Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Bukan Jogja atau Solo, Ternyata Ini dia asal usul Angkringan yang Sebenarnya

Muhammad Azlan Syah • Senin, 5 Januari 2026 | 08:15 WIB
Ternyata angkringan yang identik dengan Jogja dan Solo berakar dari Desa Ngerangan, Klaten sebagai cikal bakal warung nasi kucing yang kini tersebar luas
Ternyata angkringan yang identik dengan Jogja dan Solo berakar dari Desa Ngerangan, Klaten sebagai cikal bakal warung nasi kucing yang kini tersebar luas

RADARBONANG.ID - Angkringan selama ini identik dengan Yogyakarta dan Solo. Di kedua kota ini, warung makanan kaki lima yang menyediakan nasi kucing, wedang, gorengan, dan sate menjadi pemandangan khas, terutama di malam hari.

Banyak wisatawan yang menyebut angkringan sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman kuliner di Yogyakarta dan Solo.

Namun, tahukah Anda bahwa angkringan sebenarnya tidak lahir dari kedua kota itu? Sejarahnya justru bermula dari sebuah desa kecil di Klaten, Jawa Tengah. 

Menurut catatan sejarah kuliner yang dipublikasikan Kompas.com, angkringan terbentuk dari inovasi warga Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten.

Pada era awal kemunculannya, sosok penting di balik sejarah angkringan adalah Karso Dikromo, yang akrab dipanggil Djukut.

Bersama rekannya bernama Wiryo Jeman, Karso pertama kali menjajakan makanan dan minuman menggunakan pikulan tumbu saat berada di Kota Solo.

Meski kemudian angkringan tumbuh subur di Solo dan Yogyakarta, asal-usulnya berakar kuat di Klaten yang menjadi tempat pertumbuhan ide awal ini.

Kehadiran angkringan dikenal sebagai bentuk usaha kuliner sederhana yang menyediakan pilihan makanan murah-meriah.

Menu-menu seperti nasi kucing—nasi kecil yang dipadu dengan sambal atau lauk ringan—gorengan, sate usus, serta minuman tradisional seperti kopi dan wedang jahe, menjadi ciri khas tempat ini.

Konsepnya yang sederhana tetapi merakyat membuat angkringan cepat diterima masyarakat luas.

Sebelum dikenal dengan istilah “angkringan”, warung-warung semacam ini di Solo disebut “HIK”, yang merupakan singkatan dari “Hidangan Istimewa Kampung”. Sejarah menyebutkan bahwa istilah HIK dipakai lebih dulu di Solo.

Ada beragam versi tentang asal-usul nama ini. Beberapa orang menduga bahwa kata HIK berasal dari suara penjual yang berteriak ketika berkeliling menawarkan dagangannya, sementara versi lain menghubungkannya dengan aktivitas pembeli.

Meski istilah dan bentuknya mengalami evolusi, angkringan terus menyebar ke berbagai daerah di Jawa.

Pada tahun 1950-an, angkringan mulai dikenal di Yogyakarta melalui para pedagang yang datang dari berbagai daerah termasuk Klaten dan Solo.

Di Yogyakarta, angkringan mendapat nama baru, dan aktivitas makan sambil duduk santai yang disebut “angkring” semakin meneguhkan identitasnya.

Perubahan bentuk angkringan dari pikulan menjadi gerobak juga bagian dari sejarah panjangnya. Pada awalnya, alat jualan berupa pikulan tumbu.

Seiring waktu, terutama pada tahun 1970-an dan 1980-an, bentuk pikulan mulai digantikan oleh gerobak kayu yang lebih praktis dan mudah dipindahkan. Hal ini membuat angkringan semakin mudah berkembang di berbagai tempat.

Kini angkringan tak hanya populer di Yogyakarta dan Solo, tetapi juga ditemukan di berbagai daerah di Indonesia bahkan di luar negeri.

Kehadirannya tidak lagi sekadar warung makan, tetapi juga ruang sosial di mana berbagai lapisan masyarakat berkumpul, berbagi cerita setelah bekerja seharian, atau sekadar menikmati suasana santai dengan harga terjangkau.

Keunikan angkringan juga terletak pada filosofi dan konteks sosialnya. Tempat ini mencerminkan semangat merakyat dan keterbukaan, di mana siapa pun, dari berbagai kalangan, bisa menikmati makanan bersama tanpa sekat.

Angkringan menjadi simbol keseharian masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta, tetapi akarnya sendiri lebih dulu tumbuh di Desa Ngerangan, Klaten.

Seiring waktu, angkringan telah berevolusi menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Indonesia.

Meskipun tidak lagi identik hanya dengan Jogja atau Solo, nama kedua kota ini tetap melekat erat sebagai tempat di mana angkringan mendapat popularitas terbesar.

Proses perjalanan dari Klaten ke Solo dan kemudian ke Yogyakarta menunjukkan bagaimana makanan sederhana bisa berkembang menjadi ikon budaya yang dicintai banyak orang.

Dalam perspektif sejarah kuliner Nusantara, angkringan juga menjadi contoh bagaimana tradisi lokal bisa hidup dan terus bertahan melalui generasi.

Asal-usulnya yang sederhana di Desa Ngerangan kini menjadi inspirasi bagi pedagang dan pelaku UMKM kuliner di berbagai daerah yang ingin menangkap kembali esensi warung makan rakyat ini.

Editor : Muhammad Azlan Syah
#klaten #solo #angkringan #kuliner #HIK Solo #jogja