RADARBONANG.ID – Misteri Atlantis selama berabad-abad terperangkap dalam kabut sejarah dunia kuno dan mitologi.
Namun, buku Atlantis Nusantara karya Ahmad Yanuana Samantho mencoba menjungkirbalikkan narasi global dengan satu gagasan revolusioner: bahwa Atlantis bukan di Laut Atlantik, melainkan di kawasan Nusantara—Indonesia.
Dalam buku setebal lebih dari 400 halaman itu, Ahmad Yanuana Samantho merangkum hipotesis-hipotesis yang sebelumnya berserakan dari para peneliti independen maupun ilmuwan alternatif.
Diantaranya adalah Arysio Santos dan Stephen Oppenheimer, untuk kemudian menyusunnya dalam satu kerangka berpikir yang menyatukan geologi, mitologi, linguistik, dan spiritualitas.
Mengapa Indonesia?
Penulis mengawali bukunya dengan mengutip pernyataan Plato tentang Atlantis—sebuah pulau besar di luar Selat Gibraltar yang tenggelam akibat bencana dahsyat ribuan tahun lalu.
Bagi Ahmad, deskripsi Plato justru lebih cocok jika dibandingkan dengan topografi dan kondisi geologis Indonesia, terutama wilayah seperti Sumatra, Jawa, dan bagian barat Papua.
Didukung oleh teori tentang letusan Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu dan turunnya daratan akibat pergeseran tektonik, Ahmad mengklaim bahwa Nusantara adalah lokasi paling masuk akal sebagai pusat peradaban maju kuno yang hilang.
Bukti Geologis dan Mitologis
Ahmad Y. Samantho tak hanya bertumpu pada naskah kuno atau tafsir mistik. Ia juga menyertakan peta purba dan riset geologi sebagai penguat argumennya.
Salah satunya mengutip hasil penelitian ahli geoteknik seperti Dr. Danny Hilman Natawidjaja, yang menemukan struktur megalitikum misterius di Gunung Padang, Cianjur—yang diperkirakan lebih tua dari piramida Mesir.
Selain itu, berbagai mitos lokal seperti cerita tentang Lemuria, Pulau Nusa, hingga kisah “tanah hilang” dalam budaya Bali, Jawa, dan Bugis disajikan untuk mengaitkan ingatan kolektif masyarakat dengan keberadaan peradaban purba serupa dengan kisah yang sering kita dengar dalam misteri Atlantis.
Antara Sejarah Alternatif dan Imajinasi Nasionalisme
Buku ini tidak hanya dibaca sebagai karya sejarah alternatif, namun juga sebagai seruan terhadap kebangkitan kesadaran budaya dan jati diri bangsa.
“Jika benar Indonesia adalah tempat lahirnya peradaban manusia, maka kita sedang berdiri di atas tanah suci peradaban,” tulis Ahmad.
Namun, tentu tidak semua kalangan akademik sepakat.
Dikutip dari Kompas.com, Dr. Eko Yulianto Pakar geologi dari LIPI (sekarang BRIN) menyatakan bahwa teori semacam ini menarik tetapi perlu diuji dengan standar ilmiah yang ketat.
Menurutnya, terlalu banyak asumsi yang belum dapat dibuktikan secara empiris.
Daya Tarik Bagi Pembaca Awam
Meski banyak pihak meragukan validitas ilmiahnya, buku Atlantis Nusantara tetap menarik bagi pembaca umum.
Gaya penulisan Ahmad yang lugas dan reflektif membuat topik berat menjadi mudah dipahami.
Tak jarang, buku ini menjadi perbincangan hangat di komunitas spiritual, pecinta sejarah, hingga forum diskusi kebangsaan.
Atlantis Nusantara adalah sebuah upaya untuk melihat sejarah dari sudut pandang yang berbeda.
Terlepas dari kontroversinya, buku ini memberikan ruang untuk mempertanyakan dan meninjau kembali narasi sejarah global seperti misteri atlantis yang selama ini didominasi oleh perspektif Barat.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah