Jangan Anggap Sepele Begadang, Ini Peringatan Dr. Tirta soal Risiko Penyakit Kronis

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:46 WIB
Ilustrasi seseorang yang kelelahan akibat begadang karena kerja. (unsplash.com/ vitaly gariev)
Ilustrasi seseorang yang kelelahan akibat begadang karena kerja. (unsplash.com/ vitaly gariev)

RADARBONANG.ID – Kebiasaan begadang dan kurang tidur kerap dianggap wajar, terutama di kalangan anak muda dan pekerja dengan jadwal padat.

Padahal, tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh, memulihkan energi, serta mendukung kesehatan fisik dan mental.

Dokter sekaligus pengusaha dr. Tirta Mandira Hudhi mengulas bahaya begadang melalui segmen Suaratirta di kanal YouTube Tirta PengPengPeng bertajuk Bahaya Begadang untuk Kesehatan.

Baca Juga: Bukan Cuma Skincare, 9 Makanan Ini Bantu Jaga Kesehatan dan Kecerahan Kulit

Dalam penjelasannya, dr. Tirta menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan tidur harian.

Orang dewasa umumnya dianjurkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam, meskipun kebutuhan setiap orang dapat berbeda.

Saat tidur, tubuh menjalankan berbagai proses pemulihan. Proses tersebut mendukung perbaikan jaringan, fungsi kekebalan tubuh, serta pengaturan metabolisme.

Kurang tidur yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu proses tersebut dan berkaitan dengan peningkatan risiko sejumlah masalah kesehatan.

“Ketika kamu begadang dan kurang tidur, akibat utamanya adalah tubuh tidak memiliki waktu untuk recovery yang cukup. Sel-sel rusak menumpuk dan tidak sempat diperbaiki. Kalau diteruskan, jantung mengalami over kerja dan ini meningkatkan risiko kanker, hipertensi, stroke, hingga gagal jantung,” tegas dr. Tirta.

Jangan Korbankan Kesehatan demi Kebiasaan Begadang

Dr. Tirta turut mengingatkan pekerja muda dan orang-orang yang menjalani sistem kerja bergiliran atau shift, seperti tenaga medis dan petugas keamanan, agar memanfaatkan waktu libur untuk memulihkan kondisi tubuh.

Jadwal kerja yang tidak teratur dapat membuat seseorang kesulitan mendapatkan waktu tidur yang cukup.

Karena itu, pekerja shift perlu mengatur waktu istirahat sebaik mungkin dan menjaga lingkungan tidur tetap nyaman.

Dampak kurang tidur juga tidak selalu langsung terasa. Seseorang mungkin masih mampu menjalankan aktivitas seperti biasa meskipun waktu tidurnya terbatas.

Namun, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan kelelahan, menurunkan konsentrasi, serta mengganggu kemampuan tubuh mengatur berbagai fungsi biologis.

“Hati-hati buat kalian yang hobi begadang, karena kamu justru sedang menabung penyakit di tubuhmu untuk masa tua 10 sampai 20 tahun lagi. Buat apa cari uang terus-menerus kalau nantinya kena stroke atau gagal jantung di usia 40-an hanya karena kesalahan yang dibuat sendiri,” ingat dr. Tirta.

Pesan tersebut menjadi pengingat agar pekerjaan dan aktivitas lain tidak terus-menerus menggeser kebutuhan tidur.

Menjaga waktu istirahat merupakan bagian dari upaya memelihara kesehatan dalam jangka panjang.

Tips Sederhana untuk Menjaga Kualitas Tidur

Untuk mendukung tidur yang berkualitas, dr. Tirta menyarankan masyarakat memperhatikan kondisi kamar, termasuk mematikan lampu saat tidur.

Ruangan yang gelap dapat membantu tubuh mengenali waktu istirahat dan mendukung pengaturan ritme sirkadian, yakni jam biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun.

Selain itu, ada beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan untuk menjaga kualitas tidur:

Rasa kantuk merupakan salah satu sinyal alami bahwa tubuh membutuhkan istirahat.

Jika kantuk berlebihan atau gangguan tidur terus terjadi meskipun waktu tidur sudah cukup, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui penyebabnya.

Dengan membiasakan pola tidur yang teratur, masyarakat dapat mendukung pemulihan tubuh sekaligus menjaga konsentrasi dan kebugaran untuk menjalani aktivitas sehari-hari. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
pemulihan fungsi biologis kurang tidur begadang kelelahan