Naskah-naskah Sapardi yang telah lama tersimpan kini hadir dalam bentuk buku berjudul Rubaiyat den Sastro, yang diterbitkan oleh Indonesia Tera.
Kumpulan sajak ini berisi puisi-puisi yang pernah ia percayakan kepada sahabat karibnya, Reda Gaudiamo, untuk dijaga dan kelak disampaikan kepada pembaca.
Dikutip dari hypeabis.id, Reda Gaudiamo mengenang momen yang tak biasa dua dekade silam. Suatu hari, Sapardi Djoko Damono memanggilnya ke kampus tanpa banyak penjelasan.
Setibanya di sana, sang penyair legendaris menyodorkan sebuah amplop cokelat. Tak ada upacara, tak ada pengantar panjang.
Di dalam amplop sederhana itulah, tersimpan sajak-sajak yang kelak menjadi bagian dari Rubaiyat Den Sastro—karya yang baru diterbitkan dua puluh tahun kemudian.
Bagi Reda, pertemuan singkat itu menjadi awal dari amanah panjang yang baru benar-benar terselesaikan setelah kepergian Sapardi.
“Waktu itu bapak Sapardi bilang 'aku punya puisi baru loh'. Ya, itu puisi yang ada di amplop cokelat ini,” jelasnya.
Buku setebal 84 halaman ini menampilkan gaya bahasa liris khas Sapardi: sederhana, tak berlebihan, namun mendalam.
Lewat persona “Den Sastro”, ia seolah mengundang pembaca untuk berdialog.
Tema cinta, waktu berlalu, dan kesementaraan hidup dibalut dengan simbol-simbol yang akrab—sejenak menyeruput kopi, jeda dalam kesendirian, lalu melanjutkan percakapan batin.
Baca Juga: Belajar Hidup Santai dari Kucing: Filosofi Anti-Stres ala Stéphane Garnier
Sebagaimana dikupas dalam beberapa ulasan, Rubaiyat Den Sastro menghadirkan sastra yang lembut dan reflektif, sekaligus menyentuh kebermaknaan hidup dalam kehidupan modern.
Resensi dan Harga Jual
Di toko online seperti Mizanstore, buku ini tersedia dengan harga Rp 55.000 per eksemplar—harga yang tergolong terjangkau untuk sebuah karya terakhir dari penyair nasional legendaris.
Desain interior dan sampul menggunakan kertas Art Carton 230 gr yang elegan, menambah nilai estetika koleksi.
Para pembaca awal di media sosial menyebut buku ini sebagai “pegangan spiritual di tengah kegelisahan zaman”—pujian spontan yang menunjukkan resonansi emosional kuat antara karya dan pembacanya.(*)