TUBAN-Sebagai kota tua yang berumur lebih dari 700 tahun, Tuban memiliki kekayaan sejarah dan khasanah budaya kearifan lokal.
Salah satu kekayaan kuliner yang menarik untuk dijelajahi dan patut dicoba adalah ampo.
Ampo bukan sekadar camilan biasa. Di balik kuliner berbahan tanah yang menurut sebagian orang terasa lezat tersebut terdapat cerita yang menarik tentang asal-usulnya.
Menurut catatan sejarah, tradisi mengonsumsi ampo di Tuban berkembang pesat pada masa penjajahan.
Pada masa itu, pasokan makanan sering kali sulit diperoleh.
Kondisi tersebut memaksa masyarakat untuk mencari alternatif lain. Salah satu sumber makanan yang digunakan adalah endapan tanah aluvial dari tepian Sungai Bengawan Solo.
Sampai sekarang, Dusun Traulan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding masih menjadi salah satu sentra produksi ampo.
Meski ampo dapat ditemukan di Tuban maupun Cirebon, namun keduanya memiliki perbedaan yang mencolok, terutama bentuknya.
Ampo khas Cirebon cenderung memiliki bentuk gulungan yang lebih besar.
Sedangkan ampo Tuban memiliki ukuran yang lebih kecil.
Harga ampo khas Tuban sangat terjangkau, hanya sekitar Rp 10 ribu per kilogram.
Selain sebagai camilan, ampo juga sering dijadikan sebagai pelengkap dalam berbagai acara budaya, seperti sedekah bumi, slamatan, atau upacara ritual menyambut panen.
Proses pembuatan ampo dimulai dengan mencampurkan tanah dengan air.
Selanjutnya, menciptakan adonan yang kemudian diuleni hingga kalis dan dibentuk menjadi kotak besar.
Teknik pembuatan ini telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, menandakan pentingnya peran ampo dalam kehidupan masyarakat Tuban.
Proses pembuatan ampo melibatkan tahapan yang cermat dan teliti. Dimulai dari pemilihan bahan baku hingga tahap pemanggangan.
Tanah liat yang digunakan harus bersih dan tidak terkontaminasi kotoran hewan atau parasit lainnya.
Hal ini menjadikan proses pemilihan tanah sebagai langkah awal sangat penting.
Proses pembuatan ampo dimulai dengan tahap pemadatan tanah liat yang sudah dipilih secara cermat.
Tanah liat tersebut kemudian disimpan selama beberapa hari untuk memungkinkan proses fermentasi alami yang dapat meningkatkan kualitasnya.
Setelah tanah liat menggumpal, tahap selanjutnya melibatkan penggunaan alat tradisional, seperti bambu tajam untuk mengikis tanah liat menjadi gulungan tipis yang mirip dengan stik atau astor.
Kemudian, gulungan-gulungan tipis tersebut dipanggang pada tungku selama sekitar 15 hingga 20 menit.
Terpenting dalam proses pemanggangan tersebut yang dibutuhkan hanyalah panas dari asap, bukan api, sehingga tungku harus dikendalikan dengan hati-hati.
Setelah dipanggang hingga matang, ampo kemudian ditiriskan terlebih dahulu sebelum disajikan.
Tidak jarang, ampo khas Tuban menjadi buruan bagi ibu-ibu hamil yang sedang mengidam, menambah nilai dan popularitasnya di kalangan masyarakat setempat.
Dengan proses pembuatan yang terjaga dan rasa yang otentik, ampo khas Tuban menjadi salah satu camilan yang patut dicoba bagi siapa pun yang mengunjungi kota ini. (*)