Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Menelusuri Akar Sejarah Tempe: Dari Meja Makan Nusantara ke Pengakuan Dunia

Amaliya Syafithri • Rabu, 4 Juni 2025 | 18:28 WIB
Tempe, makanan khas Indonesia yang sederhana namun penuh filosofi
Tempe, makanan khas Indonesia yang sederhana namun penuh filosofi

RADARBONANG- Tempe jadi salah satu panganan khas Indonesia yang identik dengan kesan sederhana, menyimpan kisah sejarah yang panjang dan sarat makna budaya.

Meskipun sering dijumpai di pasar, warung, hingga restoran, tak banyak yang tahu bahwa tempe merupakan bagian dari warisan kuliner yang telah melekat erat dalam sejarah bangsa.

Akun Instagram @omahcantrik membagikan informasi menarik tentang asal-usul tempe, yang lebih dari sekadar bahan makanan.

Tempe sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia selama lebih dari tiga abad, terutama sebagai sumber protein yang terjangkau. B

iasanya dibuat dari fermentasi kedelai selama 24 hingga 72 jam, kini tempe juga mulai dibuat dari berbagai jenis kacang-kacangan dan biji-bijian.

Catatan tertua mengenai tempe ditemukan dalam Serat Centhini, karya sastra Jawa yang terdiri dari 12 volume dan diterbitkan pada tahun 1814.

Dalam jilid ke-3 hingga ke-12, tempe disebut dalam beragam resep tradisional seperti jae santen tempe dan kadhele tempe srundengan.

Sajian seperti sambal tumpang, yang berbahan dasar tempe tua, juga menjadi bagian dari dokumentasi kuliner masa itu.

Beberapa pendapat menyebutkan bahwa asal mula tempe bahkan bisa ditelusuri lebih jauh.

Dikatakan bahwa teknik fermentasi kedelai dibawa oleh pedagang dari Tiongkok dan Asia lainnya ke Pulau Jawa, yang kemudian diadaptasi menjadi tempe.

Menariknya, kata "tempe" diduga berasal dari "tumpi," makanan berwarna putih yang memiliki tampilan serupa.

Tempe juga sarat dengan nilai filosofis dalam budaya Jawa. Tiga nilai utama yang terkandung dalam tempe adalah kesederhanaan, keharmonisan, dan kerendahan hati.

Proses pembuatan tempe kerap melibatkan banyak anggota keluarga, yang mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan.

Penggunaan daun jati sebagai pembungkusnya dahulu kala juga menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan.

Lebih dari itu, tempe juga memiliki nilai spiritual. Ungkapan Jawa "yen atine resik, tempene apik" yang berarti "kalau hati bersih, maka tempenya akan baik".

Hal ini menunjukkan bahwa kualitas tempe juga dipengaruhi oleh niat tulus dan kesabaran pembuatnya.

Saat ini, tempe tak hanya digemari di tanah air, namun juga telah menembus pasar global.

Diproduksi oleh sekitar 150.000 unit usaha di berbagai daerah, tempe menyumbang sekitar 10% dari kebutuhan protein masyarakat Indonesia.

Melihat nilai gizi dan budayanya yang tinggi, pemerintah Indonesia mengusulkan agar tempe diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia (intangible cultural heritage).

Langkah ini menjadi bentuk komitmen untuk melestarikan identitas budaya nasional dan meningkatkan kesadaran masyarakat, baik dalam maupun luar negeri, tentang pentingnya tempe.

Sebagai bangsa yang kaya akan tradisi, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan tempe sebagai bagian dari kekayaan warisan leluhur.

Lebih dari sekadar makanan sehari-hari, tempe adalah simbol dari karakter bangsa: sederhana, kaya rasa, dan penuh makna sejarah. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#sejarah #tempe #warisan budaya #kuliner #indonesia #unesco