Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kuliner Ritual Nusantara: Menelusuri Keunikan Makanan Khas Jawa Timur yang Hanya Tersaji di Bulan Suro

Amaliya Syafithri • Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:39 WIB
Ilustrasi bubur suro. (HappyFresh)
Ilustrasi bubur suro. (HappyFresh)

RADARBONANG.ID - Bulan Suro dalam kalender Jawa bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momentum sakral yang sarat akan ritual kebudayaan dan refleksi spiritual. 

Bagi masyarakat Jawa Timur, penyambutan bulan ini tidak lengkap tanpa kehadiran ragam kuliner khas bernilai filosofis tinggi yang khusus disajikan hanya pada momen tersebut. 

Sajian-sajian tradisional ini diolah secara komunal sebagai lambang rasa syukur, tolak bala, sekaligus doa keselamatan menjelang tahun yang baru.

Salah satu kuliner ikonik yang paling dinanti dalam tradisi ini adalah Bubur Suro. 

Baca Juga: Selasa Kliwon di Bulan Suro: Hari Baik, Hari Naas, dan Segala Pertimbangannya

Berbeda dengan bubur ayam pada umumnya, hidangan ini terbuat dari beras yang dimasak dengan santan, gurih, serta dibumbui aneka rempah-rempah nusantara. 

Di atasnya, bubur ini ditaburi dengan tujuh macam kacang-kacangan (kacang tholo, kacang tanah, kacang hijau, dan lainnya) serta dilengkapi lauk pauk pelengkap seperti perkedel, irisan telur dadar, jipang, hingga sambal goreng. Perpaduan bahan tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap hasil bumi dan jalinan silaturahmi antarwarga.

Selain bubur, wilayah Mataraman Jawa Timur juga kerap menyajikan tumpeng khusus atau gunungan nasi yang diiringi dengan lauk pelengkap tradisional seperti ayam ingkung (ayam utuh yang dimasak santan). 

Proses pembuatan makanan ritual ini wajib mengikuti tata cara adat tertentu, termasuk keharusan untuk dibagikan secara merata kepada tetangga sekitar dan kaum yang membutuhkan setelah proses doa bersama (kenduri) selesai dilaksanakan di balai desa maupun tempat ibadah setempat.

Kehadiran kuliner musiman ini membuktikan bahwa makanan bagi masyarakat Jawa Timur bukan sekadar pemenuh kebutuhan biologis, melainkan media komunikasi budaya yang menjembatani manusia dengan sang pencipta serta sesamanya. 

Eksistensi kuliner khas Bulan Suro yang terus lestari hingga saat ini menjadi bukti nyata bagaimana warisan kuliner tradisional dapat bertahan di tengah gempuran zaman, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya bahari yang memikat bagi para pencinta sejarah nusantara.  (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kebudayaan #kalender jawa #kuliner #spiritual #Bubur Suro