RADARBONANG- Sayur lodeh jadi salah satu kuliner tradisional Indonesia yang memiliki akar kuat di wilayah Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta.
Masakan berkuah santan ini tak hanya lezat, tetapi juga kaya akan nilai sejarah dan budaya.
Jejak sayur lodeh diperkirakan telah ada sejak abad ke-10, berawal dari bencana letusan Gunung Merapi pada tahun 1006.
Kala itu, masyarakat menciptakan sayur lodeh menggunakan tujuh bahan utama untuk bertahan di masa sulit.
Namun, sejarawan Fadly Rahman menyebut bahwa sayur lodeh mulai berkembang sekitar abad ke-16 hingga 17, ketika bangsa Portugis dan Spanyol memperkenalkan jagung dan kacang panjang ke Nusantara.
Sejak saat itu, masyarakat mulai menggabungkan bahan-bahan tersebut dalam masakan santan.
Legenda sayur lodeh makin dikenal luas pada abad ke-20, terutama ketika Sultan Hamengkubuwono VIII memerintahkan rakyatnya untuk memasak sayur lodeh dan berdiam di rumah selama 45 hari guna menangkal wabah pes.
Tradisi ini dipercaya membantu meredakan wabah yang melanda selama lebih dari dua dekade.
Makna filosofis sayur lodeh pun tak kalah menarik. Berdasarkan unggahan akun Instagram @omahcantrik, tujuh bahan dalam sayur lodeh ternyata memiliki simbolisme mendalam:
Kluwih: Simbol pentingnya keluarga dalam memberi nasihat dan perhatian.
Cang gleyor: Seruan agar tidak bepergian sembarangan.
Terong: Ajakan untuk terus meningkatkan ibadah.
Kulit melinjo: Mengingatkan agar memahami wabah secara mendalam, bukan hanya permukaannya.
Waluh: Motivasi untuk menghilangkan keluhan dan tetap semangat.
Godong so: Lambang doa bersama dengan orang-orang saleh dan berilmu.
Tempe: Penekanan pada kesungguhan dalam memohon pertolongan Tuhan.
Sayur lodeh bukan sekadar hidangan, tapi cermin dari nilai-nilai spiritual dan sosial masyarakat Jawa.
Dengan memahami sejarah serta filosofi di baliknya, kita bisa lebih menghargai kuliner nusantara sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni