasi Populer Musim Sowangan di Jawa Timur:
- Kecamatan Palang dan Bancar – Tuban
- Kecamatan Tikung – Lamongan
- Desa Wedi – Bojonegoro
- Kecamatan Kwanyar – Bangkalan, Madura
Setiap sore, di area persawahan atau lapangan desa, suara sowangan saling sahut-menyahut.
Ada yang melengking, ada yang gemuruh, bahkan ada yang seperti suara robot.
Tips Membuat Layangan Sowangan Sendiri:
- Gunakan rangka bambu ringan dan kuat
- Badan bisa dari plastik sablon atau kertas minyak
- Tambahkan pita plastik pipih di bagian kepala
- Pastikan sudutnya pas agar suara maksimal saat kena angin
- Uji coba saat angin stabil (biasanya jam 15.00–17.30)
Musim layangan sowangan adalah bukti bahwa kreativitas budaya kampung Indonesia tak pernah mati.
Di tengah gempuran gadget dan game digital, suara khas sowangan masih menggema di langit desa, menjadi simbol budaya, nostalgia, dan kebahagiaan sederhana yang sulit digantikan.
Jadi, kalau sore-sore kamu dengar suara mendengung panjang dari langit, jangan buru-buru panik.
Itu bukan sirene, bukan juga drone asing. Bisa jadi itu sowangan dari anak-anak kampung yang sedang menikmati kemarau. (*)