RADARBONANG.ID - Minat baca anak-anak Indonesia menunjukkan tren yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada pertengahan 2025, penjualan buku anak meningkat hingga 17% dibanding tahun sebelumnya.
Salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan ini adalah kehadiran buku-buku bergambar dan interaktif yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam berbagai pameran buku nasional, termasuk Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025 yang digelar beberapa bulan lalu, buku anak menjadi salah satu segmen yang paling diminati pengunjung.
Para orang tua, guru, bahkan komunitas literasi tampak aktif mencari buku-buku yang tidak hanya menyajikan cerita menarik, tetapi juga dilengkapi dengan ilustrasi warna-warni, pop-up, hingga fitur Augmented Reality (AR).
"Anak-anak zaman sekarang sangat visual. Mereka lebih mudah menyerap informasi lewat gambar dan aktivitas. Karena itu, buku bergambar dan interaktif menjadi kunci dalam menumbuhkan minat baca sejak dini," ujar Rina Mulyani, editor senior di salah satu penerbit buku anak nasional, saat diwawancarai di ajang IIBF 2025.
Tren ini juga sejalan dengan kurikulum Merdeka Belajar yang menekankan pendekatan kreatif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran.
Buku-buku yang menyuguhkan cerita pendek dengan pesan moral, ditambah aktivitas seperti mewarnai, menempel stiker, atau bahkan memindai QR code untuk mengakses konten tambahan, terbukti sangat membantu guru dalam mengajarkan literasi dasar di jenjang PAUD dan SD.
Tak hanya penerbit besar, pelaku usaha kecil dan penulis independen juga turut meramaikan pasar dengan konten yang lokal dan relevan.
Buku cerita rakyat bergambar, misalnya, kembali naik daun karena dikemas ulang dengan ilustrasi modern dan bahasa yang ringan.
Selain menumbuhkan cinta membaca, buku jenis ini juga mengenalkan budaya dan nilai-nilai luhur sejak dini.
Meskipun dominasi teknologi digital tak terbantahkan, orang tua masih memandang buku fisik sebagai media utama untuk membangun kedekatan dengan anak.
“Membacakan buku cerita sebelum tidur jadi momen bonding yang berharga. Buku fisik memberikan pengalaman yang tak bisa digantikan layar digital,” ungkap Desi Ratnasari, ibu dua anak dan pegiat komunitas membaca.
Melihat antusiasme yang tinggi, penerbit nasional kini terus mengembangkan kolaborasi dengan ilustrator, pendidik, serta psikolog anak untuk menciptakan buku yang tidak hanya menarik, tapi juga edukatif dan aman bagi perkembangan usia.
Dengan meningkatnya minat baca anak dan dukungan berbagai pihak, harapan akan lahirnya generasi literat di masa depan kian terbuka lebar.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah