Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Paylater dan FOMO: Gaya Hidup Anti Ketinggalan atau Jalan Pintas Menuju Lubang Finansial?

Arinie Khaqqo • Senin, 28 Juli 2025 | 19:05 WIB
Paylater kini jadi gaya hidup baru yang menyimpan dilema antara solusi cepat atau sumber masalah keuangan. Foto adalah ilustrasi.
Paylater kini jadi gaya hidup baru yang menyimpan dilema antara solusi cepat atau sumber masalah keuangan. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID - Diskon flash sale datang, notifikasi Shopee bunyi, teman baru checkout barang lucu, dan kamu belum belanja apa-apa.

Akhirnya, klik bayar nanti. Kedengarannya praktis dan kekinian.

Tapi di balik itu, Paylater kini jadi gaya hidup baru yang menyimpan dilema: solusi cepat atau sumber masalah keuangan jangka panjang?

Fenomena beli sekarang bayar nanti yang makin marak justru menyatu erat dengan budaya FOMO (Fear of Missing Out).

Semakin takut tertinggal tren, semakin besar kemungkinan kita memakai fitur Paylater tanpa mikir dua kali.

Menurut survei dari Katadata Insight Center 2025, 41% pengguna Paylater mengaku pernah telat bayar karena tidak sadar jumlah tagihannya membengkak.

Sementara 63% lainnya memakai Paylater untuk membeli barang non-esensial seperti fashion, gadget, atau tiket konser.

Fenomena ini bukan cuma soal konsumtif, tapi lebih ke tekanan sosial.

Banyak orang merasa harus ‘ikut tren’ demi eksistensi, walau harus gali lubang tutup lubang.

FOMO: Pemicu Belanja Impulsif yang Tak Disadari

FOMO membuat banyak orang merasa harus punya sekarang juga, apalagi saat melihat teman, influencer, atau idola menggunakan produk tertentu.

Media sosial memperparah kondisi ini dengan menciptakan ilusi bahwa semua orang bisa beli apa pun, kapan pun.

Paylater pun jadi jembatan antara keinginan dan kenyataan, meskipun kadang ujung-ujungnya berujung ke dompet berdarah-darah saat jatuh tempo.

Gali Lubang Tutup Lubang: Realita Baru Digital Anak Muda?

Tak sedikit pengguna Paylater yang menggunakan satu Paylater untuk membayar tagihan Paylater lainnya, atau menutupnya dengan pinjaman online lain.

Siklus ini menciptakan utang berlapis yang bisa menjebak seseorang dalam masalah finansial jangka panjang.

“Awalnya niat beli skincare diskon, ujung-ujungnya nunggak Rp800 ribu. Bunga jalan terus. Gaji masuk cuma lewat doang,” curhat seorang pengguna Paylater yang minta identitasnya disamarkan.

Tips Anti-FOMO Saat Godaan Paylater Menghantui

Ingat, yang pamer di sosmed belum tentu bebas cicilan.

Fitur Paylater bisa membantu jika digunakan dengan bijak, misalnya untuk kebutuhan darurat atau transaksi terencana.

Tapi jika hanya untuk memenuhi rasa takut ketinggalan tren, kamu justru bisa kehilangan kendali finansial.

Karena di era digital ini, yang paling keren bukan yang paling update, tapi yang tetap punya kontrol atas hidup dan dompetnya. (*)

Editor : Amin Fauzie
#masalah keuangan #fenomena #PayLater #pinjaman online #beli sekarang bayar nanti #fitur