Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kelenjar Apokrin Penyebab Bau Ketiak Muncul, Ini 7 Penyebab Utama Lain dan Solusinya

Amin Fauzie • Selasa, 22 Oktober 2024 | 13:15 WIB
Kelenjar apokrin adalah salah satu penyebab bau ketiak muncul. Ada beberapa solusi untuk mengurangi bau tersebut.
Kelenjar apokrin adalah salah satu penyebab bau ketiak muncul. Ada beberapa solusi untuk mengurangi bau tersebut.

RADARBONANG.ID - Bau ketiak sering kali menjadi masalah yang dialami banyak orang dan menurunkan rasa percaya diri.

Rasa tidak nyaman ini biasanya muncul ketika kita berinteraksi dengan orang lain.

Meski sering dianggap bahwa keringat menjadi sumber utama bau tersebut, faktanya keringat itu sendiri sebenarnya tidak berbau. Lantas, apa penyebab bau ketiak muncul?

Bakteri Penyebab Bau Yang sebenarnya terjadi adalah bakteri yang hidup di permukaan kulit, khususnya di area ketiak, berkembang biak dan memecah senyawa dalam keringat.

Ketika bakteri ini mengurai keringat, mereka menghasilkan zat kimia yang memiliki aroma tidak sedap.

Jadi, bukan keringatnya yang berbau, melainkan proses metabolisme bakteri tersebut.

1. Keringat dan Bakteri

Ketiak merupakan salah satu area tubuh yang memiliki banyak kelenjar keringat, terutama kelenjar apokrin.

Kelenjar apokrin menghasilkan keringat yang mengandung protein dan lipid. Kelenjar apokrin ini aktif terutama di daerah tubuh seperti ketiak dan selangkangan.

Ketika keringat dari kelenjar apokrin ini dikeluarkan, ia sebenarnya tidak memiliki bau.

Namun, saat bersentuhan dengan bakteri yang ada di permukaan kulit, bakteri mulai mengurai komponen keringat tersebut.

Proses penguraian ini menghasilkan senyawa yang berbau, yang kemudian menyebabkan bau tak sedap pada ketiak.

Sebuah artikel dari Healthline dan Mayo Clinic, menjelaskan bahwa kelenjar apokrin sering ditemukan di area tubuh yang memiliki banyak folikel rambut, seperti ketiak, dan menghasilkan keringat yang lebih tebal, yang kemudian diurai oleh bakteri itu.

2. Pakaian yang Menjebak Kelembapan

Pakaian yang terbuat dari bahan sintetis, seperti poliester atau nilon, cenderung kurang baik dalam menyerap keringat, sehingga kelembapan dapat terjebak di kulit.

Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak, yang kemudian memperparah bau badan.

Memilih pakaian dari bahan alami seperti katun dapat membantu menjaga kulit tetap kering dan mengurangi risiko bau badan.

3. Makanan

Makanan yang kita konsumsi bisa berdampak pada bau tubuh, terutama jenis makanan yang mengandung senyawa sulfur, seperti bawang putih, bawang merah, dan makanan pedas.

Senyawa sulfur ini diserap oleh tubuh dan dilepaskan melalui keringat, menghasilkan bau yang khas dan lebih tajam.

Proses metabolisme dari makanan-makanan tersebut berperan dalam pembentukan bau badan, karena komponen sulfur yang dikeluarkan melalui pori-pori tubuh.

Konsumsi makanan ini dalam jumlah banyak dapat meningkatkan intensitas bau tubuh yang tidak sedap.

4. Faktor Genetik

Faktor genetik juga berperan dalam bau badan seseorang.

Beberapa individu memiliki kelenjar keringat apokrin yang lebih aktif, terutama di area seperti ketiak.

Genetik ini dapat menyebabkan beberapa orang lebih rentan mengalami bau badan yang kuat dibandingkan yang lain.

Studi menunjukkan bahwa variasi genetik, terutama pada kelenjar keringat dan respons tubuh terhadap keringat, dapat memengaruhi intensitas bau yang dihasilkan.

5. Perubahan Hormonal

Perubahan hormonal, seperti yang terjadi selama masa pubertas, kehamilan, atau menopause, dapat memengaruhi produksi keringat dan meningkatkan aktivitas kelenjar apokrin, terutama di ketiak.

Ketidakseimbangan hormon juga dapat memicu perubahan dalam jumlah dan komposisi keringat, yang semakin mempercepat proses pembentukan bau.

6. Kebersihan Diri

Kebersihan diri yang tidak terjaga, seperti jarang mandi atau tidak membersihkan area tubuh dengan baik, dapat memperburuk bau ketiak karena bakteri akan berkembang lebih banyak di permukaan kulit.

Semakin lama kotoran dan keringat menumpuk, semakin mudah bakteri mengurai keringat menjadi senyawa yang berbau tak sedap.

Selain itu, pakaian yang tidak sering diganti atau dipakai berulang kali juga menjadi sarang bakteri, yang semakin memperburuk bau badan.

7. Stres dan Emosi

Stres dan emosi yang intens dapat memicu peningkatan produksi keringat dari kelenjar apokrin, yang biasanya lebih kental dan kaya akan protein serta lipid.

Keringat ini lebih mudah diurai oleh bakteri di kulit, sehingga meningkatkan kemungkinan munculnya bau tak sedap.

Reaksi tubuh terhadap stres emosional juga dapat mempercepat produksi keringat, terutama di area seperti ketiak, yang membuat lingkungan lebih ideal bagi bakteri untuk berkembang.

Hal ini menjelaskan mengapa saat seseorang merasa cemas atau mengalami tekanan emosional, bau badan cenderung lebih kuat dan mudah tercium.

Nah, itulah beberapa penyebab utama bau ketiak. Dengan memahaminya, Anda dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasinya dan merasa lebih percaya diri.

Apa Solusi untuk Mengurangi Bau Ketiak?

Untuk mengurangi bau ketiak, menjaga kebersihan adalah langkah utama.

Mandi secara teratur dan membersihkan area ketiak dapat membantu mengurangi jumlah bakteri yang menyebabkan bau.

Penggunaan deodoran juga efektif karena dapat menghambat pertumbuhan bakteri, sementara antiperspiran bekerja dengan mengurangi produksi keringat.

Selain itu, memilih pakaian yang tepat, terutama bahan katun yang lebih baik dalam menyerap keringat, dapat membantu menjaga area ketiak tetap kering dan mencegah bau tak sedap.

Kombinasi dari kebersihan diri dan penggunaan produk yang tepat dapat secara signifikan mengurangi masalah bau badan.

Jika masalah bau ketiak tetap berlanjut meskipun berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Dokter dapat memberikan diagnosis yang lebih akurat dan menawarkan solusi atau perawatan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah tersebut secara menyeluruh. (*)

Photo
Photo
Foto : Tim Vokasi Universitas AKPRIND Indonesia menerapkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Srumbung, Magelang.
Foto : Tim Vokasi Universitas AKPRIND Indonesia menerapkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Srumbung, Magelang.
Editor : Amin Fauzie
#Solusi untuk Mengurangi Bau Ketiak #bakteri #keringat #penyebab bau ketiak #kelenjar apokrin