Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Street Food vs Fine Dining: Tahun 2025, Netizen Lebih Pilih Nongkrong di Kaki Lima atau Restoran Mewah?

Arinie Khaqqo • Kamis, 25 September 2025 | 12:55 WIB
Street food alias jajanan kaki lima makin merajai saat ini, dari warung tenda, gerobak pinggir jalan, sampai food stall estetik, semuanya jadi buruan kuliner. Foto adalah ilustrasi.
Street food alias jajanan kaki lima makin merajai saat ini, dari warung tenda, gerobak pinggir jalan, sampai food stall estetik, semuanya jadi buruan kuliner. Foto adalah ilustrasi.

RADARBONANG.ID – Kalau dulu makan di restoran fine dining jadi simbol prestise, sekarang ceritanya bisa berbeda.

Tahun 2025, justru street food alias jajanan kaki lima makin merajai hati netizen.

Dari warung tenda, gerobak pinggir jalan, sampai food stall estetik, semuanya jadi buruan kuliner.

Tapi, benarkah fine dining mulai kalah pamor? Atau justru tetap punya tempat khusus untuk kalangan tertentu?

Street Food: Murah, Meriah, Viral!

Fenomena street food di Indonesia nggak ada matinya.

Dari cilok, seblak, sate taichan, sampai nasi goreng gerobak, semuanya punya pasar loyal.

Harga terjangkau, rasa juara, plus sensasi autentik bikin makanan kaki lima selalu dicari.

Apalagi di era TikTok dan Instagram, street food gampang viral.

Konten jajanan murah meriah sering kali justru lebih menarik ketimbang review restoran mewah.

“Street food itu relatable, semua orang bisa coba,” komentar akun kuliner @jajanlokal di TikTok.

Fine Dining: Eksklusif, Estetik, dan Gengsi

Meski begitu, bukan berarti fine dining ditinggalkan.

Restoran mewah dengan plating cantik, ambience elegan, dan menu ala chef internasional tetap jadi magnet, terutama buat mereka yang mencari pengalaman, bukan sekadar makan.

Fine dining juga masih jadi pilihan untuk momen spesial: lamaran, anniversary, atau jamuan bisnis.

Mana yang Lebih Dicari Netizen 2025?

Riset dari beberapa platform kuliner menunjukkan tren menarik: pencarian street food naik 60%, terutama di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Sedangkan fine dining cenderung stagnan, hanya ramai di kalangan tertentu.

Street Food Naik Kelas?

Yang unik, banyak street food kini berevolusi jadi lebih estetik.

Dari warung kopi tenda dengan konsep industrial, sampai angkringan modern dengan menu fusion.

Hal ini bikin street food nggak lagi dianggap murahan, tapi justru trendi.

Sementara itu, fine dining pun ikut beradaptasi.

Beberapa restoran mewah kini memasukkan menu lokal street food dalam versi premium—contohnya sate lilit, rawon, atau bahkan nasi uduk.

Semua Balik ke Selera

Pada akhirnya, baik street food maupun fine dining punya pasar masing-masing.

Netizen yang cari kenyamanan, kehangatan, dan harga ramah dompet akan tetap jatuh cinta pada kaki lima.

Sedangkan yang ingin eksklusivitas, estetika, dan prestige akan memilih restoran fine dining.

Jadi, kalau ditanya mana yang lebih dicari di 2025? Jawabannya: street food unggul di jumlah pencari, tapi fine dining tetap tak tergantikan untuk momen spesial. (*)

Editor : Amin Fauzie
#street food #jajanan kaki lima #kuliner #Fine Dining