Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Keripik Daun Jati dari Tuban. Paling Sulit Mengolah Tekstur Kasarnya

Kifani Amalija Putri • Rabu, 31 Januari 2024 - 17:00 WIB

Ivon Mey Rinda bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ketika mengikuti pelatihan ekonomi kreatif di Jember.
Ivon Mey Rinda bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ketika mengikuti pelatihan ekonomi kreatif di Jember.
 
TUBAN- Kudapan ekstrem keripik daun jati dari Tuban, Jawa Timur merupakan produk yang membutuhkan pengolahan khusus.

Ivon Mey Rinda, produsen keripik daun jati mengatakan, menjadikan daun jati sebagai keripik harus mampu ''menaklukkan'' tekstur kasarnya. Plus permukaannya yang berbulu.

Untuk menghaluskan, kata dia, harus lebih dulu merebusnya setelah menyuci bersih.

Perebusan tersebut sekaligus untuk menghilangkan kandungan berbahaya pada daun tersebut.  

''Setelah teksturnya lunak, saya tinggal membalutnya dengan tepung seperti membuat rempeyek,'' ujar dia yang merahasiakan racikan bumbu tepung pembalutnya.

Perempuan berjilbab itu mengaku tidak memilih daun jati jenis tertentu.

Dia menyebut semua jenis daun jati bisa diolah menjadi keripik.

Hanya saja, daun yang dipilih tidak terlalu tua maupun terlalu muda.

Setelah home industry yang dirintis memiliki pasar, perempuan lulusan administrasi negara Universitas Terbuka Tuban itu harus memproduksi dalam jumlah besar.

''Sehari rata-rata menghabiskan 5 kilogram (kg) daun jati,'' tuturnya.

Kalau banyak pesanan, Ivon mengaku harus mendatangkan daun jati dari tetangga kampungnya.

Sebelum produknya dikenal, kata dia, banyak masyarakat yang gamang membeli keripik daun jatinya.  

Terlebih, di Tuban daun ini banyak dipakai pembungkus nasi pecel.

''Tidak salah kalau mereka membayangkan menyatap nasi pecel sekalian bungkusnya,'' ujar ibu tiga anak itu terkekeh.

Setelah beberapa konsumennya merasakan keunikan dan kekhasan keripik daun jatinya, lanjut Ivon, mereka ketagihan.  

Dia mengungkapkan keripik daun jati dengan kemasan modern plastik berklip dipasarkan di sejumlah kabupaten/kota di Jatim.

Pasar berikutnya dirambah Bekasi, Jakarta, hingga Kalimantan.

''Alhamdulillah, usaha saya ini beromzet jutaan rupiah per bulan,'' ujarnya.

Agar bisa dinikmati semua kalangan, Ivon mengaku memproduksi dengan tiga varian rasa, yakni rasa original, pedas bawang goreng, dan pedas nori.

Per kemasan keripik daun jati dibanderol dengan harga Rp 10.000 sampai Rp 12.500.

Dengan produk antimainstreamnya tersebut, Ivon dikenal di kalangan pengusaha luar daerah.

Bahkan, dia pernah diundang untuk mengikuti pelatihan ekonomi kreatif di Jember yang dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. (*)

DIKAWAL KETAT: Gelandang Persebaya Bruno Moreira dihadang pemain PSIS Semarang.
DIKAWAL KETAT: Gelandang Persebaya Bruno Moreira dihadang pemain PSIS Semarang.
Editor : Amin Fauzie
#Ekstrem #Keripik Daun Jati