RADARBONANG.ID - Bandrek adalah salah satu warisan kuliner khas Sunda yang sudah ada sejak masa kolonial.
Minuman ini dikenal sebagai herbal ginger drink dengan cita rasa hangat dan aroma rempah yang menenangkan.
Terbuat dari campuran jahe, kayu manis, cengkeh, daun pandan, serta gula aren, bandrek tak hanya memanjakan lidah, tapi juga membawa segudang manfaat kesehatan.
Pada masa penjajahan, ketika rempah-rempah menjadi komoditas berharga setara emas dan perhiasan, bandrek sempat dianggap sebagai minuman mewah.
Namun, seiring berjalannya waktu dan bergesernya tren perdagangan ke kopi serta teh, nilai rempah menurun, begitu pula pamor bandrek.
Kini, bandrek bukan lagi simbol kemewahan, melainkan minuman rakyat yang mudah dijumpai dan tetap dicintai, terutama oleh masyarakat Sunda yang tinggal di daerah pegunungan berhawa sejuk.
Selain dikenal karena rasanya yang nikmat, bandrek dipercaya memiliki khasiat luar biasa.
Kandungan jahe di dalamnya berfungsi sebagai penghangat alami tubuh, cocok diminum saat malam hari atau musim hujan.
Kombinasi rempah lainnya seperti kayu manis dan cengkeh diyakini mampu membantu meredakan masuk angin, kembung, pegal-pegal, hingga memperlancar peredaran darah.
Bahkan, beberapa orang meyakini bandrek bisa membantu menjaga kesehatan kulit dengan mencegah timbulnya jerawat.
Saat pandemi melanda, jahe—terutama jahe merah—menjadi salah satu bahan herbal paling diburu di Indonesia.
Banyak yang percaya bahwa konsumsi minuman jahe seperti bandrek dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Tak heran, aroma bandrek yang hangat dan sedikit pedas seolah menghadirkan kenyamanan sekaligus perlindungan alami bagi tubuh.
Secara rasa, bandrek menawarkan sensasi jahe yang kuat berpadu dengan manis alami dari gula aren, serta aroma harum rempah yang khas.
Warna cokelat keemasan dari gula merah membuat tampilannya semakin menggoda.
Namun bagi yang tidak terlalu tahan pedas, tak ada salahnya menyesuaikan takaran jahe sesuai selera.
Kunci kenikmatan bandrek terletak pada proses perebusan perlahan dengan api kecil agar semua rasa dan aroma rempah terserap sempurna.
Seiring perkembangan zaman, bandrek pun ikut berevolusi.
Kini banyak variasi modern bermunculan, mulai dari bandrek susu (campuran bandrek dengan susu kental manis), bandrek kelapa muda, hingga bandrek durian yang unik dan menggoda.
Bahkan, versi instan dalam bentuk serbuk juga mudah ditemukan di pasaran.
Meski praktis, para penikmat sejati tetap sepakat: tidak ada yang bisa menandingi kelezatan bandrek tradisional yang dibuat dari bahan segar dan direbus langsung.
Bagi kamu yang ingin mencoba membuatnya di rumah, berikut resep bandrek tradisional khas Sunda yang mudah dan vegan-friendly:
Bahan:
- 100 gram jahe tua, cuci bersih dan keringkan
- 50 gram gula aren
- 1 sdm gula pasir
- 4 butir cengkeh
- 5 cm kayu manis
- 2 lembar daun pandan, potong kecil
- Sejumput garam
- 500 ml air
Cara membuat:
- Bakar jahe di atas api hingga agak gosong, lalu dinginkan dan memarkan.
- Masukkan semua bahan ke dalam panci: jahe, gula aren, gula pasir, cengkeh, kayu manis, daun pandan, garam, dan air.
- Rebus perlahan dengan api kecil hingga mendidih.
- Setelah mendidih, teruskan perebusan selama 5 menit agar semua rempah meresap sempurna.
- Saring dan sajikan selagi hangat.
Catatan:
Gunakan jahe tua agar rasa bandrek lebih kuat dan hangat. Jahe muda cenderung lebih lembek dan rasanya kurang tajam.
Kini, bandrek tak hanya menjadi penghangat di tengah dinginnya malam, tetapi juga simbol kehangatan budaya Sunda yang terus bertahan lintas generasi.
Di tengah derasnya arus modernisasi, secangkir bandrek tetap menjadi pengingat sederhana bahwa kehangatan sejati datang dari tradisi dan alam. (*)
Editor : Amin Fauzie