RADARBONANG - Membandingkan anak dengan saudara kandungnya atau dengan anak tetangga maupun anak teman, terjadi di beberapa kehidupan keluarga. Begitu juga yang dialami Ian Antono yang diperankan Iqbal Ramadhan dalam film Perayaan Mati Rasa.
Film yang mulai tayang pada Rabu (29/1) kemarin tersebut merupakan karya ketiga dari sutradara Umay Shahab yang dirilis oleh Sinemaku Pictures.
Melalui film tersebut, ada makna yang tersirat bahwa setiap anak memiliki kemampuan masing-masing, dan setiap anak berhak mendapatkan support yang adil dari orang tua.
Membandingkan anak ternyata memiliki dampak psikologis yang buruk. Dilansir dari Being the Parent dan Parenting FirstCry, berikut ini 6 dampak buruk psikologis yang akan dialami anak jika dibanding-bandingkan:
1. Stres Berlebihan hingga Gangguan Kecemasan
Ketika anak terus dibandingkan dengan orang lain, tekanan yang mereka rasakan bisa sangat luar biasa.
Anak-anak yang merasa bahwa mereka tidak cukup baik di mata orang tua berisiko mengalami stres berlebihan, yang dalam jangka panjang bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan hingga insomnia.
Lebih parah lagi, jika orang tua tidak menghargai usaha yang telah dilakukan anak, mereka bisa kehilangan motivasi dan mengalami tekanan mental yang berujung pada depresi.
2. Merasa Rendah Diri dan Kehilangan Motivasi
Terus-menerus dibandingkan dengan orang lain dapat membuat anak merasa dirinya tidak berharga. Mereka mulai percaya bahwa mereka lebih rendah daripada orang lain, sehingga kepercayaan dirinya semakin menurun.
Alih-alih termotivasi untuk berkembang, banyak anak justru akan berhenti mencoba dan merasa takut untuk menghadapi tantangan baru.
Mereka khawatir akan terus gagal dan mendapatkan kekecewaan dari orang tua.
3. Apatis dan Sulit Berinteraksi dengan Lingkungan
Anak yang sering dibandingkan juga cenderung menjadi apatis terhadap pencapaian mereka sendiri. Mereka merasa tidak ada gunanya berusaha karena apapun yang mereka lakukan tidak akan pernah cukup di mata orang tua.
Selain itu, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial yang sehat.
Anak-anak ini bisa menjadi tertutup, enggan bersosialisasi, dan merasa tidak layak untuk berteman dengan orang lain.
4. Social Anxiety dan Menarik Diri dari Orang Tua
Jika perbandingan yang dilakukan orang tua terlalu sering dan bersifat merendahkan, anak bisa mengembangkan kecemasan sosial (social anxiety).
Mereka takut berinteraksi dengan orang lain karena merasa tidak cukup baik dan tidak memiliki kelebihan apa pun untuk dibanggakan.
Tak hanya itu, anak juga cenderung menarik diri dari orang tua. Mereka merasa tidak aman, kehilangan kepercayaan, dan lebih memilih menjaga jarak agar tidak lagi merasa sakit hati. Kondisi ini bisa berdampak pada perkembangan psikologis mereka di masa depan.
5. Rasa Benci dan Perilaku Agresif
Dalam beberapa kasus, anak yang sering dibandingkan dengan orang lain bisa menyimpan kebencian terhadap individu yang menjadi objek perbandingan.
Tanpa disadari, mereka mungkin mulai membenci saudara kandung, teman, atau anak lain yang selalu dijadikan tolok ukur oleh orang tua.
Akibatnya, anak berisiko mengembangkan perilaku agresif, seperti mudah tersulut emosi, berkelahi, atau bahkan melakukan tindakan kasar terhadap orang lain.
Hal ini bisa berdampak buruk pada hubungan sosial dan perkembangan karakter mereka di kemudian hari.
6. Setiap Anak Itu Unik, Hargai dan Dukung Perkembangannya
Orang tua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki potensi, keunikan, dan jalannya masing-masing. Membandingkan anak dengan orang lain bukanlah cara yang tepat untuk mendorong mereka berkembang.
Alih-alih membandingkan, orang tua sebaiknya fokus pada kelebihan dan usaha anak. Berikan penghargaan atas usaha mereka, bukan hanya hasil akhirnya.
Jika anak mengalami kesulitan, bantu mereka mencari solusi dengan penuh kasih sayang, bukan dengan tekanan atau perbandingan yang merusak rasa percaya diri.
Pada akhirnya, anak yang tumbuh dengan penghargaan dan dukungan dari orang tua akan lebih percaya diri, bahagia, dan memiliki motivasi yang kuat untuk meraih impian mereka. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni