RADARBONANG.ID - D.N. Aidit, salah satu tokoh politik paling berpengaruh pada era 1950–1960-an, tidak hanya dikenang sebagai pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI), tetapi juga sebagai pemikir politik yang menekankan pentingnya demokrasi berbasis rakyat.
Gagasan-gagasan tersebut tertuang dalam bukunya berjudul Jalan ke Demokrasi Rakyat Bagi Indonesia, yang terbit pada awal dekade 1950-an.
Buku ini menawarkan strategi politik yang dianggap relevan dengan kondisi Indonesia pasca-kemerdekaan.
Baca Juga: Hyundai Siapkan Inster EV Masuk Indonesia – Bakal Jadi Penantang Serius di Segmen Mobil Listrik
Aidit menekankan bahwa demokrasi tidak boleh berhenti pada formalitas pemilu semata, melainkan harus dibangun dari bawah—yakni melalui partisipasi rakyat dalam menentukan arah pembangunan, kebijakan ekonomi, hingga pengawasan terhadap kekuasaan.
Dalam bukunya, Aidit menyoroti ketimpangan sosial dan ekonomi yang masih melekat pada struktur masyarakat Indonesia.
Menurutnya, demokrasi sejati hanya mungkin tercapai jika rakyat kecil memiliki akses terhadap pendidikan, tanah, dan sumber daya produksi. Dengan begitu, demokrasi bukan hanya menjadi ruang politik elite, melainkan juga jalan bagi rakyat untuk memperjuangkan kesejahteraan.
Strategi politik yang ditawarkan Aidit dalam Jalan ke Demokrasi Rakyat Bagi Indonesia mencakup pembangunan organisasi rakyat, penguatan serikat buruh, serta keberpihakan negara kepada kaum tani.
Ia melihat kelompok-kelompok ini sebagai tulang punggung perubahan sosial. Demokrasi, dalam pandangan Aidit, lahir dari mobilisasi rakyat secara kolektif, bukan hanya keputusan di ruang parlemen.
Meski pemikiran ini kerap diperdebatkan, terutama karena kaitannya dengan ideologi komunisme, warisan intelektual Aidit tetap penting untuk dibaca ulang.
Pemikirannya menantang kita untuk meninjau kembali arti demokrasi dalam konteks Indonesia kontemporer, di mana persoalan ketimpangan sosial, politik oligarki, dan lemahnya partisipasi warga masih menjadi tantangan besar.
Membaca ulang karya Aidit bukan berarti menghidupkan kembali ideologi masa lalu, melainkan sebagai refleksi tentang bagaimana demokrasi bisa lebih berpihak kepada rakyat.
Bagi sebagian kalangan akademisi, buku ini juga menjadi catatan sejarah pemikiran politik Indonesia, yang memperlihatkan dinamika dan perdebatan ideologis di masa awal republik.
Kini, lebih dari enam dekade sejak buku itu diterbitkan, gagasan “demokrasi dari bawah” kembali menemukan relevansinya.
Saat rakyat kerap merasa jauh dari proses pengambilan keputusan, warisan pemikiran Aidit mengingatkan bahwa demokrasi sejati harus berangkat dari kepentingan rakyat, bukan sekadar prosedur politik.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah