RADARBONANG.ID – Siapa sangka, belut, hewan licin ini justru bisa jadi ladang uang yang menggiurkan.
Ya, belut! Kini, bisnis ternak belut dalam terpal mulai jadi primadona baru di kalangan milenial dan pelaku UMKM.
Dengan modal kecil, tapi cuan yang ditawarkan bisa berkali lipat.
Bukan isapan jempol—faktanya, banyak pelaku usaha ini yang mendadak tajir hanya dalam hitungan bulan.
Berawal dari lahan sempit dan terpal plastik yang harganya tak seberapa, budidaya belut kini dilirik karena tidak butuh kolam permanen, ramah lingkungan, dan bisa dilakukan di halaman rumah.
Bahkan, dengan teknologi sederhana dan pakan alami seperti keong, sisa nasi, dan limbah dapur, pembesaran belut bisa dipercepat hingga siap panen dalam waktu 3–4 bulan.
Modal Rp1 Jutaan Bisa Mulai
Salah satu pelaku usaha ternak belut di Cirebon, Raka Pratama (28), mengungkapkan bahwa bisnis ini bisa dimulai hanya dengan modal sekitar Rp1–2 juta.
“Saya awalnya coba-coba, karena lihat YouTube. Eh, ternyata laku banget di pasar lokal dan restoran. Sekarang saya punya 8 kolam terpal,” ujarnya sebagaimana dikutip dari Jawapos.com.
Dalam satu kolam terpal ukuran 2x3 meter, bisa ditebar hingga 1.000 bibit belut.
Jika dirawat dengan baik, belut bisa tumbuh hingga ukuran konsumsi 150–200 gram per ekor, dan dijual dengan harga Rp35.000–Rp50.000 per kilogram.
Bayangkan, dari satu kolam saja bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah per panen.
Kenapa Belut?
Selain permintaan pasar yang tinggi, belut dikenal kaya protein dan memiliki khasiat kesehatan seperti meningkatkan stamina hingga memperbaiki jaringan tubuh.
Tak heran, permintaan belut terus naik, terutama dari restoran Jepang, pecel lele, hingga industri pengolahan abon dan keripik belut.
Tak hanya itu, budidaya belut juga dinilai lebih ramah lingkungan.
Tidak memerlukan air mengalir seperti lele, dan limbahnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Kiat Sukses Ternak Belut dalam Terpal
Buat kamu yang tertarik memulai bisnis ini, berikut beberapa tips yang bisa jadi panduan:
- Pilih bibit belut yang sehat dan aktif.
- Gunakan media lumpur sawah yang dicampur jerami dan kompos.
- Perhatikan sirkulasi udara dan kelembapan.
- Beri pakan alami secara rutin, 1–2 kali sehari.
- Lakukan panen saat belut sudah berukuran konsumsi.
Meski sudah mulai dilirik, nyatanya belum banyak yang benar-benar serius menggeluti bisnis ini.
Artinya, peluang masih terbuka lebar! Apalagi, tren back to nature dan konsumsi pangan lokal tengah naik daun.
Dengan sedikit kreativitas, kamu juga bisa menjual olahan belut siap saji, seperti keripik belut, abon belut, hingga sate belut yang kini mulai viral di media sosial.
Jadi, masih ragu memulai? Jangan sampai belut-belut ini justru jadi rezeki orang lain.
Dari terpal plastik yang murah, kamu bisa menghasilkan emas licin yang mengalir terus ke rekening! (*)
Editor : Amin Fauzie