RADARBONANG - Entah sejak kapan tepatnya, dunia perkulineran kita makin hijau. Tapi bukan karena sayur atau pola hidup sehat, melainkan karena satu nama: Matcha.
Iya, matcha yang warnanya hijau, rasanya pahit-manis-tajam itu. Matcha yang awalnya cuma dikenal sebagai turunan dari teh hijau, kini udah berubah jadi raja topping dan ratu varian.
Mulai dari minuman, makanan penutup, sampai makanan panas—semua dipaksa berdamai dengan bubuk hijau ini. Dan yang paling mencengangkan: sekarang ada seblak matcha.
Matcha Itu Apa Sih?
Biar nggak salah kaprah, mari bedakan dulu. Matcha itu beda dengan teh hijau biasa.
Kalau teh hijau diseduh dari daun yang dikeringkan, matcha adalah daun teh hijau yang ditumbuk sampai halus.
Rasanya juga beda. Teh hijau biasanya sepat dan ringan, sementara matcha punya rasa pahit, manis, dan sedikit ‘earthy’.
Pokoknya, rasa yang cukup nendang dan kadang bikin orang mikir dua kali.
Tapi itulah daya tariknya. Matcha bukan rasa yang ‘netral’. Kalau kamu cocok, kamu bisa jatuh cinta.
Tapi kalau kamu nggak kuat, kamu bakal bilang, “Ini minum teh atau minum lumut sih?”
Matcha, di Sini, di Sana, di Mana-Mana
Awalnya, matcha cuma muncul di gelas-gelas kopi modern. Latte matcha. Kopi susu matcha. Teh tarik matcha.
Lama-lama, ia naik kelas jadi bahan utama dessert: es krim, cookies, cake, puding, sampai churros.
Tapi ternyata matcha nggak berhenti di makanan manis. Ia masuk ke wilayah-wilayah yang tak pernah kita bayangkan: ramen matcha misalnya.
Kuah gurih ketemu bubuk teh? Ya Allah, konsepnya aneh, tapi katanya laris.
Belum cukup? Sekarang ada juga seblak matcha. Matcha ketemu kerupuk pedas dan kencur. Apa nggak saling jegal rasanya?
Tapi ya begitulah tren. Kadang logika kalah sama penasaran. Dan kalau laris, ya sah-sah aja, kan?
Kenapa Matcha Bisa Seboom Ini?
Alasannya sederhana: orang Indonesia suka mencoba hal baru, apalagi yang bisa difoto dan diposting ke story.
Matcha punya warna hijau yang “sehat”, tapi juga estetik. Rasanya juga kuat. Yang suka bisa ketagihan, yang nggak suka bisa muntah batin.
Tapi tetap aja, mereka semua nyobain dulu, baru komentar.
Dan jujur, matcha itu punya citra “premium”. Mau jualan cookies biasa? Tambahin matcha, naik harga bisa dua kali lipat. Mau jualan teh tarik? Campur matcha, langsung viral.
Makanan yang Memecah Belah Bangsa
Pada akhirnya, matcha ini kayak durian atau petai. Bukan soal enak atau enggak, tapi soal kamu tim mana.
Tim “gilaaa enak parahh!!” atau tim “apaan sih ini, kok kayak makan tanah?”
Tapi satu hal yang pasti, matcha adalah bukti bahwa tren bisa datang dari rasa yang nggak semua orang suka.
Asal dibungkus cantik, diberi nama keren, dan dipopulerkan di media sosial, semua bisa jadi menu kekinian.
Kalau nanti ada rawon matcha atau pecel lele matcha, ya kita tinggal nunggu waktu aja. Dunia kuliner emang nggak pernah kekurangan ide… atau eksperimen yang bikin heran. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama