RADARBONANG.ID – Lebaran di Indonesia identik dengan opor ayam dan ketupat. Namun di Tuban, ada sajian khas yang justru lebih dinanti oleh banyak orang, terutama para pemudik yang rindu kampung halaman.
Namanya adalah Becek Mentok, yang hampir selalu hadir berdampingan dengan Nasi Jagung. Kombinasi sederhana ini bukan sekadar hidangan, tetapi juga bagian dari identitas kuliner dan kenangan Lebaran masyarakat pesisir.
Bagi warga lokal, aroma kuah rempah becek mentok yang mengepul dari dapur sering kali menjadi “penanda” bahwa Hari Raya benar-benar telah tiba.
Baca Juga: Sengketa Anthropic vs Pentagon Bongkar Perubahan Sikap Silicon Valley terhadap Perang Berbasis AI
Becek Mentok: Gurih Pekat dengan Cita Rasa Kuat
Sekilas, becek mentok tampak seperti gulai atau kare. Namun, cita rasanya jauh lebih khas. Kuahnya cenderung kental, gurih, dan memiliki sentuhan pedas yang menggugah selera.
Bahan utama hidangan ini adalah mentok atau itik manila (muscovy duck), yang memiliki tekstur daging lebih padat dibanding ayam.
Justru di situlah daya tariknya—daging terasa lebih “berisi” dan menyerap bumbu dengan sempurna.
Proses memasaknya pun membutuhkan waktu cukup lama. Daging mentok dimasak bersama berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, ketumbar, kunyit, hingga lengkuas. Setelah ditumis, bumbu dan daging direbus hingga kuah meresap sempurna.
Di beberapa wilayah desa, kuahnya bahkan dibuat lebih kental dengan tambahan santan agar rasa semakin kaya dan “nendang”. Tak heran jika sekali mencicipi, banyak orang langsung ketagihan.
Secara historis, olahan mentok memang cukup populer di wilayah pantura Jawa Timur seperti Tuban dan Bojonegoro, karena hewan ini banyak diternakkan oleh masyarakat desa sebagai sumber pangan.
Nasi Jagung: Warisan Pangan dari Tanah Pesisir
Yang membuat becek mentok semakin istimewa adalah pasangannya: nasi jagung. Bagi masyarakat Tuban, makanan ini bukan sekadar alternatif, melainkan bagian dari tradisi panjang.
Wilayah Tuban yang cenderung memiliki tanah kering membuat jagung menjadi komoditas utama sejak dahulu. Dari situlah muncul kebiasaan mengolah jagung menjadi pengganti nasi.
Proses pembuatannya cukup unik. Jagung dikeringkan, lalu ditumbuk hingga menjadi butiran kecil yang menyerupai beras. Setelah itu, bahan tersebut dikukus hingga matang.
Hasilnya adalah nasi dengan tekstur lebih kasar, aroma khas, dan rasa sedikit manis. Ketika dipadukan dengan kuah becek mentok yang gurih dan pedas, tercipta perpaduan rasa yang sulit dilupakan.
Menu Lebaran yang “Rumah Banget”
Menariknya, meski opor ayam tetap hadir di banyak rumah, becek mentok sering kali menjadi menu utama yang paling dicari.
Biasanya, hidangan ini dimasak dalam jumlah besar sehari sebelum Lebaran. Saat hari H, keluarga tinggal memanaskannya kembali dan menyajikannya untuk tamu yang datang bersilaturahmi.
Bagi para perantau yang pulang kampung, becek mentok dan nasi jagung sering menjadi hidangan pertama yang mereka santap. Bahkan, tak sedikit yang menganggap Lebaran belum lengkap tanpa menu ini.
Rasa gurih yang khas bukan satu-satunya alasan. Lebih dari itu, hidangan ini membawa nostalgia—tentang keluarga, kampung halaman, dan momen kebersamaan yang jarang terulang.
Baca Juga: Bed Rotting, Tren Rebahan Seharian yang Viral di Kalangan Gen Z: Self Care atau Sekadar Malas?
Tradisi yang Bertahan di Tengah Tren
Di tengah maraknya makanan modern dan tren kuliner viral di media sosial, becek mentok dan nasi jagung tetap bertahan.
Bukan karena popularitas semata, tetapi karena nilai emosional yang melekat di dalamnya. Setiap suapan bukan hanya soal rasa, melainkan juga cerita tentang tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari dapur-dapur sederhana di Tuban, aroma rempah itu terus hidup setiap Lebaran. Mengingatkan bahwa makanan paling berkesan bukanlah yang paling mewah, melainkan yang paling dekat dengan hati.
Bagi masyarakat Tuban, Lebaran bukan hanya tentang ketupat dan opor. Tetapi juga tentang semangkuk becek mentok hangat yang disantap bersama nasi jagung, di tengah tawa dan kebersamaan keluarga.
Editor : Muhammad Azlan Syah