RADARBONANG.ID – Di tengah gempuran croffle, mochi bites, hingga dessert box yang viral di TikTok, muncul satu pertanyaan: masihkah Generasi Z mengenal jajanan pasar tradisional?
Ironisnya, saat minat terhadap kuliner lokal sedang naik daun, sejumlah jajanan pasar justru makin jarang terlihat di etalase. Bukan karena rasanya kalah, melainkan karena minim regenerasi pembuat, proses produksi yang rumit, dan kalah pamor dari makanan yang lebih “instagramable”.
Berikut tujuh jajanan pasar yang mulai langka dan kini lebih sering muncul di konten nostalgia ketimbang di lapak pasar tradisional.
Baca Juga: Valentine di Era Hemat: Cara Cerdas Rayakan Cinta Tanpa Bikin Dompet Menjerit
1. Kue Gandus, Si Gurih yang Tersisih
Teksturnya lembut dengan cita rasa gurih khas santan dan topping ebi atau daun seledri. Dulu kue gandus kerap hadir di hajatan dan acara keluarga besar.
Namun proses pembuatannya yang cukup kompleks membuat banyak penjual memilih berhenti produksi. Padahal perpaduan legit dan gurihnya sulit ditandingi camilan modern.
2. Lupis Segitiga, Manisnya Bikin Rindu
Lupis memang masih bisa ditemukan, tetapi versi segitiga besar yang dibungkus daun pisang kini makin jarang. Siraman gula merah cair dan taburan kelapa parut menciptakan kombinasi rasa manis-gurih yang khas.
Generasi Z mungkin lebih akrab dengan rice cake ala Korea dibanding lupis tradisional yang sarat filosofi kebersamaan.
3. Clorot, Manis dalam Balutan Janur
Clorot memiliki bentuk unik seperti terompet kecil dari daun kelapa muda. Di dalamnya terdapat adonan tepung beras, santan, dan gula merah yang lembut legit.
Sayangnya, proses membungkusnya membutuhkan ketelatenan tinggi. Tak banyak generasi muda yang meneruskan keterampilan ini.
4. Kue Rangin, Waffle Versi Lokal
Jika waffle identik dengan topping cokelat dan es krim, generasi sebelumnya mengenal kue rangin. Terbuat dari tepung beras dan kelapa, dimasak di cetakan khusus, lalu disajikan hangat dengan gula merah.
Aromanya khas, teksturnya renyah di luar dan lembut di dalam. Kini kue rangin lebih sering ditemui di pasar tradisional daerah ketimbang kota besar.
5. Kue Koci, Si Hijau yang Elegan
Sekilas mirip klepon, tetapi isi kacangnya lebih padat dan teksturnya lebih kenyal. Dibungkus daun pisang, kue koci memiliki aroma alami yang menggugah selera.
Kini keberadaannya lebih sering muncul dalam acara adat dibanding dijual bebas setiap hari.
6. Cenil Warna-Warni
Cenil dengan parutan kelapa dan gula merah pernah jadi jajanan favorit anak-anak. Warnanya cerah, teksturnya kenyal, rasanya manis-gurih.
Namun di era visual media sosial, tampilannya dianggap kurang estetik dibanding dessert modern.
7. Talam Ubi Ungu Tradisional
Versi modern talam ubi ungu memang masih ada di kafe, tetapi versi tradisional dengan lapisan santan kental dan rasa autentik mulai sulit ditemukan.
Banyak produsen beralih ke versi instan demi efisiensi waktu dan biaya.
Kenapa Jajanan Pasar Mulai Langka?
Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
-
Minim regenerasi pembuat kue tradisional
-
Proses produksi yang rumit dan memakan waktu
-
Kalah saing dengan makanan modern yang lebih menarik secara visual
-
Kenaikan harga bahan baku alami
Perubahan pola konsumsi juga berpengaruh. Generasi muda cenderung tertarik pada produk dengan branding kuat dan tampilan menarik di media sosial seperti Instagram.
Gen Z dan Tantangan Melestarikan Warisan Rasa
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya hilang. Tren nostalgia justru membuka peluang kebangkitan jajanan pasar. Sejumlah UMKM mulai mengemas ulang kue tradisional dengan desain lebih modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
Jajanan pasar bukan sekadar makanan murah meriah. Ia adalah bagian dari identitas budaya, sejarah kuliner, dan memori kolektif masyarakat Indonesia.
Pertanyaannya sekarang: dari daftar tadi, kamu masih ingat rasanya… atau baru tahu namanya?
Editor : Muhammad Azlan Syah