RADARBONANG.ID – Pernah nggak, saat curhat ke seseorang, yang keluar cuma kalimat "sabar, ya" atau “jangan sedih”?
Niatnya baik, sih, tapi seringkali malah bikin kita merasa nggak nyambung.
Nah, di sinilah pentingnya validasi perasaan, seni mendengarkan dan mengakui emosi orang lain tanpa buru-buru menghakimi atau memberi solusi.
Validasi perasaan itu ibarat pelukan verbal. Seseorang yang merasa divalidasi akan merasa aman, dihargai, dan lebih terbuka bercerita.
Bahkan menurut psikolog, validasi bisa memperkuat hubungan, entah itu dengan pasangan, teman, atau keluarga.
Kenapa Validasi Perasaan Penting?
Mencegah Rasa Sendirian
Saat orang didengar tanpa dihakimi, mereka merasa nggak sendirian menghadapi masalahnya.
Membangun Kepercayaan
Orang akan lebih terbuka kalau tahu emosinya diakui dan dimengerti.
Mengurangi Emosi Negatif
Validasi bisa membantu meredakan marah, sedih, atau cemas secara alami.
Cara Validasi Perasaan yang Benar
Dengarkan Tanpa Menyela
Biarkan orang menyelesaikan ceritanya dulu, jangan langsung potong dengan saran.
Tunjukkan Bahasa Tubuh yang Empatik
Kontak mata, anggukan kecil, dan ekspresi wajah yang selaras bisa bikin lawan bicara merasa dihargai.
Ucapkan Kalimat yang Mengakui Emosi Mereka
Misalnya:
- “Wajar banget kamu ngerasa kayak gitu.”
- “Aku bisa paham kenapa ini bikin kamu kesal.”
- Hindari Menghakimi atau Meremehkan
- Kalimat seperti “Ah, gitu doang” atau “Banyak yang lebih susah” justru bikin orang menutup diri.
Validasi Dulu, Solusi Belakangan
Setelah emosinya lebih tenang, baru tawarkan bantuan atau ide solusi.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mencoba Memvalidasi
- Mengalihkan pembicaraan ke diri sendiri (“Aku juga dulu pernah…”)
- Memaksakan sudut pandang (“Ya salah kamu sendiri sih…”)
- Memberi nasihat sebelum diminta
Validasi perasaan bukan sekadar keterampilan sosial, tapi bentuk kepedulian yang bisa bikin hubungan lebih erat dan sehat.
Jadi, lain kali kalau ada yang curhat, coba dengarkan dulu, akui perasaannya, lalu baru pikirkan solusinya. (×)
Editor : Amin Fauzie