RADARBONANG.ID - Popularitas konten filsafat di media sosial kini meroket, dan nama Ferry Irwandi menjadi salah satu tokoh yang paling mencolok di antara gelombang pemikiran digital ini.
Lewat video-videonya yang renyah dan penuh analogi sederhana, Ferry berhasil menarik ribuan orang untuk mulai menyelami dunia filsafat—tanpa rasa takut atau merasa tertinggal.
Salah satu efek paling nyata dari fenomena ini adalah meningkatnya minat baca terhadap buku-buku filsafat, terutama dari kalangan pemula.
Namun, banyak di antaranya yang bingung harus mulai dari mana. Berikut ini lima rekomendasi buku filsafat yang cocok bagi pemula—termasuk kamu yang baru mengenal dunia ini lewat konten Ferry Irwandi.
1. “Filsafat untuk Pemula” – Richard Osborne & Ralph Edney
Buku ini adalah pilihan yang sangat pas sebagai gerbang awal. Dengan format grafis dan bahasa ringan, pembaca diajak mengenal tokoh-tokoh besar seperti Plato, Kant, hingga Nietzsche tanpa merasa terintimidasi.
2. “Dunia Sophie” – Jostein Gaarder
Novel ini menyajikan filsafat dalam bentuk cerita fiksi. Pembaca mengikuti petualangan Sophie yang menemukan surat-surat misterius dan pelajaran filsafat yang disusun seperti kisah detektif. Sangat cocok untuk pelajar atau pembaca muda.
3. “The Consolations of Philosophy” – Alain de Botton
Dengan gaya khasnya yang reflektif, de Botton mengaitkan pemikiran filsuf-filsuf klasik seperti Seneca dan Schopenhauer dengan masalah sehari-hari: patah hati, kegagalan, dan kecemasan. Relevan dan menyentuh.
4. “Letters from a Stoic” – Seneca
Bagi yang tertarik mendalami Stoikisme—topik favorit Ferry Irwandi—kumpulan surat dari Seneca ini bisa menjadi titik awal. Praktis, reflektif, dan penuh kebijaksanaan yang relevan di era modern.
5. “Filsafat sebagai Cara Hidup” – Pierre Hadot
Buku ini menyoroti bagaimana filsafat tidak hanya sebatas teori, tapi juga praktik hidup sehari-hari. Hadot membongkar cara filsuf kuno menjadikan pemikiran sebagai bagian dari tindakan nyata.
Tak bisa dimungkiri, gaya penyampaian Ferry Irwandi telah membuka pintu bagi banyak orang untuk tidak lagi melihat filsafat sebagai sesuatu yang “berat” atau “elitis”.
Justru, ia menghadirkan filsafat sebagai alat untuk memahami diri sendiri dan dunia sekitar secara lebih jernih.
Dengan membaca buku-buku di atas, penikmat konten filsafat bisa memperdalam pemahaman mereka sekaligus membentuk pijakan intelektual yang lebih kuat.
Karena pada akhirnya, seperti kata Epictetus, “Bukan hal-hal yang membuat kita cemas, tapi cara kita memandang hal-hal itu.”
Editor : Muhammad Azlan Syah