RADARBONANG.ID - Pernyataan Ulil Abshar Abdalla dalam acara Rosi yang menyebut bahwa kekhawatiran lingkungan hanyalah bagian dari “kebingungan intelektual” memicu gelombang kritik di ruang publik.
Banyak kalangan menilai pernyataan tersebut minim landasan ilmiah, terlebih saat isu perubahan iklim kian mendesak secara global.
Sebagai kontras tajam terhadap pandangan tersebut, hadir buku The Uninhabitable Earth (2019) karya David Wallace-Wells—seorang jurnalis dan peneliti yang mendalami isu iklim secara mendalam.
Buku ini membuka mata publik bahwa krisis iklim bukan sekadar kekhawatiran aktivis, melainkan sebuah bencana struktural berbasis sains.
Dalam 12 bab, Wallace-Wells menyajikan data kuantitatif dan temuan ilmiah yang mengupas dampak krisis iklim: dari naiknya permukaan air laut, melebarnya wilayah kekeringan, hingga meningkatnya penyakit tropis.
Semua didukung oleh hasil studi IPCC dan temuan dari jurnal Nature hingga The Lancet.
Buku ini sekaligus mematahkan argumen populer yang kerap digunakan tokoh publik: bahwa perubahan iklim hanyalah bagian dari “siklus alamiah.”
Sebaliknya, Wallace-Wells menunjukkan bahwa aktivitas manusia—terutama dalam sistem ekonomi dan energi fosil—adalah penyebab utama percepatan krisis ini.
Pernyataan Gus Ulil yang menyederhanakan isu lingkungan menjadi semacam kritik budaya terhadap kelas menengah urban justru memperlihatkan betapa pentingnya literasi iklim.
Tanpa dasar ilmiah yang kuat, diskursus publik akan terus diwarnai dengan narasi yang salah arah.
Buku The Uninhabitable Earth tidak hanya mengedukasi, tetapi juga mendesak kita untuk bertindak.
Ia menunjukkan bahwa berpikir ilmiah dan logis soal lingkungan adalah keharusan zaman, bukan sekadar idealisme elit.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah