Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Warisan Terakhir Sang Maestro: Rubaiyat Den Sastro Sebagai Salam Perpisahan Sapardi

Muhammad Azlan Syah • Sabtu, 5 Juli 2025 | 16:05 WIB
Reda Gaudiamo (kiri) memegang amanah terakhir Sapardi Djoko Damono (kanan) lewat naskah sajak yang kemudian diterbitkan menjadi buku Rubaiyat Den Sastro. Buku tersebut menampilkan ilustrasi khas karya
Reda Gaudiamo (kiri) memegang amanah terakhir Sapardi Djoko Damono (kanan) lewat naskah sajak yang kemudian diterbitkan menjadi buku Rubaiyat Den Sastro. Buku tersebut menampilkan ilustrasi khas karya

RADARBONANG.ID - Dalam sunyi yang puitis, Sapardi Djoko Damono berpamitan.

Bukan lewat konferensi pers, bukan pula lewat upacara megah. Ia berpamitan dengan cara yang paling ia kuasai: lewat sajak.

Salah satu penyair paling dicintai Indonesia ini meninggalkan warisan terakhirnya dalam bentuk buku puisi bertajuk Rubaiyat Den Sastro—sebuah karya yang bukan hanya menyentuh, tapi juga menyimpan napas terakhir sang maestro.

Karya ini muncul ke permukaan beberapa tahun setelah wafatnya Sapardi pada 19 Juli 2020.

Disusun dari naskah yang ditulisnya jauh sebelum akhir hayat, Rubaiyat Den Sastro adalah percakapan batin antara seorang manusia dengan waktu, cinta, dan takdir.

Namun kali ini, Sapardi tak menyampaikannya dengan gayanya yang biasa. Ia hadir melalui suara Den Sastro, tokoh rekaan yang seperti cerminan dirinya sendiri: jenaka, bijak, dan kontemplatif.

Bagi para pencinta puisi dan kesusastraan Indonesia, buku ini terasa seperti salam sunyi terakhir.

Sebuah undangan untuk merenung, mengenang, dan menyerap makna-makna kecil dalam kehidupan.

Dan dalam setiap larik, ada bisikan halus dari Sapardi yang seolah berkata, “Aku sudah selesai berbicara. Kini giliran kalian mendengarkan.”

Naskah-naskah Sapardi yang telah lama tersimpan kini hadir dalam bentuk buku berjudul Rubaiyat den Sastro, yang diterbitkan oleh Indonesia Tera.

Kumpulan sajak ini berisi puisi-puisi yang pernah ia percayakan kepada sahabat karibnya, Reda Gaudiamo, untuk dijaga dan kelak disampaikan kepada pembaca.

Dikutip dari hypeabis.id, Reda Gaudiamo mengenang momen yang tak biasa dua dekade silam. Suatu hari, Sapardi Djoko Damono memanggilnya ke kampus tanpa banyak penjelasan.

Setibanya di sana, sang penyair legendaris menyodorkan sebuah amplop cokelat. Tak ada upacara, tak ada pengantar panjang.

Di dalam amplop sederhana itulah, tersimpan sajak-sajak yang kelak menjadi bagian dari Rubaiyat Den Sastro—karya yang baru diterbitkan dua puluh tahun kemudian.

Bagi Reda, pertemuan singkat itu menjadi awal dari amanah panjang yang baru benar-benar terselesaikan setelah kepergian Sapardi.

“Waktu itu bapak Sapardi bilang 'aku punya puisi baru loh'. Ya, itu puisi yang ada di amplop cokelat ini,” jelasnya.

Buku setebal 84 halaman ini menampilkan gaya bahasa liris khas Sapardi: sederhana, tak berlebihan, namun mendalam.

Lewat persona “Den Sastro”, ia seolah mengundang pembaca untuk berdialog.

Tema cinta, waktu berlalu, dan kesementaraan hidup dibalut dengan simbol-simbol yang akrab—sejenak menyeruput kopi, jeda dalam kesendirian, lalu melanjutkan percakapan batin.

Baca Juga: Belajar Hidup Santai dari Kucing: Filosofi Anti-Stres ala Stéphane Garnier

Sebagaimana dikupas dalam beberapa ulasan, Rubaiyat Den Sastro menghadirkan sastra yang lembut dan reflektif, sekaligus menyentuh kebermaknaan hidup dalam kehidupan modern.

Resensi dan Harga Jual

Di toko online seperti Mizanstore, buku ini tersedia dengan harga Rp 55.000 per eksemplar—harga yang tergolong terjangkau untuk sebuah karya terakhir dari penyair nasional legendaris.

Desain interior dan sampul menggunakan kertas Art Carton 230 gr yang elegan, menambah nilai estetika koleksi.

Para pembaca awal di media sosial menyebut buku ini sebagai “pegangan spiritual di tengah kegelisahan zaman”—pujian spontan yang menunjukkan resonansi emosional kuat antara karya dan pembacanya.(*)

 

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Rubaiyat Den Sastro #Reda Gaudiamo #Karya terakhir Sapardi Djoko Damono