TUBAN-Ampo, salah satu makanan tradisional khas Tuban tidak dibuat dari sembarang tanah liat.
Tanah liat yang dipakai jenis tanah liat hitam yang bersih dan bebas kotoran.
Tanah liat murni inilah yang diolah tanpa campuran bahan lain.
Membuat ampo dengan tanah sembarangan dapat berdampak buruk.
Untuk meminimisir dampak buruk dari ketidaksengajaan dalam pemilihan tanah, warga melakukan pembakaran yang lama supaya bakteri jahat dapat hilang.
Camilan atau makanan ringan ini banyak dikonsumsi para wanita hamil yang ngidam. Juga sering jadi kudapan pada musim panen dan sedekah bumi.
Selain di Tuban, ampo dapat ditemukan di Cirebon, Jawa Barat. Ampo di Tuban dan Cirebon memiliki bentuk yang berbeda.
Ampo Tuban berbentuk seperti kue roll tipis dan kecil.
Meski bentuknya juga roll, ukuran ampo Cirebon lebih besar.
Bagi yang terbiasa menyantap ampo, rasa kudapan ini seperti kacang. Berbeda dengan yang belum pernah mencoba, ampo terasa aneh. Namun, setelah menelannya, perut terasa sejuk.
Camilan ampo dibuat dari campuran tanah liat pilihan dengan air. Kedua bahan tersebut diolah hingga kalis dan dibentuk kotak.
Setelah itu, tanah liat tersebut diletakkan pada sebuah nampan dan diserut menggunakan pisau sampai berbentuk roll.
Setelah berbentuk roll, ampo dijemur. Selanjutnya, ampo kering tersebut dipanggang minimal selama kurang lebih 30 menit.
Untuk mendapatkan rasa yang nikmat, konsumsi camilan ini bersama kopi dan teh hangat.
Kebiasaan memakan ampo tidak hanya ditemukan di Indonesia saja.
Banyak masyarakat di negara tropis lain juga mengonsumsi kudapan dari tanah liat ini.
Pada zaman penjajahan, kudapan ini merupakan camilan yang istimewa. Itu karena warga sangat sulit mendapatkan makanan yang layak.
Mulanya, camilan ini dibuat dari tanah liat Bengawan Solo.
Kebiasaan memakan tanah liat dapat disebut geofagi.
Sebagian warga lokal Tuban memercayai jika ampo dapat menjadi obat. Itu karena camilan ini berdampak baik bagi usus.
Ampo dapat menghilangkan beberapa bakteri jahat pada usus. (*)
Editor : Amin Fauzie