RADARBONANG - Menjadi orang tua bukan sekadar memberikan kasih sayang dan memenuhi segala kebutuhan anak.
Sebelum memulai pernikahan, sangat penting bagi setiap orang untuk memahami ilmu tentang pola asuh anak.
Pengetahuan ini akan menjadi dasar yang penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis, sehat, dan saling mendukung secara emosional.
Psikolog Livina S. Suryanata, M. Psi. , menyatakan bahwa cara orang tua mendidik sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter dan masa depan anak.
Dia mendorong pasangan yang akan menikah untuk mulai mempersiapkan diri dengan pengetahuan dasar mengenai cara mendidik anak sebelum mereka mengambil keputusan untuk berumah tangga.
“Peran sebagai orang tua adalah tanggung jawab seumur hidup. Sayangnya, banyak yang tidak siap secara mental karena belum memahami prinsip pengasuhan,” kata Livina.
Berikut ini adalah empat tipe pola asuh yang umum dikenal dalam psikologi, beserta dampaknya terhadap perkembangan anak:
1. Pola Asuh Otoriter
Pada pola asuh otoriter, orang tua menetapkan peraturan yang ketat dan mengharapkan kepatuhan penuh dari anak.
Komunikasi hanya berjalan searah—anak hanya mendengar tanpa diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat. Meskipun terlihat tegas, pendekatan ini kurang memberikan kasih sayang.
Akibatnya, anak dapat tumbuh menjadi individu yang takut membuat keputusan, kurang percaya diri, atau bahkan menjadi pembangkang akibat tekanan yang berlebihan.
2. Pola Asuh Demokratis
Pola ini dianggap yang paling ideal. Orang tua membuat aturan dengan jelas, tetapi tetap memberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menunjukkan kasih sayang.
Anak didengarkan, diberikan pilihan, dan dibantu untuk memahami alasan di balik setiap keputusan orang tua.
Hasilnya, anak berkembang menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki keahlian sosial yang baik.
Pola ini menciptakan kepercayaan dan komunikasi yang sehat dalam keluarga.
3. Pola Asuh Permisif
Dalam pola ini, orang tua cenderung membiarkan anak berbuat sesuka hati tanpa batasan atau konsekuensi.
Mereka sangat menyayangi anak, tetapi menghindari konflik dengan tidak menetapkan aturan yang jelas.
Anak yang dibesarkan dalam pola permisif dapat menghadapi kesulitan dalam mengontrol diri, kurang disiplin, dan sulit menghormati otoritas.
4. Pola Asuh Pengabaian
Pola pengasuhan ini termasuk yang paling berisiko. Orang tua cenderung bersikap pasif, tidak terlibat, dan kurang memperhatikan kebutuhan emosional serta fisik anak.
Anak tumbuh tanpa arah yang jelas, merasa kesepian, dan kurang merasa dicintai.
Keadaan ini dapat menyebabkan anak mengalami masalah perilaku, kecemasan, hingga kesulitan dalam menjalin hubungan sosial di masa yang akan datang.
Pentingnya Edukasi Parenting
Livina menekankan bahwa bekal mengenai parenting harus dipersiapkan sebelum menikah, bukan setelah memiliki anak. Kesadaran ini penting agar orang tua tidak "belajar saat sudah berjalan," yang dapat mempengaruhi perkembangan anak.
Dia juga menghargai inisiatif pemerintah melalui program-program edukasi parenting seperti:
Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI)
Kelas Orang Tua Hebat (KOTH)
Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA)
Semua program ini bertujuan untuk menciptakan keluarga yang sehat dan generasi muda yang kuat secara mental dan emosional.
Dengan memahami berbagai jenis pola asuh dan dampaknya, calon orang tua dapat membuat pilihan yang lebih baik dalam pengasuhan.
Membangun keluarga yang ideal dimulai dari kesediaan untuk terus belajar dan mengembangkan diri. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama