Mengenal Lempeng Pisang Talas Khas Banjarmasin, Jajanan Jadul yang Tetap Dicari karena Rasanya Legit dan Menggoda

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:09 WIB
Sederhana, jadul, tapi bikin kangen! Lempeng pisang talas khas Banjarmasin punya rasa manis dan tekstur lembut yang pas banget jadi teman ngopi saat senja. (hallobogor.com)
Sederhana, jadul, tapi bikin kangen! Lempeng pisang talas khas Banjarmasin punya rasa manis dan tekstur lembut yang pas banget jadi teman ngopi saat senja. (hallobogor.com)

RADARBONANG.ID – Ada banyak cara menikmati sore. Sebagian orang memilih nongkrong di kafe dengan segelas kopi, sementara yang lain lebih suka duduk santai di rumah sambil menikmati jajanan sederhana.

Di Banjarmasin, ada satu kudapan tradisional yang cocok untuk menemani momen tersebut, yakni lempeng pisang talas.

Namanya mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik bentuknya yang tidak neko-neko, lempeng pisang menyimpan cerita tentang kuliner rumahan khas Banjar yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kudapan ini dibuat dari bahan-bahan yang relatif mudah ditemukan.

Pisang menjadi bahan utama yang memberikan rasa manis dan aroma khas, sementara bahan lainnya membuat adonan berubah menjadi kudapan lembut dengan permukaan sedikit kecokelatan setelah dimasak.

Lempeng pisang pun menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Banjar mampu mengolah bahan sederhana menjadi makanan yang mengenyangkan sekaligus nikmat.

Baca Juga: Pemprov Sumut Siapkan Rp2 Miliar untuk Bangun Rumah Produksi Kelapa di Nias Utara, Petani Bakal Dapat Fasilitas Pengolahan

Sekilas tentang Lempeng Pisang Khas Banjar

Lempeng pisang merupakan kudapan tradisional yang cukup dikenal dalam kuliner masyarakat Banjar. Bentuknya pipih dan dimasak di atas permukaan panas hingga bagian luarnya matang.

Sekilas, tampilannya memang bisa mengingatkan pada pancake.

Namun, karakter lempeng pisang memiliki cita rasa dan cara pengolahan yang lekat dengan tradisi kuliner lokal.

Penggunaan pisang membuat rasa manis alami menjadi salah satu daya tarik utamanya.

Teksturnya cenderung lembut, sementara bagian permukaan yang terkena panas bisa menghasilkan aroma dan rasa yang lebih harum.

Kesederhanaan inilah yang justru membuat lempeng pisang terasa berbeda dari berbagai dessert modern yang kini memenuhi etalase toko.

Pisang Talas Jadi Bahan yang Menarik

Salah satu bahan yang menarik perhatian dalam sajian ini adalah pisang talas.

Pisang talas merupakan salah satu jenis pisang yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai olahan makanan.

Ketika digunakan sebagai bahan lempeng, pisang memberikan rasa manis sekaligus tekstur khas pada adonan.

Buah yang sudah matang biasanya lebih mudah diolah karena teksturnya lunak dan cita rasanya semakin kuat.

Inilah yang membuat lempeng pisang tidak membutuhkan banyak tambahan rasa. Aroma pisang yang sudah matang dapat menjadi karakter utama kudapan.

Bagi masyarakat yang terbiasa dengan makanan tradisional, aroma tersebut bahkan bisa menghadirkan nostalgia tersendiri.

Bukan Sekadar Jajanan, Ada Cerita di Baliknya

Kuliner tradisional sering kali memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Begitu juga dengan lempeng pisang. Makanan seperti ini tidak lahir dari dapur restoran mewah, melainkan dari kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan yang tersedia.

Pisang yang terlalu matang, misalnya, tidak harus berakhir menjadi makanan yang terbuang. Dengan sedikit kreativitas, buah tersebut dapat diolah menjadi kudapan yang lezat.

Prinsip sederhana seperti inilah yang membuat banyak makanan tradisional tetap bertahan.

Di tengah tren makanan kekinian yang menawarkan berbagai tampilan spektakuler, lempeng pisang justru menawarkan sesuatu yang berbeda: rasa rumahan.

Cara Menikmatinya Juga Fleksibel

Lempeng pisang paling nikmat disantap ketika masih hangat. Aroma pisang yang keluar setelah proses pemasakan membuat kudapan ini semakin menggoda.

Namun, penyajiannya bisa disesuaikan dengan selera.

Ada yang menikmatinya begitu saja karena rasa manis pisang sudah cukup. Ada pula yang menambahkan gula, susu kental manis, keju, atau bahan pelengkap lain agar rasanya semakin kaya.

Untuk versi yang lebih modern, lempeng pisang juga bisa dikreasikan menggunakan berbagai topping.

Meski begitu, versi sederhana tetap memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi jika disantap bersama kopi atau teh hangat pada sore hari.

Perpaduan rasa manis dari pisang dan pahit atau sepat dari minuman hangat menciptakan kombinasi yang sederhana tetapi sulit ditolak.

Teman Ngopi yang Tidak Kalah dari Dessert Kekinian

Kebiasaan menikmati kopi sambil menyantap camilan kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Kafe-kafe berlomba menawarkan croissant, pancake, waffle, hingga berbagai dessert modern. Namun, sebenarnya Indonesia memiliki banyak jajanan tradisional yang tidak kalah menarik jika dikemas dengan cara yang tepat.

Lempeng pisang adalah salah satunya.

Tekstur yang lembut, aroma pisang yang kuat, serta rasa manis yang familiar membuat makanan ini mudah diterima berbagai kalangan.

Jika dikembangkan dengan kreativitas, lempeng pisang bahkan bisa masuk ke pasar kuliner modern tanpa harus kehilangan identitas tradisionalnya.

Kuliner Lokal yang Layak Naik Kelas

Kekuatan makanan tradisional tidak selalu berada pada bahan yang mahal. Justru sering kali daya tariknya terletak pada kesederhanaan.

Lempeng pisang memperlihatkan bagaimana bahan pangan sehari-hari dapat menjadi makanan yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.

Pelaku UMKM dapat mengembangkan sajian ini dengan berbagai inovasi, mulai dari kemasan, ukuran, topping, hingga konsep penyajian.

Namun, yang paling penting adalah tetap mempertahankan karakter rasa aslinya.

Sebab, ketika makanan tradisional terlalu banyak diubah, identitas yang membuatnya istimewa justru berisiko hilang.

Menghidupkan Kembali Jajanan Jadul

Popularitas makanan kekinian seharusnya tidak membuat jajanan tradisional kehilangan tempat.

Justru, tren kuliner saat ini menunjukkan bahwa makanan sederhana bisa kembali populer ketika dikemas dengan cerita yang menarik.

Lempeng pisang dapat menjadi contoh bahwa makanan tradisional tidak selalu berarti kuno.

Di balik bentuknya yang sederhana, ada pengetahuan kuliner, kebiasaan keluarga, dan cita rasa lokal yang telah bertahan selama bertahun-tahun.

Bagi masyarakat Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, makanan seperti ini bukan sekadar pengganjal perut. Ada kenangan tentang rumah, sore hari, dapur keluarga, dan waktu berkumpul bersama orang-orang terdekat.

Pada akhirnya, lempeng pisang talas mungkin tidak memiliki tampilan semewah dessert di restoran modern. Namun, justru kesederhanaannya yang membuat makanan ini istimewa.

Sepotong lempeng pisang hangat dan secangkir kopi bisa menjadi kombinasi sederhana untuk menikmati senja—sekaligus menjadi pengingat bahwa kuliner Indonesia punya begitu banyak cerita yang layak untuk terus dikenalkan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : kompasiana
lempeng pisang talas lempeng pisang khas Banjar kuliner khas Banjarmasin jajanan tradisional Banjar makanan tradisional Kalimantan Selatan