Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

"Sore: Istri dari Masa Depan" dan Teori Time Traveler yang Bikin Penonton Mikir Dua Kali

Muhammad Azlan Syah • Senin, 28 Juli 2025 | 14:05 WIB

Sore (diperankan oleh Sheila Dara) muncul dalam kehidupan Jonathan dengan membawa rahasia besar dari masa depan—membuka ruang bagi teori time traveler yang menggugah pikiran penonton.
Sore (diperankan oleh Sheila Dara) muncul dalam kehidupan Jonathan dengan membawa rahasia besar dari masa depan—membuka ruang bagi teori time traveler yang menggugah pikiran penonton.

RADARBONANG.ID - Film Sore: Istri dari Masa Depan garapan Yandi Lauren bukan sekadar drama romantis yang manis, namun juga menyimpan teka-teki ilmiah dan filosofis yang membuat penonton berpikir dua kali.

Dengan pendekatan fiksi ilmiah ringan, film ini mengangkat konsep perjalanan waktu yang dibungkus dalam kisah cinta sederhana, namun menggelitik rasa penasaran akan kemungkinan masa depan yang bisa ‘datang lebih dulu’.

Cerita bermula dari pertemuan Jonathan (Dion Wiyoko) dengan perempuan misterius bernama Sore (Sheila Dara).

Baca Juga: Bagaimana Lagu Barasuara & Adhitia Sofyan Menghidupkan Emosi di Film “Sore”

Mengaku berasal dari masa depan, Sore membawa pesan dan misi yang mengubah cara pandang Jonathan terhadap hidupnya.

Di sinilah teori time traveler mulai menjadi titik krusial dari cerita. Apakah Sore benar-benar dari masa depan? Ataukah ia hanya representasi dari penyesalan dan harapan Sam sendiri?

Dalam kacamata fiksi ilmiah, film ini seolah bermain di wilayah teori deterministic timeline, di mana masa depan sudah ditentukan dan kehadiran Sore menjadi katalis yang memastikan peristiwa tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, beberapa penonton justru menafsirkan film ini sebagai bentuk time loop atau bahkan multiverse, tergantung dari bagaimana mereka memahami narasi.

Yandi Lauren sebagai sutradara tampaknya memang tak berniat menjelaskan secara ilmiah konsep waktu dalam filmnya. Sebaliknya, ia memilih menjadikan waktu sebagai “karakter” yang hadir secara emosional.

Alih-alih menjelaskan bagaimana Sore bisa datang dari masa depan, film ini lebih fokus pada pengaruh kehadirannya dalam hidup Jonathan: perubahan cara pandang, perbaikan diri, dan kesiapan menghadapi konsekuensi.

Fenomena ini menarik karena membuka ruang diskusi di kalangan penonton muda, terutama mereka yang terbiasa dengan teori-teori fisika populer seperti The Grandfather Paradox atau Butterfly Effect.

Tak sedikit yang kemudian membandingkan Sore dengan film-film seperti About Time atau The Time Traveler’s Wife, yang juga menggabungkan romansa dengan elemen perjalanan waktu.

Pada akhirnya, Sore menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kisah cinta. Ia menyodorkan pertanyaan: jika kamu bisa bertemu seseorang dari masa depan yang mengaku sebagai pasangan hidupmu, apakah kamu akan percaya? Atau justru mempertanyakan takdir yang tampaknya terlalu cepat datang?

Dengan pendekatan visual yang hangat dan cerita yang menyentuh, Sore: Istri dari Masa Depan menjadi contoh bagaimana fiksi ilmiah bisa tampil dalam balutan narasi lokal yang relevan dan emosional.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#film Yandi Lauren #teori time traveler film Sore #time treveller #Sore istri dari masa depan