RADARBONANG.ID – Kalau dulu makan enak cukup bikin kenyang, kini cerita berbeda untuk generasi Z.
Buat mereka, kuliner bukan sekadar urusan lidah, tapi juga visual, pengalaman, dan identitas diri.
Nggak heran kalau kafe dengan konsep unik, minuman warna-warni, sampai plating cantik selalu ramai diunggah ke Instagram atau TikTok.
Pertanyaannya, kenapa Gen Z lebih suka kuliner yang estetik? Apakah rasa jadi nomor dua?
Kuliner Sebagai Konten
Gen Z tumbuh di era digital, di mana makanan bukan cuma dimakan, tapi juga difoto dan dibagikan.
Menu yang cantik otomatis jadi bahan konten media sosial.
Semakin estetik tampilannya, semakin besar peluang viral.
Kuliner jadi bagian dari personal branding — “You are what you eat (and post)”.
Psikologi di Balik Makanan Instagramable
Menurut pakar gaya hidup, ada faktor psikologis yang bikin Gen Z terpikat pada kuliner estetik:
- Dopamin dari visual. Warna cerah, bentuk unik, atau plating cantik bisa memicu rasa senang.
- FOMO (Fear of Missing Out). Jika ada kuliner viral, mereka merasa perlu mencoba biar nggak ketinggalan tren.
- Identitas sosial. Memilih kafe atau makanan estetik dianggap mencerminkan gaya hidup modern dan kekinian.
Apakah Rasa Jadi Nomor Dua?
Meski tampilan jadi magnet utama, bukan berarti rasa diabaikan.
Justru, makanan yang estetik + enak punya peluang besar untuk bertahan lama.
Buktinya, banyak kafe atau brand minuman yang viral karena kombinasi visual menarik dan rasa yang bikin nagih.
Sebaliknya, kuliner yang cuma estetik tanpa rasa memuaskan biasanya hanya bertahan sebentar.
Tren Kuliner Estetik yang Digandrungi Gen Z
Minuman warna-warni dengan topping lucu (cloud latte, boba rainbow, matcha latte berlayer).
Dessert artsy seperti croissant lava, souffle pancake, hingga gelato aesthetic.
Kafe tematik dengan interior Instagramable yang jadi tujuan hangout sekaligus spot foto.
Bagi Gen Z, kuliner estetik adalah kombinasi antara pengalaman, identitas, dan hiburan visual.
Jadi, bukan sekadar soal rasa, tapi juga bagaimana makanan itu bisa jadi cerita dan gaya hidup yang ditampilkan di media sosial.
Singkatnya, makan enak itu penting, tapi kalau bisa enak dan estetik, kenapa harus pilih salah satu? (*)
Editor : Amin Fauzie