RADARBONANG.ID – Di tengah menjamurnya makanan viral dengan tampilan menarik dan konsep yang terus berganti, ada satu jenis makanan yang tetap memiliki tempat istimewa di hati banyak orang, yakni comfort food.
Bukan hidangan mahal atau menu restoran berbintang, melainkan makanan sederhana yang akrab sejak kecil dan sering hadir di meja makan keluarga.
Semangkuk bakso hangat, sepiring nasi goreng rumahan, mi instan, bubur ayam, hingga sop ayam sering kali menjadi pilihan pertama ketika seseorang merasa lelah, stres, atau sekadar ingin mencari ketenangan setelah menjalani hari yang padat.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar soal rasa.
Sejumlah penelitian di bidang psikologi dan ilmu gizi menunjukkan bahwa makanan dapat memengaruhi suasana hati melalui hubungan erat antara pengalaman emosional, memori, dan respons otak terhadap rasa serta aroma makanan.
Mengapa Comfort Food Terasa Begitu Istimewa?
Comfort food adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makanan yang memberikan rasa nyaman, baik secara fisik maupun emosional.
Setiap orang dapat memiliki comfort food yang berbeda karena pilihan tersebut umumnya dipengaruhi oleh pengalaman hidup, budaya, serta kenangan masa kecil.
Saat mencicipi makanan yang familiar, otak sering kali mengaitkannya dengan pengalaman positif, seperti kebersamaan bersama keluarga, suasana rumah, atau momen sederhana yang membahagiakan.
Hubungan antara makanan dan kenangan inilah yang membuat comfort food terasa lebih dari sekadar santapan pengisi perut.
Banyak orang merasakan ketenangan, rasa aman, bahkan nostalgia hanya dari aroma atau cita rasa makanan tertentu.
Makanan dan Emosi Ternyata Saling Berkaitan
Ketika seseorang mengalami tekanan pekerjaan, tugas kuliah, atau persoalan sehari-hari, tubuh dan otak akan merespons kondisi tersebut melalui berbagai mekanisme biologis.
Dalam situasi seperti itu, sebagian orang cenderung mencari makanan yang pernah memberikan pengalaman menyenangkan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan yang memiliki nilai emosional dapat membantu meningkatkan suasana hati dalam jangka pendek karena memberikan rasa nyaman secara psikologis.
Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa comfort food bukanlah terapi untuk mengatasi stres atau gangguan kesehatan mental.
Efek yang dirasakan lebih berkaitan dengan pengalaman emosional dan rasa familiar yang dimiliki setiap individu.
Karena itu, menikmati comfort food dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk memanjakan diri setelah hari yang melelahkan, tetapi tetap perlu diimbangi dengan pola hidup sehat.
Mengapa Makanan Rumahan Sering Menjadi Pilihan?
Banyak orang beranggapan bahwa makanan mahal selalu memberikan kepuasan lebih besar. Padahal, kepuasan saat makan tidak selalu ditentukan oleh harga ataupun tampilan makanan.
Bagi sebagian besar orang, makanan rumahan justru memiliki nilai emosional yang lebih tinggi.
Rasa yang konsisten, aroma yang telah dikenal sejak kecil, hingga cara penyajian yang sederhana mampu menghadirkan perasaan nyaman yang sulit digantikan oleh makanan lain.
Itulah sebabnya sepiring nasi hangat dengan telur dadar, sambal, dan sayur sederhana sering terasa jauh lebih memuaskan dibandingkan hidangan mewah ketika suasana hati sedang tidak baik.
Deretan Comfort Food Favorit Masyarakat Indonesia
Setiap daerah memiliki makanan yang dapat menjadi comfort food bagi masyarakatnya. Di Indonesia, beberapa menu berikut termasuk yang paling sering disebut sebagai makanan penghibur saat lelah atau sedih:
- Nasi goreng rumahan
- Mi instan rebus maupun goreng
- Bakso kuah
- Soto ayam
- Bubur ayam
- Sop ayam
- Mi ayam
- Pecel
- Rawon
- Ayam goreng dengan sambal
Meski berbeda-beda, sebagian besar makanan tersebut memiliki satu kesamaan, yaitu disajikan hangat, memiliki cita rasa yang akrab, dan mudah ditemukan.
Kombinasi tersebut membuat makanan terasa tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberikan kenyamanan secara emosional.
Mengapa Kita Ingin Makanan Tertentu Saat Sedih?
Keinginan untuk mengonsumsi makanan tertentu ketika sedang sedih atau stres merupakan hal yang cukup umum.
Aroma, tekstur, dan rasa makanan dapat memicu ingatan terhadap pengalaman positif yang pernah dialami seseorang.
Karena hubungan tersebut, banyak orang menggambarkan comfort food sebagai "pelukan dalam bentuk makanan".
Ungkapan ini memang bersifat kiasan, tetapi cukup menggambarkan bagaimana makanan mampu memberikan rasa tenang bagi sebagian orang.
Meski demikian, penting untuk membedakan antara menikmati comfort food sesekali dengan menjadikan makanan sebagai satu-satunya cara mengatasi tekanan emosional.
Jika stres atau kesedihan berlangsung berkepanjangan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari keluarga, teman, atau tenaga profesional tetap merupakan langkah yang lebih tepat.
Tetap Nikmati Comfort Food dengan Bijak
Walaupun memberikan rasa nyaman, comfort food tetap perlu dikonsumsi secara seimbang.
Beberapa jenis makanan favorit, seperti mi instan atau makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak, jika dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.
Karena itu, tidak ada salahnya melengkapi menu harian dengan sayuran, buah-buahan, sumber protein yang cukup, serta rutin berolahraga agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi.
Pada akhirnya, comfort food bukan hanya tentang rasa yang lezat.
Makanan ini juga menjadi pengingat akan kehangatan rumah, kebersamaan dengan orang-orang terdekat, dan berbagai kenangan yang membentuk perjalanan hidup seseorang.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, menikmati semangkuk makanan sederhana dapat menjadi momen untuk beristirahat sejenak, mengisi kembali energi, dan mengingat bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal yang paling sederhana.
Editor : Muhammad Azlan Syah